Sukanto Tanoto Rela Bersusah-susah Demi Sukses Jangka Panjang


Kesuksesan di mata pengusaha Sukanto Tanoto tidak bisa diraih begitu saja. Di balik itu dia percaya pasti ada kerja keras. Oleh sebab itu, pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini mau bersusah-susah dahulu demi keberhasilan pada jangka panjang.

Sukanto Tanoto berhasil membuktikan bahwa kesuksesan memang berawal dari kemauan bekerja keras. Ia rela bersusah-susah dahulu membesarkan RGE. Kini, hasilnya sudah terlihat jelas.

RGE dikenal sebagai korporasi kelas internasional yang sukses. Dengan aset sebesar 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan karyawan hingga 60 ribu orang, mereka bergelut dalam bidang pemanfaatan sumber daya.

Saat ini, RGE memiliki sejumlah anak perusahaan di berbagai bidang industri berbeda. Unit bisnis grup yang berdiri pada 1967 ini ada yang bergelut di sektor pulp dan kertas, kelapa sawit, selulosa spesial, viscose fibre, serta minyak dan gas. Perusahaan itu tidak hanya ada di Indonesia. Mereka juga ada di Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Eropa.

Kisah RGE memang memperlihatkan kerja keras yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto. Ia benar-benar membangunnya dari nol hingga besar seperti sekarang.

Bayangkan saja, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini bukanlah orang berada yang dilimpahi modal berkecukupan. Ia hanya seorang anak sulung dari tujuh bersaudara dalam sebuah keluarga sederhana. Sang ayah menghidupi keluarga dengan berjualan minyak dan onderdil mobil di Medan, Sumatera Utara.

Kehidupan Sukanto Tanoto tidak bisa dibilang berlebih. Sebaliknya, jalan hidup yang berat mesti dialami. Hal itu sudah dirasakannya sejak usia muda. Lihat saja, pria kelahiran Belawan ini mesti putus sekolah karena sekolahnya ditutup akibat peristiwa G30S.

Sial, karena sang ayah masih berstatus sebagai warga negara asing, Sukanto Tanoto tidak bisa melanjutkan sekolah ke sekolah negeri. Tak lama kemudian, kemalangannya bahkan bertambah. Saat ini belum genap 18 tahun, sang ayah sakit hingga ia harus mengambil tanggung jawab menghidupi keluarga. Jadilah Sukanto Tanoto turun mengambil peran sebagai pengelola toko untuk menyambung hidup.

Namun, di balik setiap kejadian pasti ada hikmah yang dipetik. Kehidupan berat yang membawanya terjun ke bisnis dalam usia muda menjadi pelajaran penting. Sukanto Tanoto jadi mengenal dunia usaha dengan baik sejak dini. Pada akhirnya, ini menjadi bekal baginya untuk membesarkan RGE.

Selama itu pula Sukanto Tanoto tahu bahwa kerja keras merupakan jalan kesuksesan. Tanpa itu, tidak mungkin keberhasilan dapat diraih, termasuk dalam dunia usaha.

Oleh sebab itu, Sukanto Tanoto selalu rela bekerja keras karena ingin meraih kesuksesan. Ia memperlihatkannya dalam perjalanan bisnisnya. Lihat saja, sebelum menekuni bisnis sumber daya, Sukanto Tanoto menggeluti bisnis general contractor & supplier. Ini disebutnya sebagai sekolah teknik dalam berbisnis.

Banyak pelajaran yang didapat di sana. Maklum saja, Sukanto Tanoto harus melakukan berbagai pekerjaan berbeda karena perusahaannya menjalankan berbagai jenis proyek. Mereka pernah harus membangun rumah, memasang air conditioner, membuat jalan dan jembatan, hingga menyambungkan pipa maupun memugar lapangan golf.

Sebelumnya Sukanto Tanoto tidak tahu sama sekali tata cara pembuatannya. Namun, ia mau bekerja keras untuk belajar. Tanpa malu, suami Tinah Bingei Tanoto ini mau bertanya ke siapa saja untuk menjalankan pekerjaan demi baik. Ke pegawainya pun ia tidak merasa gengsi untuk mempelajari sejumlah hal.

Bahkan, ketika sudah sukses pun, Sukanto Tanoto tidak mau berpuas diri. Menjadi miliuner pada usia muda tidak membuatnya berhenti mencari tantangan baru. Ia malah mendirikan RGE dengan nama awal Raja Garuda Mas pada 1967 dengan harapan memberi jaminan penghidupan kepada para karyawannya.

SELALU MEMILIH KERJA KERAS

Sukanto Tanoto

Image Source: Sukantotanoto.net

Bersama RGE, Sukanto Tanoto semakin memperlihatkan semangat untuk mau bekerja keras. Ia tidak pernah memilih jalan mudah yang belum tentu membuahkan hasil. Baginya lebih baik bersusah-susah dahulu karena yakin keberhasilan akan menanti.

Ketika merintis perusahaan kelapa sawit Asian Agri, Sukanto Tanoto memperlihatkan prinsip tersebut. Dulu tidak ada yang mau menjalani bisnis kelapa sawit.

Apa sebabnya? Kerja keras dan kesabaran ekstra harus dimiliki oleh pebisnis yang menjalaninya.

Saat hendak membangun pabrik kelapa sawit, banyak sekali tahapan yang harus dilalui. Pertama, pengusaha harus membangun perkebunan dahulu. Di sana kelapa sawit ditanam dan ditunggu hingga tiga tahun baru bisa dipanen.

Selama itu, pabrik bisa dibangun. Namun, belum ada pemasukan yang diperoleh. Bahkan, dana harus dikeluarkan untuk pembangunan ataupun operasional perkebunan.

“Kerja di kebun itu napasnya harus panjang. Karena tanam sawit panen bisa tiga tahun, paling sedikit dua tahun berbuah, jadi bisa lima tahun, harus pandai kelola cashflow,” kata Sukanto Tanoto.

Tidak aneh langkahnya mendirikan pabrik kelapa sawit di Indonesia mengundang cibiran. Banyak orang yang mempertanyakan keputusan Sukanto Tanoto. Namun, ia tidak mau menyerah terhadap tantangan. Sikap skeptis dari pihak lain malah dijadikannya bahan untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Benar saja, kini Asian Agri menjadi salah produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia. Mengelola perkebunan seluas 160 ribu hektare, mereka mampu menghasilkan satu juta ton crude palm oil per tahun.

Keberhasilannya dalam mendirikan APRIL Group juga tidak berbeda jauh. Terlihat jeas bahwa Sukanto Tanoto mau bekerja keras. Maklum saja, sebelumnya, ia pernah gagal dalam mengelola perusahaan pulp dan kertas.

Dulu Sukanto Tanoto pernah merintis perusahaan pulp dan kertas di Sumatera Utara. Namun, saat itu, ia belum terlalu memahami detail operasional. Akibatnya pengolahan limbah tidak maksimal. Ini membuatnya perusahaannya berhenti beroperasi.

Akan tetapi, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Ia mau kembali bersusah-susah mendirikan perusahaan serupa di Pangkalan Kerinci, Riau, yakni APRIL.

Sukanto Tanoto mau belajar dari kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Ia memperbaiki kekurangan dan lebih memperhatikan detail. Hasilnya bisa terlihat seperti sekarang. APRIL menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia.

Sekarang, anak perusahaan RGE itu mampu menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton. Semua masih ditambah dengan kertas sebesar 1,15 juta ton dalam kurun waktu yang sama. Keberhasilan itu kembali memperlihatkan bahwa keberanian untuk bekerja keras menjadi kunci.

Semangat ini yang hendak ditularkan oleh Sukanto Tanoto kepada siapa saja. Salah satu putrinya, Belinda Tanoto, mengakui bahwa ayahnya merupakan sosok pekerja keras. Karakter itulah yang ingin diwarisinya dan terus dibawa sampai kapan pun.

“Dari awal yang sederhana, ia mampu membangun bisnis yang berkembang. Dari skala lokal, menuju level nasional, regional, hingga akhirnya menjadi bisnis global. Saya kira hal terbesar yang dapat saya pelajari darinya adalah spirit kegigihan dan kerja keras. Itulah semangat kewirausahaan yang kami apresiasi dan hendak kami lestarikan untuk ditularkan ke generasi mendatang,” kata Belinda Tanoto.

Benar saja, tanpa kerja keras, RGE bisa jadi tidak akan sebesar sekarang. Beruntung Sukanto Tanoto mau menyingsingkan lengan untuk mengelolanya.