Keberanian yang Membuat Sukanto Tanoto Lepas Dari Krisis

Sebagai pebisnis yang berpengalaman, Sukanto Tanoto tahu persis suka duka perjalanan mengelola usaha. Ia paham bahwa semua tidak selalu berjalan mulus, bahkan mungkin sekali ada krisis. Namun, hal itu mesti dilewati oleh seorang pengusaha jika ingin meraih sukses.

Sukanto Tanoto memang dikenal sebagai pengusaha papan atas. Ia memiliki julukan sebagai Raja Sumber Daya berkat kemampuannya mengembangkan Royal Golden Eagle. Berdiri pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas, perusahaannya itu kini sudah tumbuh sebagai korporasi kelas internasional.

Sekarang Royal Golden Eagle tidak hanya beroperasi di Indonesia. Mereka juga memiliki cabang atau anak perusahaan di Malaysia, Singapura, Filipina, Brasil, Tiongkok, hingga Kanada. Asetnya juga telah berkembang pesat. Mereka ditaksir memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan jumlah karyawan mencapai 60 ribu orang.

Namun, perjalanan bisnis Sukanto Tanoto tidak selalu mulus. Ada saja tantangan yang mesti dihadapinya. Tapi justru itulah yang menempanya menjadi pebisnis berpengalaman.

Beragam tantangan sudah dihadapi sejak mulai terjun ke dunia bisnis. Ketika bergelut dalam bidang general contractor dan supplier pada era 1960-an, Sukanto Tanoto sudah dihadapkan kepada pilihan sulit.

Saat itu, usahanya memang berkembang pesat. Namun, ia hanya memiliki satu klien utama yang bergerak dalam industri minyak. Kala itu semuanya memang berjalan baik, tapi di balik itu ada ancaman besar menanti. Bagaimana jika klien utamanya itu lepas?

Sukanto Tanoto memikirkan kelangsungan usahanya terutama berkaitan dengan nasib para karyawannya. Ia mulai berpikir untuk menerjuni bidang usaha lain. Niatnya semakin bulat kala krisis minyak menerpa. Dalam situasi seperti itu, ia sebenarnya mendapat keuntungan besar, namun dirinya bertambah sadar bahwa seorang pengusaha tidak boleh terlalu lama berada di zona nyaman.

Maka, tanpa ragu, Sukanto Tanoto memutar otak untuk mencari bidang bisnis baru. Pilihan akhirnya jatuh ke industri kayu lapis. Bidang itu diterjuninya dan membuatnya sukses. Bersamaan dengan itu, Sukanto Tanoto juga merintis kehadiran Royal Golden Eagle.

Namun, krisis yang paling berbahaya dirasakan oleh Sukanto Tanoto pada 1997 ketika krisis moneter melanda Indonesia. Saat itu, nilai rupiah jatuh sehingga utang membengkak dan banyak perusahaan lain kolaps. Bukan hanya itu, bank juga tengah kesulitan likuiditas sehingga menghentikan kredit.

Padahal, Sukanto Tanoto tengah membangun pabrik pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci. Ia mengandalkan pendanaan kredit dari bank dalam pembangunannya.

Krisis moneter membuat bisnis Sukanto Tanoto terancam bangkrut. Utang-utangnya mendadak naik dengan drastis. Selain itu, ia tidak mendapat kucuran kredit lagi sehingga proses pembangunan pabrik pulp dan kertas terhenti.

“Saat barang (mesin-mesin, Red.) sudah sampai sini, lalu saya ke New York Capital Market. Ada duit US$600 juta. Pinjam lagi US$1,4 miliar baru cair. Dapat US$300 juta-US$400 juta. Masih belum selesai. Kurang US$1 miliar. Bangunan mesin terbengkalai. Bank lokal sudah tidak punya dolar sudah bangkrut semua,” ujarnya mengisahkan kondisi krisis saat itu kepada Bisnis.com.

Kala itu, sebagian mesin untuk pabrik pulp dan kertas memang datang. Namun, karena krisis keuangan, mesin-mesin tersebut tidak terpasang. Banyak ahli yang seharusnya memasangnya tidak mau datang.

Kondisi itu membuat operasional Royal Golden Eagle belum berjalan. Apalagi, masih banyak pula mesin lain yang tidak datang.

“Saat itu, kondisi di sini, kalau belum selesai (pembangunan pabrik pulp dan kertas, Red.) semua habis (bisnis di Royal Golden Eagle, Red.). Mau cashflow dari mana kalau mesin belum dipasang. Sesudah pasang, baru bisa hasilkan pulp dan kertas. Waktu itu saya khawatir bagaimana dengan krisis ini. Kapan selesainya,” papar Sukanto Tanoto.

Ancaman kebangkrutan jelas membayangi Royal Golden Eagle. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh pada masa itu. Sudah banyak perusahaan lain di Indonesia yang gulung tikar terkena hantaman krisis moneter.

Sukanto Tanoto sejatinya sudah mempersiapkan hal terburuk akan menimpa Royal Golden Eagle. Ia bahkan sudah memberi peringatan kepada keluarganya agar bersiap meninggalkan rumahnya di Singapura. Bisa jadi rumah itu akan dijual untuk menyelamatkan RGE dari kebangkrutan.

 

TIDAK MAU MENYERAH

Image Source: Sukantotanoto.net

Namun, sejatinya Sukanto Tanoto tidak mau menyerah begitu saja. Ia membayangkan bagaimana nasib para karyawannya jika Royal Golden Eagle mesti tutup. Mereka pasti akan mengalami kesulitan hidup karena tidak ada lapangan kerja lain yang tersedia.

Atas dasar ini, Sukanto Tanoto terus berpikir untuk mencari solusi terbaik dalam melewati krisis. Ia akhirnya mau mengambil keputusan pahit. Asetnya yang ada di Tiongkok dilepas untuk mendapatkan dana segar.

Nah akhirnya mikir. Ada aset pabrik kertas di Tiongkok yang kongsi dengan Amerika, terus akhirnya saya ambil keputusan sulit itu. Saya jual. Aset di sana terkumpul, lalu saya bawa US$1 miliar (ke Riau untuk pembangunan pabrik pulp dan kertas, Red.). Itu (keputusan) sulit, karena saya harus ambil pilihan itu,” kata Sukanto Tanoto.

Dalam kondisi sulit seperti itu, Sukanto Tanoto beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung. Anak dan istrinya mendukung segala keputusannya.

Dukungan maksimal itu membuat beban Sukanto Tanoto terasa lebih ringan. Ia bisa berpikir jernih untuk mengambil solusi atas krisis yang dihadapi.

Namun, jelas saja ada risiko besar yang mesti ditanggung ketika memutuskan berinvestasi pada masa krisis di Indonesia. Kala itu, situasi masih belum menentu. Tak aneh, Sukanto Tanoto mengakui keputusannya dalam masa krisis tersebut merupakan salah satu langkah paling monumental yang diambilnya.

“Saat menjual aset yang di Tiongkok, saya bawa duit itu ke sini pada 1999-2000. Waktu itu siapa mengira Indonesia bisa kembali seperti ini. Sejak 1991, kondisi Indonesia bisa aman. Policy, situasi waktu itu dan politik demokrasi. Coba lihat negara-negara lain seperti Mesir berapa lama? Filipina, Marcos pada 1986 turun dan sejak 1990-an belum apa-apa, sampai sekarang lumayan baik. Namun mau ke mana negaranya kan belum tahu,” kata Sukanto Tanoto.

Putranya Anderson Tanoto juga mengakui bahwa langkah Sukanto Tanoto dalam masa krisis memang luar biasa. Di matanya, ayahnya memiliki nyali dan visi yang bagus ketika akhirnya mau terus berinvestasi di Indonesia.

“Kami harus menyelesaikan pekerjaan (membangun pabrik pulp dan kertas, Red.) dan ayah saya berani mengambil keputusan itu. Langkah menjual aset dari Tiongkok dan diinvestasikan ke Indonesia terbayar sudah. Karena langkah itulah, kami bisa di posisi ini,” ujar Anderson Tanoto.

Ada salah satu cara Sukanto Tanoto dalam menyikapi risiko yang dapat ditiru. Sebagai pengusaha, ia berani mengambil putusan riskan. Namun, ia tidak asal berani. Sebelum mengambil langkah, ia memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat terlebih dulu.

Akan tetapi, keberanian yang didasari kalkulasi tinggi itulah yang membantunya meraih sukses. Jika menjalankannya, belum tentu Sukanto Tanoto mampu membawa Royal Golden Eagle lepas dari belitan krisis.

 

Image Source: RGEI

 

Next Article >