Home Serba Serbi Unik Tradisi Perjodohan Using, Kau Kucolong

Tradisi Perjodohan Using, Kau Kucolong

473
0

TANPA sempat memakai alas kaki, Suhadi, pengusaha barang bekas, mendatangi rumah Saman. Raut wajahnya memerah, penuh emosi. Begitu datang, ia langsung menggebrak meja. Suhadi marah karena anak gadisnya, Yuli, dibawa lari oleh Yusron, anak keluarga Saman. Padahal, Yuli dijodohkannya dengan anak juragan tambak asal Muncar, Banyuwangi.

Malam sebelumnya, keluarga Saman juga geger karena Yusron tiba-tiba membawa anak gadis ke rumah. Keduanya datang meminta restu menikah. Apa boleh buat, setelah melalui negosiasi alot, mereka pun direstui. Sesepuh desa, Toharilah, yang mendamaikan dua keluarga itu.

Petikan fragmen itu dipentaskan apik pada pertunjukan seni di Gazebo Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa saat lalu. Memang mirip cerita sinetron, tetapi kejadian itu sungguh nyata ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Using.

Di Banyuwangi, masyarakat adat Using mengenal istilah kawin colong. Artinya, menikah dengan membawa lari pasangan terlebih dahulu. Kawin colong terjadi karena salah satu atau kedua orangtua tak sepakat. Bisa karena sudah dijodohkan atau beda status sosial.

Nur Aziz (45) adalah salah satu dari sejumlah pemuda zaman 1990-an yang akhirnya menempuh jalur kawin colong. Aziz membawa lari Maimunah karena kekasihnya itu sudah dijodohkan dengan pemuda lain. Istilahnya ”kejar daku kau ku-colong”. ”Oleh karena kami sama-sama cinta, kami nekat kawin colong,” kata Aziz, yang kini menjadi tokoh warga di Kecamatan Giri, Banyuwangi.

Kawin colong bukan hal yang mudah. Aziz harus tebal telinga karena dimarahi keluarga dan calon mertua. Beruntung ada Husaini, sesepuh warga yang bersedia menjadi colok atau mediator. Ia membantu mengademkan suasana. Seminggu pun suasana menjadi cair dan akhirnya mereka menikah dengan restu orangtua.

Imron Rosyidi (43) lebih parah lagi, harus bersabar menanti orangtua istrinya luruh. Tak cukup sepekan. Meski sudah menikah hampir sebulan, mertuanya masih menyimpan kesal karena anaknya dibawa lari. Namun, seiring dengan waktu, mertuanya pun luluh hatinya.

Dalam tradisi kawin colong, orang yang berperan penting dalam menyambungkan hubungan adalah colok. Colok semacam juru damai atau penyampai pesan. Tak ada colok, pernikahan mungkin berjalan tanpa restu. Biasanya keluarga laki-laki mencari orang yang berpengaruh, seperti sesepuh desa atau ulama sebagai colok. Tujuannya agar orangtua pihak perempuan segan serta bisa luluh dan adem hatinya.

Tidak gampang menjadi colok meski mereka adalah orang yang disegani. Kerap kali colok tetap ikut terimbas luapan emosi. ”Namanya juga emosi, ya, saya bisa maklum. Orangtua pasti marah jika anak gadisnya dikawin colong, ” kata Husni Tamrin (59), sesepuh desa yang juga berperan sebagai colok.

Seorang colok pun harus pintar mendinginkan suasana. Selain membantu dengan memberi perspektif positif tentang pernikahan, colok juga punya trik untuk membuat orangtua pihak perempuan lebih lega.

Husni akan berbicara halus dengan orangtua si gadis dan ikutan memarahi anak laki-laki yang mencuri gadis itu untuk mengambil hati orangtua pihak perempuan . Dengan demikian, orangtua sang gadis bisa merasa sedikit lega.

Terkadang butuh waktu berhari-hari untuk menenangkan hati orangtua. Colok pun harus kerap datang ke rumah untuk meluluhkan hati mereka. Meski jarang, ada pula yang gagal dan berakhir di pengadilan. Biasanya, tambah Husni, kasus itu terjadi karena anak yang dicolong bukan berasal dari keluarga Using.

Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimanyan, mengatakan, kawin colong menggambarkan kearifan masyarakat Using menghadapi persoalan. Colong artinya mencuri, tetapi mencuri untuk dinikahi meski ada proses setengah memaksa di dalamnya.

Tradisi kawin colong sangat jarang berakhir di meja hijau karena masyarakat Banyuwangi menganggapnya sebagai bagian dari adat dan tradisi. Pak RT, pak RW, lurah, atau hansip pun tak akan memperkarakannya ke pengadilan. Bahkan, bisa jadi mereka dulunya adalah pelaku kawin colong.

Kawin colong biasanya berakhir damai dalam keluarga. Orangtua legawa menerima menantu pilihan anaknya. Anaknya pun bisa hidup bahagia dengan pilihannya.

”Gredoan”

Terkait perjodohan, masyarakat Using juga mengenal gredoan. Gredoan adalah bahasa Using yang berarti menggoda. Gredoan dilakukan di saat malam perayaan Maulud Nabi. Pada saat itu, semua kerabat jauh akan berkumpul atau pulang kampung. Pemuda berkesempatan berkenalan dengan gadis yang datang dari desa lain.

Berkenalan pun ada tata caranya. Biasanya pemuda akan memasukkan lidi ke celah dinding bambu dapur rumah sang gadis. Jika gadis itu berkenan, ia akan merespons dengan menarik lidi itu. Respons itu memberi tanda, sang pemuda boleh bertamu, berkenalan dengannya dan orangtuanya.

Adat lain yang dimilik masyarakat Using adalah batokan. Orangtua yang ingin mencarikan jodoh anak gadisnya akan membukakan warung. Gadis pun diminta menjaga warung itu. Pemuda datang di warung itu untuk membeli makanan dan berkenalan. ”Jika yang buka warung adalah kembang desa, yang datang berjubel dan saling bersaing,” kata Hasnan.

Gaya dan rayuan pun beragam. Biasanya untuk memikat gadis pemilik warung, pemuda akan membeli barang yang paling mahal. Limun atau minuman botol misalnya. Pada masa 1950-an limun hanya diminum oleh kalangan berduit. Ada pula yang bergaya sok kaya, membeli tembakau dan melintingnya pakai uang rupiah kertas sebagai pengganti kertas rokok. Semakin terlihat kaya, si gadis diharapkan akan semakin terpikat. (kompas)

Previous articlePengakuan Mengejutkan Bos Android soal Malware
Next article“Game” Indonesia Menang Rp 2,3 Miliar di Spanyol
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.