Sejarah Letusan Gunung Slamet

Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian dengan medan yang dikenal sulit. Seperti gunung api lain di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.

Dari catatan, Gunung Slamet pertama erupsi pada abad ke-19. Hingga saat ini, gunung yang statusnya aktif ini sering mengalami erupsi meski dalam skala kecil. Pada 1999, Gunung Slamet mengalami erupsi dan kemudian erupsi terjadi lagi pada Mei hingga Juni 2009. Dari puncak gunung mengeluarkan lava pijar.

Pada Senin, 10 Maret 2014, sekitar pukul 21.00 WIB, status Gunung Slamet ditetapkan naik menjadi Waspada atau Level II. Sebelumnya, gunung dengan ketinggian 3.428 mdpl itu dalam status Normal atau pada Level I.

“Dulu pada 2009 Gunung Slamet erupsi sampai status Siaga, sudah ada peta kawasan rawan bencana, dan saat ini semua proses itu berlaku,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendrasto.

Menurut Hendrasto, saat ditetapkan naik status, dari puncak gunung tertutup kabut dan teramati asap putih tipis-tebal setinggi 25-1000 meter dari puncak. Hujan gerimis dan deras. Selama dua hari terakhir terjadi 441 kali gempa hembusan dan sembilan kali gempa vulkanik dangkal.

Sementara itu, bila bicara mengenai ancaman Gunung Slamet, menurut Hendrasto bahwa gunung ini sejak dulu selalu meluncurkan awan panas, aliran lava dan gas racun.

Potensi bahaya Gunung Slamet berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) dibagi menjadi tiga zona, yaitu Kawasan Rawan Bencana III (KRB III), Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) dan Kawasan Rawan Bencana I (KRB I).

Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang selalu berpotensi terancam aliran lava, gas racun, awan panas serta selalu terancam lontaran batu (pijar), dan hujan abu lebat dalam radius 2 km dari puncak.

Kawasan Rawan Bencana II merupakan wilayah yang berpotensi terlanda aliran lava, gas racun, awan panas serta berpotensi terancam lontaran batu (pijar), dan hujan abu lebat dalam radius 4 km dari puncak.

Sementara Kawasan Rawan Bencana I merupakan wilayah yang berpotensi terlanda aliran lahar hujan, berpotensi terhadap hujan abu lebat serta kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar) dalam radius 8 km dari puncak.

“Bila kita bicara acaman Slamet sejak dulu kala memang awan panas dan aliran lava, apakah ini akan berlangsung lagi, saya tidak tahu,” kata Hendrasto.

Meski begitu menurut Hendrasto, yang saat ini perlu diwaspadai adalah gempa yang muncul setelah statusnya dinaikan menjadi waspada. Pergerakan aktifitas terjadi di kawah IV yang merupakan kawah terakhir yang masih aktif terus dipantau.

Peningkatan kegiatan itu ditandai oleh peningkatan jumlah Gempa Hembusan dan semakin tebal serta tinggi asap hembusan. Tapi menurutnya, hingga kemarin belum ada peningkatan aktifitas yang berarti.

“Sampai saat ini abu memang ada,” katanya.

Ditambahkan Hendrasto, sehubungan dengan peningkatan status tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan meningkatkan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi kegiatan Gunung Slamet dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

Jalur pendakian sulit Gunung Slamet yang berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah atau gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa.

Gunung ini sangat populer di kalangan pendaki meski medannya dikenal sulit. Jalur pendakian standar adalah dari Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden dan dari Desa Gambuhan, Desa Jurangmangu dan Desa Gunungsari, Kabupaten Pemalang.

Dikenal sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian di gunung ini tidak ditemukan air. Pendaki selalu disarankan membawa persediaan air yang cukup. Faktor lain yang menyulitkan adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Sementara jalur pendakian lainnya adalah melalui obyek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal. Meskipun terjal, rute ini menyajikan pemandangan yang paling baik. Kawasan Guci dapat ditempuh dari Slawi menuju daerah Tuwel melewati Lebaksiu.

Di kaki gunung ini terletak kawasan wisata Baturraden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto. (viva)