Home Serba Serbi Misteri Pandangan 4 Presiden RI soal Klenik

Pandangan 4 Presiden RI soal Klenik

1181
0

Menjadi sosok yang berkuasa di republik ini, publik pun sering mengaitkan dengan hal-hal berbau klenik. Pada dasarnya, klenik adalah kegiatan perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang. Seringkali menjadi kepercayaan, bahwa para pemimpin republik tidak terlepas hal supranatural yang bisa membawa mereka memimpin negeri dengan jutaan penduduk.

Tetapi benarkah para presiden Indonesia meyakini hal-hal supranatural? Benarkah mereka mengalami dan percaya pada klenik? Berikut ini pandangan 4 presiden RI soal klenik yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Bung Karno

Bung Karno sendiri sesungguhnya adalah sosok yang sangat rasional dan tidak pernah percaya pada kekuatan gaib. Dalam buku Bung Karno Masa Muda terbitan Pustaka Yayasan Antarkota tahun 1978, ketika kecil Bung Karno sering dimintai tolong mengobati seseorang yang sakit. Bung Karno tidak pernah percaya ada kekuatan gaib dalam dirinya.

Ibu Fatmawati pernah bercerita, bila putra-putrinya sakit, bapak sering gugup. “Pengobatan dan perawatan diserahkan kepada dokter dan ibu,” ujar Ibu Fat.

Pada kesempatan lain, Bung Karno bercerita dalam sebuah kunjungan ke Jawa Tengah, begitu ia selesai makan, ada perempuan yang menghampiri pelayannya dan berbisik. “Jangan biarkan orang mengambil piring presiden. Berikanlah kepada saya sisanya. Saya sedang mengandung dan ingin anak laki-laki. Saya mengidamkan seorang anak seperti bapak. Jadi tolonglah biarkan saya memakan apa-apa yang telah dijamah sendiri oleh presidenku.”

Hal ini diceritakan sendiri oleh Bung Karno. Namun, dari cara dia bercerita tampak Bung Karno sendiri tidak percaya pada hal-hal tahayul.

Bahkan, Ibu Fatmawati juga bercerita bahwa mereka (bersama Bung Karno) tidak pernah melakukan “bancaan” (syukuran) untuk putra-putri mereka.

“Kami yang beragama Islam hanya ikut petunjuk Alquran dan hadist dan petunjuk para guru saja,” ujar Ibu Fat mengenai bancaan yang jadi tradisi kepercayaan kebanyakan orang Jawa.

2. Pak Harto

Soeharto

Dulu pada masa Orde Baru, terdengar ramai sasus bahwa mantan Presiden Soeharto punya guru kebatinan. Siapa orangnya? pada masa Orde Baru publik mengenal betul nama Sudjono Hoemardani.

Sudjono Hoemardani adalah rekan dekat Pak Harto selama menjadi tentara. Kedekatan itu makin terasa pada pertengahan 1966, ketika Pak Harto menjadi pejabat presien. Saat itu Pak Harto membentuk Staf Pribadi (Spri). Selain orang sipil, ada enam perwira militer termasuk Sudjono Hoemardani. Spri dipimpin Alamsyah Ratuprawiranegara.

Menurut peneliti Michael Sean Malley dalam artikelnya tentang Sudjono Hoemardani yang dimuat Prisma edisi khusus 20 tahun, pembentukan Spri ini sangat penting secara politis. Jenderal AH Nasution mengakui, pengasingan dia dan beberapa perwira yang menginginkan pembaruan politik dimulai dengan pembentukan lembaga ini. Sudjono dianggap sebagai penasihat penting bagi Pak Harto. Dia sering mendampingi Pak Harto dalam berbagai acara, di dalam dan luar negeri.

Siapa Sudjono Hoemardani? Dia dikenal sebagai sosok yang sangat terpengaruh mistisisme Jawa. Dia juga dikenal sebagai pendukung organisasi yang berkaitan dengan aliran kepercayaan. Ilmu kejawen sangat dihargai oleh Sudjono. Dia cenderung menggunakan pengibaratan wayang untuk menjelaskan masalah-masalah kontemporer.

Dari penguasaan Sudjono terhadap ilmu Kejawen dan seringnya mendampingi Pak Harto itulah muncul anggapan, Sudjono adalah guru kebatinan Pak Harto.

Rupanya, Pak Harto tanggap atas anggapan orang itu. Benarkah Sudjono guru kebatinan Pak Harto? Pak Harto pun merasa perlu menjelaskan persoalan ini dalam otobiografinya, Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya seperti dipaparkan kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH.

Menurut Pak Harto sebenarnya tidak seperti itu. “Padahal Djono sendiri biasa sungkem kepada saya. Ia menganggap saya lebih tua dan lebih mengetahui soal kebatinan,” ujar Pak Harto.

Bagi Pak Harto, kebatinan adalah ilmu mendekatkan diri kepada Tuhan. “Memang benar, Djono suka datang kepada saya dengan membawa buku berisi tulisan. Ia mempunyai kepercayaan. Maka ia suka menyampaikan sarannya. Saya terima saja sarannya, untuk menyenangkan hatinya. Tidak saya telan begitu saja sarannya,” kata Pak Harto.

Saran Sudjono, ujar Pak Harto, dianalisa, dipertimbangkan, apakah rasional atau tidak. Jika rasional, jika masuk akal, maka saya terima. Jika tidak saran itu tidak dipakai.

“Jadi, yang mengira bahwa Djono itu guru kebatinan saya, kecele. Sangkaan begitu tidak benar. Mengenai ilmu kebatinan, Sudjono lebih banyak bertanya kepada saya daripada sebaliknya. Ia sendiri pernah berkata, ‘Saya berguru kepada Pak Harto.’,” demikian pengakuan Pak Harto. Jadi rupanya, sosok yang dianggap guru kebatinan itu malah belajar kepada Pak Harto.

3. Gus Dur

Gus Dur

Ada cerita unik, ketika Gus Dur sekeluarga pindah ke Istana, mereka dihentikan di pintu masuk dan diberitahu bahwa mereka harus bernegosiasi dengan roh halus penjaga Istana. Mereka yang percaya segera yakin Istana ini ada hantunya, terutama sebuah kamar di ujung ruang utama. Ruang itu dibuka setahun sekali sebagai tempat penyimpanan bendera pusaka.

Hal itu dibenarkan Munib Huda Muhammad, ajudan Gus Dur yang paling setia. Dia mengatakan, orang-orang di Istana Merdeka benar-benar yakin ada hantu menghuni Istana itu. Bahkan dia memercayainya. “Kalau saya sendiri memang merasakan banyak hantu di situ. Wong sudah berpuluh-puluh tahun tidak digunakan. Serem memang,” ujarnya, Kamis (12/12).

Karena takut hantu, kata dia, tidak ada yang berani membersihkan tempat yang akan didiami Gus Dur. Dia mencontohkan, untuk membersihkan lantai empat dan lima di Wisma Negara saja tidak ada yang berani, takut dengan hantu yang menunggu di sana. “Ga ada yang berani, ikan Arwana sampai mati di aquarium ga diberi makan karena takut.”

Begitu Gus Dur datang, mendadak semua orang menjadi berani. Para penjaga istana juga menjadi tidak takut dengan hantu-hantu di Istana. Pertanyaannya, cara apa yang dipakai Gus Dur sehingga keangkeran Istana menjadi hilang? Apakah memakai cara mistis, dukun, atau ritual-ritual?

Menurut Munib, bukan cara-cara mistis seperti itu dipakai Gus Dur untuk mengusir keangkeran Istana. Meski dia yakin Gus Dur sebenarnya merasakan soal hantu-hantu itu, yang kemudian berkembang cerita bermacam-macam di kalangan masyarakat. Namun terlepas dari semua itu, dia melanjutkan Gus Dur punya cara logis untuk mengusir keangkeran Istana.

“Begitu Gus Dur datang, Istana dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat. Istana ini kan punya negara, jadi masyarakat berhak memiliki. Jadi orang-orang dibolehkan ke sana, sehingga Istana menjadi ramai.”

Terbukti, hanya di era Gus Dur Istana Merdeka ramai dan tidak angker lagi. Semua orang bisa masuk ke sana bertemu dengan Gus Dur, mulai dari pejabat, politisi, masyarakat umum, hingga kiai.

4. Presiden SBY

SBY

Dalam buku Selalu Ada Pilihan, SBY menulis banyak hal setelah dirinya menjadi orang nomor satu di negeri ini. SBY juga menceritakan kisah-kisah menarik pernah yang dialaminya.

Salah satu kisah yang diceritakan SBY dalam buku tersebut ketika masa kampanye di medio April 2004. Saat itu Sudi Silalahi mengatakan banyak orang yang datang kepadanya dan ingin menitipkan benda-benda pusaka bertuah kepada SBY.

“Pak Sudi Silalahi pernah menyampaikan kepada saya bahwa banyak yang datang kepadanya untuk menyerahkan sesuatu seperti pusaka atau benda-benda keramat yang lain, dengan permintaan agar selanjutnya diserahkan kepada saya,” ujar SBY dalam buku Selalu Ada Pilihan di halaman 425.

Namun Sudi menolak secara halus pemberian benda-benda keramat tersebut. Kepada orang-orang yang memberi, Sudi hanya minta Presiden SBY didoakan saja.

“Pak Sudi juga menjelaskan jika yang bersangkutan tidak tersinggung dan bersedia membawa kembali sesuatu itu. Tetapi jika yang bersangkutan memaksa, maka daripada ada salah pengertian yang serius, Pak Sudi meminta stafnya menyimpan pemberian itu baik-baik,” ujar SBY.

Di halaman berikutnya, SBY juga berkisah ketika dirinya sowan ke sejumlah pemimpin spiritual saat kampanye. Namun apa yang dilakukan SBY tetap masuk logika. SBY tidak pernah melakukan ritual-ritual tertentu yang dinilainya tidak masuk akal.

“Terus terang ada silaturahim sayang dengan sejumlah pemimpin agama seperti pimpinan Pondok Pesantren, tetapi juga tetap segaris dengan ajaran agama serta logika yang harus saya junjung tinggi,” pungkas SBY.

SBY menjelaskan, kalau dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan di luar logika, sama artinya melakukan syirik, yang sangat dibenci oleh agama. “Kalau saya mau melakukan ritual yang tidak masuk akal itu bisa-bisa saya dicap sebagai kehilangan akal sehat. Justru hal demikian akan menjadi sasaran tembak lawan-lawan politik saya. Istilah yang sering kita kenal adalah character assasination,” ujar SBY. (merdeka)

Previous articleBenarkah ada aplikasi Alquran palsu di Android dan iOS
Next articlePutus Sekolah, Fahri Intip Pelajaran dari Balik Tembok Sekolah
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.