Home Serba Serbi Penelitian Polusi Ternyata Bisa Menjadi Awan Badai

Polusi Ternyata Bisa Menjadi Awan Badai

544
0

Lumpur masih menutupi sejumlah wilayah di Kabupaten Minxian, Provinsi Gansu, Cina. Banjir lumpur terjadi setelah badai menerjang Gansu dua pekan lalu, yang mengakibatkan 40 warga tewas dan 30 ribu penduduk mengungsi.

Kawasan Laut Cina Selatan memang menjadi langganan badai di Asia. Departemen Energi Pacific Northwest National Laboratory mengambil sampel dari sistem badai di wilayah ini dan di Great Plains di Oklahoma, Amerika Serikat.

Hasil penelitian, yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters edisi Mei, menemukan fakta menarik, yaitu pengaruh polusi pada badai. Partikel-partikel polusi di udara ternyata memperkuat awan badai. Hal itu terutama terjadi pada malam hari, di mana terbentuk landasan yang menyebar tinggi di atmosfer dan menangkap panas.

“Model iklim global tidak melihat efek ini karena awan badai disimulasikan dalam model-model yang tidak cukup memerinci,” kata peneliti Jiwen Fan, dari Departemen Energi Pacific Northwest National Laboratory.

Menurut Fan, sejumlah besar udara panas terjebak oleh polusi dapat meningkatkan awan yang berpotensi mempengaruhi sirkulasi regional dan memodifikasi sistem cuaca. Para peneliti memang belum mengetahui berapa banyak efek pemanasan ini terhadap terbentuknya awan badai.

Badai, disebut juga siklon tropis, berasal dari samudra yang hangat. Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 kilometer per jam.

Selama ini, penyebab badai adalah tingginya suhu permukaan laut. Perubahan di dalam energi atmosfer mengakibatkan petir dan badai. Badai tropis ini berpusar dan bergerak dengan cepat mengelilingi suatu pusat, yang sumbernya berada di daerah tropis.

Peneliti menyebutkan pentingnya peran awan konvektif dalam siklus iklim. Di dalam awan badai, udara hangat naik dan mendorong partikel tersuspensi di udara, seperti yang terjadi pada cerobong asap.

Uap air yang mendingin dan mengembun membentuk aerosol dan awan. Pada saat yang sama, udara dingin turun menciptakan lingkaran konvektif. Umumnya, bagian atas awan menyebar keluar seperti sebuah landasan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, ketika kondisi tidak terlalu berangin, polusi menyebabkan awan yang lebih besar. Hal itu terjadi karena air di udara tersebar di antara partikel lebih, menyebabkan tetesan yang lebih kecil. Secara kolektif, peristiwa ini menyebabkan awan konvektif yang lebih besar dan kuat yang hidup lebih lama.

Para peneliti menggunakan komputasi berkinerja tinggi untuk menganalisis dua jenis sistem badai di Cina Selatan dan Amerika dalam kaitannya dengan polusi.

Mereka menemukan bahwa, dalam badai musim panas yang hangat, polusi menyebabkan badai yang lebih kuat dengan landasan yang lebih besar. Hal itu berbeda dengan udara yang bersih. “Angka-angka untuk pemanasan adalah sangat besar,” kata Fan. Para peneliti menghitung hanya pada hari ketika badai terjadi.

Previous articleMengapa Gerhana Matahari Bisa Bikin Buta?
Next articleTradisi Unik Olahraga Loncat Unta dari Yaman
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.