Home Kesehatan Kutu Pembawa Penyakit Manusia dan Hewan

Kutu Pembawa Penyakit Manusia dan Hewan

900
0

Sekilas mendengar nama penyakit ini, ingatan kita dibawa kepada minuman jeruk yang segar dan asam. tetapi nama Lyme untuk penyakit ini bukan diambil dari kata “lime” walaupun sama membunyikannya dengan “lyme”.

Penyakit Lyme (Lyme disease) adalah salah satu jenis penyakit menular pada manusia dan hewan dengan perantara (vektor) berupa kutu. Penyakit ini diberi nama Lyme dari kata Old Lyme, suatu kota di Connecticut dimana kasus ini pertama kali ditemukan. Penyakit ini disebabkan oleh Borrelia burgdoferi, bakteri dari golongan Spirochetes, dan disebarkan secara luas oleh kutu Ixodes scapularis. Kutu tersebut umumnya menghisap darah burung, hewan peliharaan, hewan liar, dan juga manusia.

Berbagai uji serologis seperti ELISA dan pewarnaan fluoresensi dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap B. burgdorferi yang muncul 4-6 minggu setelah infeksi terjadi. Namun, uji serologis yang paling efektif saat ini adalah western blot, ini dikarenakan keberadaan antibodi B. burgdorferi dapat dideteksi mulai dari infeksi pertama kali diderita hingga beberapa tahun setelahnya. Setelah beberapa tahun, tubuh tidak lagi menghasilkan antibodi terhadap bakteri tersebut karena bakteri itu laten di dalam tubuh.

Pada beberapa daerah di Amerika, penyakit Lyme tidak hanya ditularkan oleh kutu Ixodes scapularis, tetapi juga oleh tikus dan kutu Ixodes paficius. Di Eropa, spesies Borrelia lainnya yaitu B. garinii juga mampu menyebabkan penyakit dengan gejala yang mirip seperti penyakit Lyme. Penularan penyakit tersebut di daerah Eropa dilakukan dengan vektor berupa kutu I. ricinus. Di daerah Asia, penyakit Lyme disebabkan oleh B. afzelii melalui perantaraan I. persulcatus. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa distribusi penyakit ini sangat luas dan ditransmisikan ke manusia via golongan Borrelia dan berbagai jenis kutu yang berbeda spesiesnya, tergantung pada wilayah masing-masing.

Untuk mendeteksi B. burgdorferi dari cairan tubuh dan jaringan, dapat digunakan reaksi berantai polimerase (PCR) yang relatif sensitif dan cepat. Namun, metode PCR tidak mampu membedakan antar sel B. burgdorferi yang masih hidup atau sudah mati di dalam tubuh. Sebagian tes mikrobiologi dengan mengkultur B. burgdorferi dari bagian erythema migrans juga dapat dilakukan namun jarang sekali karena B. burgdorferi memerlukan media yang kompleks dan spesifik untuk pertumbuhannya. Umumnya, dokter akan memberikan antibiotik ketika gejala-gejala awal penyakit ini muncul dan pasien pernah digigit kutu dalam waktu dekat kemudian diikuti dengan kemunculan erythema migrans.

Pengobatan dan Pencegahan
Untuk mencegah gigitan kutu pada kulit dan dari pakaian, dapat digunakan senyawa penangkal kutu berupa dietil-m-toluamida (DEET). Vaksin untuk penyakit Lyme juga telah dikembangkan dan terutama diperuntukkan untuk hewan. Untuk mengobati infeksi penyakit ini, dapat digunakan doksisiklin (senyawa turunan tetrasiklin), atau amoksisilin (antibiotik beta-laktam) selama 20-30 hari. Apabila penyakit telah memasuki fase kronis maka dapat digunakan penisilin atau ceftriaxone dalam dosis tinggi yang disertai dengan probenicid, senyawa kimia yang dapat mempertahankan serum antibiotik di dalam tubuh hingga 30 hari.

Sumber:

Previous articleMakanan Tidak Bisa Dipanaskan Sembarangan!
Next articlePerempuan Lajang dan Mimpinya
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.