Home Serba Serbi Inspirasi Tempat Para Hamba Berkuasa

Tempat Para Hamba Berkuasa

785
0

Bayangkan kita terbang, meski saat itu mustahil, di atas bumi pada abad ke-17—pada masa yang digambarkan dalam buku sejarah Amerika sebagai masa kolonial. Saat itu, bangsa Eropa datang berbondong-bondong ke Dunia Baru dan mendominasi alam liar yang hampir kosong. Namun, sebenarnya kita akan melihat puluhan juta penduduk pribumi yang sudah menghuni benua Amerika, ditambah arus luar biasa yang terdiri atas budak Afrika, bukan kolonis Eropa.

Hingga awal abad ke-19, jumlah orang Afrika yang datang ke benua Amerika hampir empat kali lipat orang Eropa. Kalau melihat dari atas, kita tak akan mengira bahwa segelintir orang Eropa itulah yang konon menjadi pemeran utama dalam sejarah benua ini. Sebaliknya, perhatian kita tentu terfokus pada kedua populasi mayoritas: orang Afrika dan Indian.

Banyak pula yang dapat diamati. Puluhan ribu budak Afrika kabur dari kehidupan berat di perkebunan dan operasi tambang Eropa dan menuju daerah pedalaman, ke tanah yang dikuasai bangsa Indian. Di seluruh benua Amerika, mantan budak dan penduduk pribumi membentuk permukiman hibrida yang disebut sebagai komunitas pelarian, atau cimarrón dalam bahasa Spanyol, yang berarti orang yang melarikan diri.

Interaksi rumit antara orang kulit hitam dan merah ini, yang sebagian besar terjadi tanpa sepengetahuan orang Eropa, adalah drama tersembunyi yang baru-baru ini saja mulai diuraikan oleh sejarawan dan arkeolog. Kehadiran bab yang hilang ini paling tampak di Brasil, tempat ribuan komunitas pelarian ini mulai muncul dari bayangan, menegaskan budaya campuran mereka dan mendesak dikeluarkannya sertifikat sah atas tanah yang telah mereka huni sejak masa perbudakan. Taruhannya tinggi: Undang-undang baru kini memberi komunitas pelarian Brasil ini, yang disebut quilombo (kata yang bermakna “permukiman” dalam bahasa Kimbundu dari Angola), peran penting dalam menentukan masa depan hutan rimba Amazon.

Burung macaw menjerit di langit sementara perahu kecil itu menghulu dengan motor. Eceng gondok bergoyang-goyang dalam ombak baling-baling. Perahu itu menyusuri Cekungan Sungai Amazon hilir, melaju dari muara sungai besar itu melalui anak sungainya ke desa Baixo Bujaru. Desa di negara bagian Pará di utara ini ternyata hampir tak berubah sejak abad ke-18, saat didirikan oleh para budak yang kabur dari majikan Portugis mereka. Tak lebih dari sekolah dan balai desa yang dikelilingi oleh rumah-rumah kayu terbuka, desa ini tidak memiliki listrik, pipa air, atau perawatan medis, serta hanya dapat dicapai dengan perahu. Perahu itu ditarik beberapa tangan ke darat saat mendekati dermaga utama. Hampir seratus orang telah datang dan menunggu untuk menyambut tim medis yang berkunjung: dokter, dokter gigi, perawat, dan perawat-praktisi—dan dua ahli kecantikan. “Benarkah di negara lain, orang tidak mendapat perawatan wajah dan penataan rambut dreadlock saat melakukan Pap smear?” tanya si pengemudi perahu. “Brasil memang negara beradab!”

Selama abad-abad perbudakan, sekitar lima juta tawanan Afrika dibawa ke Brasil. Begitu mulai dipekerjakan, para budak itu mulai meloloskan diri dari tangan majikan, menciptakan dunia pelarian di pedalaman negara itu. Terlindung oleh labirin sungai dan rimba yang sulit ditembus, permukiman ini bertahan selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Brasil menghapus perbudakan pada 1888, negara terakhir di belahan dunia barat yang melakukannya. Tetapi, akhir perbudakan tidak berarti akhir diskriminasi. Hidup dalam kantong-kantong terpencil, masyarakat pelarian Brasil yang disebut Quilombola ini terus menyembunyikan diri, begitu jauh dari pandangan pemerintah sehingga pada pertengahan abad lalu, sebagian besar pembuat kebijakan meyakini bahwa mereka sudah tidak ada. Pada 1960-an, para penguasa militer Brasil memutuskan untuk membuka Cekungan Sungai Amazon—menurut mereka, itulah takdir bangsa ini. Spekulan tanah membanjir masuk, memicu ledakan bisnis properti. Berharap cepat untung, mereka menggunduli daerah-daerah luas, menanam rumput untuk peternakan, dan mencari pembeli berikutnya. Siapa pun yang ditemukan di properti dianggap sebagai penghuni liar dan diusir, biasanya dengan todongan senapan. Tak terhitung jumlah quilombo yang dilenyapkan. Tetapi, banyak yang berhasil bertahan, termasuk Baixo Bujaru.

Di antara kerumunan yang menunggu di Baixo Bujaru, ada Bettina dos Santos, ibu si pengemudi perahu, yang lahir 70 tahun silam di sebuah rumah yang terletak 45 menit ke hulu. Pada zaman itu tidak ada sekolah. Tidak ada pula perlindungan hukum ketika para jenderal membagi-bagi Baixo Bujaru menjadi peternakan dan menjualnya kepada para investor yang memiliki hubungan politik. Orang bersenjata menebang hutan kaum pelarian dan menempatkan ternak di tanah yang telah gundul. Bersama gereja setempat, kata dos Santos, dia membantu mengadakan unjuk rasa. “Tetapi kami tak bisa mencegahnya—senapan mereka terlalu banyak.”

Pada 1980-an, ahli geologi menemukan bauksit (bijih aluminium) dan kaolin (tanah liat halus yang digunakan untuk melapisi kertas) yang berharga di daerah aliran sungai sebelah, yang juga dihuni oleh kaum Quilombola. Sekali lagi pemerintah membagi-bagikan tanah mereka sesuka hati, menyewakannya kepada perusahaan tambang. “Jadi, kami menyatakan kembali bahwa kami ada di sini,” katanya. Kali ini mereka berhasil. Pada Maret 2008 Baixo Bujaru dan tetangganya memperoleh sertifikat tanah.

Dibandingkan kebanyakan rumah yang kita tahu, ruang tamu dos Santos terbilang kosong: hanya ada satu meja kecil berisi foto keluarga, dan satu lemari buku pada dinding. Tetapi, perempuan yang semasa kecilnya tak memperoleh perawatan kesehatan itu kini dikunjungi oleh seperahu dokter dan ahli kecantikan beberapa bulan sekali. Dulu, Dos Santos tidak bisa bersekolah dan harus mempertaruhkan nyawa untuk memprotes penggundulan hutan. Kini putrinya kuliah S-3; putranya bekerja di organisasi petani. Tersenyum bangga dalam foto, mereka adalah saksi hidup bahwa kaum Quilombola telah berubah, dari tidak terlihat menjadi warga negara.

Perdagangan budak Atlantik adalah upaya raksasa dengan tangan gurita yang meraih ke semua tempat di Amerika, dari Boston hingga Buenos Aires. Tetapi, pusatnya adalah koloni Portugis di Brasil: Untuk setiap orang Afrika yang mendarat di wilayah Amerika Utara yang dikuasai Inggris, 12 orang tiba di Brasil, sebagian besar dimaksudkan untuk tambang emas dan perkebunan tebu, kerja brutal yang menewaskan sepertiga hingga setengahnya dalam lima tahun. Panen tebu mengharuskan mereka menebas batang tebu mirip-bambu yang keras dan lengket; pemrosesan gula melibatkan mendidihkan air tebu dalam kuali berasap. Tidak heran para budak segera mencari jalan keluar, menciptakan quilombo yang paling terkenal: Palmares, yang pada puncaknya pada pertengahan abad ke-17 menguasai wilayah seluas 25.000 kilometer persegi lebih di pegunungan pesisir utara.

Pendiri bangsa pelarian ini konon adalah Aqualtune, putri raja dan jenderal Angola yang diperbudak dalam perang Kongo sekitar tahun 1605. Tak lama setelah tiba di Brasil, Aqualtune yang sedang hamil melarikan diri bersama beberapa tentaranya dan kabur ke Serra da Barriga, serangkaian tonjolan batu basal yang mendominasi dataran pesisir bagaikan barisan menara penjaga. Di salah satu puncak tinggi ini ada kolam air yang dinaungi pepohonan, dan sekelilingnya dihuni komunitas pribumi. Menurut legenda, di sinilah Aqualtune membangun Palmares.

Sekarang Palmares menjadi taman nasional di negara bagian Alagoas, yang hanya dapat dicapai melalui jalan tanpa rambu yang becek berlumpur, medan berat yang dapat merusak mangkuk oli mobil. Plakat di samping kolam puncak itu menyampaikan kisah Aqualtune—yang membuat kesal para sejarawan, karena tak ada yang tahu seberapa banyak fakta yang terkandung dalam cerita itu. Yang diketahui peneliti secara pasti adalah bahwa sekitar sepuluh desa di quilombo itu menjadi tempat berlindung bagi hingga 30.000 orang Afrika dan Indian, serta beberapa orang Eropa pembelot. Jumlah penduduknya saat itu kira-kira sama dengan seluruh Amerika Utara yang dikuasai Inggris. Pada 1630-an, putra Aqualtune, Ganga Zumba, sudah memerintah Palmares dari istana dengan hiasan mewah, perjamuan melimpah, dan bawahan yang gemetar ketakutan.

Rakyat Ganga Zumba menggunakan bengkel bergaya Afrika untuk membuat bajak dan beliung logam, untuk digunakan di ladang campuran bergaya Indian yang ditanami jagung, beras, dan ubi kayu, serta hutan pertanian kelapa sawit dan sukun. Permukiman dikelilingi pagar pelindung, lubang yang berisi pasak maut, dan jalan yang dipasangi ranjau cacak yang mengoyak kaki. Jika penyerang menyerbu desa luar, warganya kabur ke tonjolan tinggi, yang memiliki tanah subur dan air artesis sehingga mereka dapat bertahan dalam pengepungan selama apa pun.

Pemerintah Portugis menganggap Palmares menentang negara koloninya. Tentara pelarian bukan hanya menyerang permukiman Portugis; mereka juga menghalangi perluasan Eropa lebih jauh ke pedalaman. Marah dan takut, Portugal menyerang Palmares lebih dari 20 kali, selalu gagal. Tetapi, pertikaian yang terus-menerus itu membuat Ganga Zumba lelah, dan pada 1678 dia sepakat untuk berhenti menerima pelarian baru dan pindah dari pegunungan. Keponakan Ganga Zumba, Zumbi, yang menolak hal yang dipandangnya sebagai pengkhianatan itu, meracuni pamannya dan merobek perjanjian itu. Sebagai balasan, pasukan kolonial menyerang Serra da Barriga tahun demi tahun. Bangsa Portugis akhirnya menghancurkan Palmares setelah pengepungan mengerikan pada 1694, yang menewaskan ratusan warganya. Quilombo itu tak pernah dibangun kembali, tetapi Zumbi dan Palmares tetap menjadi lambang perlawanan.

Sekilas pandang, quilombo yang masih ada sekarang mirip dengan desa Brasil miskin yang lain. Tetapi, sebagian besar masih memiliki unsur-unsur budaya Afrika tempat asal warganya, bercampur dengan tradisi Eropa dan pribumi. Di Brasil ada banyak kepercayaan spiritual campuran—candomblé, umbanda, macumba, terecô—dan orang Brasil-Afrika yang menganutnya itu menari, menabuh gendang, dan melatih tari bela diri capoeira. Di berbagai quilombo yang terpencil itu, berkembang pawai dan perayaan berdasarkan tradisi spiritual ini, mengikat berbagai komunitas itu dengan pertalian kenangan bersama yang luwes. Di seluruh wilayah utara dan timur laut Brasil, semua quilombo merayakan Bumba-Meu-Boi, perayaan yang secara satir menuturkan kembali kisah budak yang melarikan diri dari nasibnya dengan bantuan penduduk asli Brasil. Perjuangan demi kebebasan ini dikisahkan lebih gamblang lagi dalam tarian ritual Lambe-Sujos, yang menampilkan “budak pelarian,” yang sebagian besar berlumuran minyak hitam berkilap dari kepala hingga kaki, mengisap dot bayi, yang melambangkan sumbat bulat keji yang dipasangkan pada mulut budak yang membangkang. Dengan bergandeng tangan dalam semangat perlawanan, seluruh kaum Quilombola merayakan sejarah mereka seraya melestarikannya.

Perjuangan untuk menyelamatkan hutan hujan menimbulkan konsekuensi tak terduga bagi quilombo. Lonjakan penggundulan hutan Amazon pada 1970-an menyulut kemarahan dunia. Chico Mendes, semacam Martin Luther King ala Brasil, memimpin kampanye untuk mengakui pentingnya hutan Amazon dan hak “warga tradisionalnya,” termasuk warga quilombo. Sementara itu, kediktatoran militer runtuh dalam kekisruhan inflasi dan skandal. Brasil memberlakukan undang-undang dasar baru yang demokratis pada Oktober 1988. Dua bulan kemudian Mendes dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dipekerjakan oleh peternak. Tetapi, sudah terlambat menghentikan perjuangannya: Undang-undang dasar baru itu melindungi hak suku tradisional. Dalam perjalanannya, UUD itu menyatakan bahwa komunitas quilombo adalah “pemilik sah tanah yang ditempatinya, dan Negara akan menerbitkan sertifikat untuk setiap tanah itu.”

“Saat itu tak ada yang memahami implikasinya,” kata Alberto Lorenço Pereira, wakil menteri untuk pembangunan berkelanjutan dalam kementerian perencanaan jangka panjang Brasil, yang merumuskan kebijakan tanah. Menurutnya, para penulis undang-undang hanya membayangkan “segelintir quilombo yang tersisa di suatu tempat di hutan” yang anggota lansianya akan dihadiahi ladangnya sendiri. Kini diyakini secara luas bahwa mungkin ada 5.000 atau lebih komunitas pelarian di Brasil, sebagian besar di Cekungan Amazon, menempati setidaknya 30 juta hektare—wilayah sebesar Italia. Konflik pun tak terhindarkan, kata Pereira. “Banyak orang lain menginginkan tanah itu.”

Peternak, penambang, pekebun, spekulator tanah, dan pemilik perkebunan yang berang menuduh bahwa banyak wilayah quilombo bukanlah warisan kuno perbudakan tetapi pencaplokan tanah masa kini—penghuni liar yang ingin untung cepat dengan berpura-pura menjadi keturunan budak. “Terjadi ledakan kemarahan,” kata Manuel Almeida, kepala Terras Quilombos de Jambuaçu, himpunan 15 komunitas pelarian di hilir Sungai Amazon. “Anggota senat negara bagian mempertanyakan keabsahan kami dan mencoba membantu petani kelapa sawit dan perusahaan tambang” yang menginginkan tanah quilombo, katanya. Antara 1988 dan 2003, hanya 51 sertifikat tanah diberikan kepada komunitas quilombo. Jambuaçu mendapat sertifikat pada musim gugur 2008, tetapi hanya setelah pertarungan yang panjang dan pahit dengan peternak dan penambang.

Brasil kesulitan menetapkan apa persisnya quilombo itu. Mulanya definisi itu—komunitas keturunan budak yang kabur—tampak tak bermasalah. Tetapi, bagaimana hukum semestinya memperlakukan tempat-tempat seperti Frechal, di hutan timur Brasil, di mana budak yang membantu membebaskan majikannya dari utang dihadiahi tanah, tetapi masih ditindas oleh penanam pascakolonial? Bagaimana dengan Acará, di negara bagian Amazon hilir bernama Pará, di mana seorang pemilik katanya memberi perkebunannya kepada seorang budak yang dicintainya—tetapi tidak memberinya sertifikat tanahnya? Atau tanah di Tocantins, negara bagian di sebelah tenggara Pará, yang pada 1860-an dihadiahkan pemerintah kepada milisi budak karena terjun dalam perang melawan Paraguay? Dalam definisi yang ketat, semua permukiman tersebut bukan dibuat oleh orang pelarian. Tetapi, semuanya merupakan komunitas otonom yang didirikan oleh orang Afrika, lalu orang Indian bergabung, dengan budaya hibrida, sejarah perlakuan buruk yang panjang, dan tanpa sertifikat sah yang diakui untuk tanahnya. Apakah mereka harus diusir dari rumahnya?

Untuk menyelesaikan sengketa ini, Luiz Inácio Lula da Silva yang merupakan presiden pada masa itu memutuskan pada November 2003 bahwa quilombo adalah komunitas mana pun yang menamai dirinya sebagai quilombo dan memiliki “leluhur Afrika yang terkait dengan sejarah perlawanan terhadap penindasan historis.” Setelah keputusan Lula, quilombo bermunculan dari bayangan dalam jumlah begitu besar, sehingga badan yang mengevaluasi klaim mereka pun kewalahan. Sekitar 1.700 quilombo telah diakui secara resmi, dan jumlahnya terus bertambah seiring banyaknya komunitas yang tadinya tak terlihat kini menampakkan diri.

Dengan kian panjangnya daftar komunitas yang mengajukan klaim, kalangan peminat bisnis dan pembela lingkungan menyadari dengan waswas bahwa permukiman Indian-Afrika yang kecil-kecil ini dapat memperoleh wilayah Sungai Amazon yang luas. Lebih buruk lagi, dari sudut pandang mereka, karena banyak quilombo dibangun pada tanah subur dengan akses sungai, sebagian tanah pelarian adalah properti paling berharga di cekungan sungai.

Bagi tamu luar, pertanian milik Maria do Rosário Costa Cabral dan keluarganya di negara bagian Amapá tampak seperti lanskap tropis yang tak terjamah: pohon tinggi dan sulur rimbun, tanah berlumpur yang diselimuti tumbuhan membusuk. Namun, hampir setiap spesies di dalamnya dipilih dan dirawat oleh Costa Cabral dan saudara-saudaranya. Selama bertahun-tahun mereka menanam limau, kelapa, cupuaçu (kerabat kakao), dan açaí (buah palem yang populer karena konon mengandung banyak antioksidan). Di tepi sungai mereka dengan hati-hati merawat semak dan menanam pohon buah yang mengundang ikan masuk ke hutan saat air pasang. Namun, semuanya tampak liar, setidaknya bagi orang luar.

Pertanian itu berada di dekat Mazagão Velho, kota yang didirikan pada 1770 oleh kolonis Portugis dari Maroko yang disuruh pemerintah untuk pindah ke Amapá, dengan harapan kehadiran mereka di sana menghalau potensi serangan oleh kolonis Guyana Prancis di sebelah utara. Untuk memudahkan transisi ini, para kolonis dihadiahi beberapa ratus budak. Kota baru itu dirancang sebagai kota bergaya Eropa dengan alun-alun anggun dan kisi-kisi jalan. Para kolonis segera menemukan dengan kecewa bahwa Mazagão Velho bercuaca sangat lembap. Tak sampai sepuluh tahun setelah mereka tiba, para kolonis—terjangkit malaria, tinggal di gubuk reyot yang tidak diperbaiki karena mereka terlalu miskin—memohon pemerintah agar memindahkan mereka. Pada akhirnya, hampir semua kolonis menyelinap pergi. Tanpa upaya dari mereka sendiri, para budak tahu-tahu tak bermajikan.

Mereka bebas sepanjang mereka berpura-pura masih budak. Bangsa Portugis ingin bisa melapor kepada Raja bahwa ada permukiman yang menjaga sayap utara Brasil, dan Mazagão Velho cocok untuk tugas itu. Seiring tahun-tahun berlalu, keturunan orang Afrika dalam koloni itu menyebar ke daerah pedesaan. Hidup di tepi sungai seperti penduduk pribumi di wilayah itu, para budak tanpa majikan ini bertahan hidup dengan cara yang sama seperti tetangga Indiannya: Sungai menyediakan ikan dan udang, kebun berskala kecil menghasilkan ubi kayu, pepohonan menyediakan semua hal lain. Setelah dua abad ditanam, dirawat, dan dipanen terus-menerus, hutan itu pun menjadi terstruktur. Dengan memadukan teknik pribumi dan Afrika, mereka menciptakan lanskap yang cukup rimbun sehingga dikira sebagai alam liar tak terjamah.

Costa Cabral adalah nenek 62 tahun yang kuat dan waspada, lahir di quilombo miskin bernama Ipanema. Ayahnya melewatkan hari-hari mencari pohon karet di hutan, tumbuhan pribumi Amazon, dan menyadap getah karet dari balik kulitnya. Jika dia menemukan sekelompok pohon yang sangat produktif, dia tahu bahwa orang yang lebih kaya dan berkuasa akhirnya akan mengetahui lokasinya, mengusir penyadap karet seperti dirinya, dan mengambil alih. Karena tak bisa mendapatkan sertifikat tanah yang sah, Costa Cabral dan keluarganya hidup pas-pasan dengan menjual udang, buah açaí, dan minyak sawit. Mereka membuat pertanian dan berkali-kali diusir dari situ. Jadi, pada 1991 Costa Cabral dan kakak-adiknya menyambar kesempatan membeli 10 hektare di tepi sungai Igarapé Espinhel, anak sungai Amazon.

Bagi orang non-Amazon, tanah itu tidak mengesankan. Terletak di labirin anak-anak sungai yang mengalir ke muara Amazon, tanah itu dibanjiri air pasang dua hari sekali. Bahkan saat permukaannya tidak terbenam, tanahnya berlumpur begitu lengket sehingga dapat mencopot sepatu but dari kaki dengan mudah. Persis sebelum Costa Cabral membelinya, tanah itu dirusak oleh demam umbut palem-paleman pada akhir 1980-an, ketika setiap restoran trendi di New York dan Los Angeles menyajikan salad umbut. Tongkang bajak laut berburu umbut di hilir Sungai Amazon segigih pembunuh bayaran.

Costa Cabral dan keluarganya mulai menggarap tanah dengan teknik yang dipelajari dari ayah mereka. Mereka menanam pohon kayu yang tumbuh cepat untuk kilang kayu di hulu. Untuk pasar, mereka menanam pohon buah-buahan. Dengan lukah udang—mirip dengan perangkap di Afrika Barat—mereka menangkap udang dengan bubu yang mengapung di sungai.

Hutan garapan seperti milik Costa Cabral tersebar di seluruh Cekungan Sungai Amazon. Namun, penatagunaan lingkungan yang terlalu hati-hati kadang merugikan Quilombola. Organisasi lingkungan sering berasumsi bahwa semua tindakan manusia pasti merusak hutan. Sekitar tiga ratus kilometer di sebelah barat Mazagão Velho, kaum Quilombola di Sungai Trombetas mengelola hutan dengan begitu indah sehingga pada 1979 Brasil menetapkan suaka biologi seluas hampir 4.000 kilometer persegi di tepi timur sungai. Undang-undang yang menetapkan suaka itu melarang “perubahan lingkungan apa pun, termasuk berburu dan menangkap ikan di wilayah itu,” membuat murka para warga yang keluarganya sudah satu setengah abad hidup di sana. Sepuluh tahun kemudian, enam quilombo dilahap oleh hutan nasional baru yang berukuran hampir sama di tepi barat sungai. Hutan nasional itu dibuka untuk tambang bauksit raksasa, tetapi melarang warga jangka-panjangnya menebang pohon.

“Justru karena orang-orang inilah hutan ini masih ada,” kata Leslye Ursini, antropolog di badan pengelolaan tanah Brasil, INCRA. “Sekarang mereka diserang oleh pembela lingkungan dan penambang bauksit.” Menimbang bahwa banyak warga quilombo justru membantu membentuk lanskap Amazon yang ingin dilestarikan para pelestari lingkungan, mengusir mereka dari wilayah itu malah akan memperburuk keadaan hutan, kata Ursini. Pandangan ini diungkapkan berulang-ulang oleh para pembuat kebijakan dan warga quilombo di seluruh Brasil.

Setahun setelah membeli properti, Costa Cabral mendapat kejutan yang tidak menyenangkan: Sertifikat tanahnya, sama seperti banyak sertifikat di Amazonia, kacau. “Kami datang ke kantor INCRA untuk memeriksa apakah sertifikat itu sudah selesai,” katanya. Keluarga itu menemukan bahwa “secara resmi, properti itu dimiliki oleh orang lain, dan sertifikat itu memiliki utang pajak.” Karena pemerintah juga memiliki hak gadai atas properti itu, Costa Cabral harus membayar utang pajak itu untuk memiliki properti. Itu sama saja dengan membeli lagi tanah itu. Selama sepuluh tahun lebih ia terus berjualan açaí, udang, dan tanaman obat di Macapá, ibu kota Amapá, sedikit demi sedikit mengumpulkan cukup uang untuk melunasi pajak. Dia memperoleh surat kepemilikan pada 2002. Suatu hari Costa Cabral bertemu dengan rombongan survei di pertaniannya, yang memasang pancang dan mengikatkan pita pada pohon. “Mereka berkata, ‘Bagus sekali tempat açaí ini—mari kita bagi-bagi dan jual,’” dia mengenang. Para pembeli itu lalu menggunakan pengadilan untuk mengusir penduduk yang ada—praktik umum di Brasil pedesaan.

“Aku naik pitam,” katanya. “Aku berkata, ‘Aku yang menanami tanah ini.’”Ia menunjukkan surat-suratnya kepada inspektor INCRA. “Mereka memeriksanya dan berkata kepada surveyor, ‘Tunggu; Anda tidak boleh mencuri tanah ini.’”

Pada 2009 Presiden Lula menandatangani Undang-undang Sementara 458, upaya yang sangat ambisius untuk membereskan kepemilikan tanah di Amazonia—akar penyebab kekerasan dan perusakan ekologi selama 40 tahun terakhir. Undang-undang itu memberi sertifikat kepada quilombo yang anggotanya sudah menempati tanah dan masing-masing memiliki kurang dari 80 hektare. Undang-undang itu pernah dipermasalahkan di pengadilan atas nama kelompok industri dan lingkungan, yang keduanya berargumen dengan bersemangat bahwa undang-undang itu menghadiahi penghuni liar yang mengambil tanah secara ilegal. Tetapi, sementara penerapannya dilakukan di kebanyakan negara bagian, diharapkan undang-undang itu dapat mengakhiri perjuangan berabad-abad secara gemilang. Dengan menarik ribuan permukiman ini keluar dari bayangan, pemerintah nanti dapat berinvestasi dalam sekolah dan klinik, sesuatu yang tak dapat dilakukannya selagi keberadaan permukiman itu dipermasalahkan.

Kami berbicara dengan Costa Cabral tak lama setelah undang-undang itu ditandatangani. Dia belum mendengar kabar itu. Tetapi, saat kami memberitahunya, ia mengangguk bersemangat. “Akhirnya,” katanya.

Oleh Charles C. Mann dan Susanna Hecht
Foto oleh Tyrone Turner

Sumber:

 

Previous article1 April 2012, E-KTP Tidak Gratis Lagi !
Next articleMenu Sarapan Favorit Dunia
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.