Home Kesehatan Bahaya! Virus Dan Bakteri Makin Kebal

Bahaya! Virus Dan Bakteri Makin Kebal

688
0

WHO (Word Health Organazition) telah mengklaim bahwa dunia kini sedang memasuki krisis antibiotik, luka gores di lutut bisa menjadi sangat fatal apalagi melakukan operasi. Margaret Chan, direktur jenderal WHO, mengingatkan bahwa kini bakteri mulai menjadi resisten terhadap antibiotik, jika demikian maka tidak lama lagi berakhirlah era pengobatan modern.

Akibat dari resistensi tersebut maka setiap antibiotik yang pernah dikembangkan akan menjadi tidak berguna, sehingga operasi kecilpun bisa sangat berbahaya. Rentetannya adalah obat-obatan  yang dikembangkan untuk mengobati TBC, malaria, infeksi bakteri dan HIV / AIDS, juga tidak akan berguna. Semua itu disampaikan oleh Chan pada sebuah konferensi tentang penyakit menular di Kopenhagen.

Resistensi antibiotika
Sebenarnya apa resistensi antibiotika itu? Bila suatu antibiotika kehilangan kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan atau membasmi pertumbuhan bakteri. Kata lainnya bakteri kebal dan terus berkembang biak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup untuk pengobatan.

Sebenarnya resistensi terhadap antibiotika adalah fenomena yang alami. Jika antibiotika digunakan, tidak semua bakteri ‘rentan’, dan bakteri yang mengalami resistensi tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat terus hidup daripada bakteri lain. Bakteri yang masih hidup ini akan bertahan hidup untuk menciptakan turunan yang resisten terhadap antibiotika.

Bakteri dapat menjadi resisten melalui dua cara, dengan mutasi genetika atau  dengan mendapatkan resistensi dari bakteri lainnya. Mutasi genetis akan menghasilkan tipe resistensi yang berbeda. Beberapa mutasi mengakibatkan bakteri yang dapat menghasilkan zat kimia (enzim) yang cukup untuk menonaktifkan antibiotika, sementara mutasi yang lain dapat menghilangkan sel yang menjadi target serangan antibiotika.

Mutasi jenis lain menutup gerbang tempat masuknya antibiotika ke dalam sel, dan mutasi yang lain lagi menghasilkan mekanisme pemompa yang dapat mengirim antibiotika keluar sel sehingga antibiotika tersebut tidak akan pernah dapat mencapai sasarannya.

Bakteri bisa mendapatkan gen-gen resisten terhadap antibiotika dari bakteri lain dengan beberapa cara. Dengan melakukan proses perkawinan yang disebut “konjugasi,” bakteri dapat mentransfer materi genetik, termasuk kode-kode genetik yang resisten terhadap antibiotika.

Virus juga merupakan mekanisme lain untuk menularkan sifat resistensi diantara beberapa bakteri. Sifat resistensi turunan dari satu bakteri dikemas ke dalam bagian kepala virus.  Kemudian virus tersebut menyuntikkan sifat resisten ke dalam bakteri baru yang diserangnya.

Bakteri juga memiliki kemampuan untuk mendapatkan DNA, “gratis” yang masih polos dari lingkungan mereka. Bakteri yang mendapatkan gen-gen resisten, baik melalui mutasi spontan atau melalui pertukaran genetis dengan bakteri lainnya, memiliki kemampuan untuk melawan satu atau lebih jenis antibiotika. Oleh karenanya seiring dengan berjalannya waktu bakteri dapat mengumpulkan beberapa sifat resistensi, mereka dapat menjadi resisten terhadap beberapa jenis antibiotika yang berbeda.

“Krisis ini telah dibangun selama beberapa dekade, sehingga hari ini infeksi yang sederhana saja dapat membahayakan jiwa dan mengobatinya menjadi sulit bahkan tidak mungkin terobati,” kata Chan.

Mau tidak mau untuk mengurai krisis ini maka WHO mengimbau kepada pemerintah di seluruh dunia untuk mendukung penelitian tentang resistensi antimikroba.

Sumber:

Previous articleApa Hebatnya iPad 3 ?
Next articleApa Arti Kamseupay ?
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.