Home Berita Terkini BBM Premium Naik 44,4 Persen Per Liter?

BBM Premium Naik 44,4 Persen Per Liter?

690
2

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memilih opsi kedua yaitu mematok subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp2.000 per liter (44,4% dari harga semula yaitu Rp.4500,-) karena dinilai lebih fleksibel.

“Pemerintah pilih opsi kedua karena lebih fleksibel. Jadi, kalau naik turun sedikit akan terus disubsidi.” kata Menteri ESDM Jero Wacik usai Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Selasa 28 Februari 2012.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mempertimbangkan dua opsi terkait kenaikan harga BBM bersubsidi. Opsi pertama, menaikkan harga BBM bersubsidi Rp1.500 sehingga Premium naik dari Rp 4.500 menjadi Rp6.000 kembali seperti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, dan opsi kedua dengan mematok kenaikan harga Rp2.000 per liter, sehingga harga Premium menjadi Rp6.500 per liter.

Jero mengatakan pemerintah mempunyai dua opsi mengingat harga minyak dunia sudah mengalami kenaikan di mana rata-rata harga minyak mentah (ICP) sekarang sudah menembus US$121 per barel.

“Kemarin Januari saya tanda tangan harga minyak mentah US$115 per barel di mana asumsi APBN US$90 per barel kelihatan jauh. Nah, sekarang rata-rata harga minyak mentah kita sudah US$121 per barel. Dilihat dari segi harga minyak mentah, APBN kita akan tertekan.” ujar Jero.

Apalagi, lanjut Jero, dengan melihat pertumbuhan dunia yang mempengaruhi harga minyak dunia dan suasana geopolitik di Iran. “Maka asumsi-asumsi yang sudah diadakan di APBN tahun 2012 banyak yang menyimpang dan signifikan.” kata Jero.

“Karena itu kita harus segera mengambil langkah tentang APBN tapi kita juga harus jaga masyarakat menengah ke bawah, karena mereka rentan,” tambah Jero.

Maka dari itu Jero mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dalam menghadapi isu rencana kenaikan harga BBM. “Tenang saja, kami dengan DPR akan cari formula yang baik, kalau APBN mengalami kenaikan nantinya akan ada kompensasi kepada masyarakat yang tergolong miskin supaya tidak terlalu berat.” kata Jero.

Jero mengatakan, sesuai petunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kalau kantong pemerintah kempes jangan rakyat saja yang disuruh berkorban, tapi pemerintah juga harus berkorban. “Maka dari itu, APBN kami juga akan dikurangi, proyek dan gedung bisa ditunda untuk mengamankan APBN,” ujar dia. (umi)

Jika BBM Naik Rp2.000, Harga Rumah Naik 20%

Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Apersi) menyatakan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak terhadap harga jual rumah.

“Pasti berdampak, karena kenaikan harga BBM juga mempengaruhi bahan komponen rumah yang nantinya juga pasti naik seperti semen, besi, dan asesoris lainnya,” kata Ketua Umum Apersi, Eddy Ganefo, kepada VIVAnews di Jakarta, Selasa 28 Februari 2012.

Akibatnya, Eddy menambahkan, biaya produksi yang terkena imbas dari kenaikan harga BBM tersebut. Karena, bahan baku bangunan menggunakan jasa angkutan dalam mengangkut material alam. “Kalau mengangkutnya besar, juga cukup tinggi harganya,” ujarnya.

Saat ditanya rencana kenaikan harga BBM sebesar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter, Eddy mengungkapkan bahwa harga rumah akan naik sekitar 20 persen lebih. “Kalau naiknya sekitar Rp1.500-2.000 itu sudah hampir setengahnya harga BBM, berarti untuk rumah naik 20 persen lebih,” kata dia.

Tentunya, Eddy menambahkan, untuk tipe rumah dengan harga Rp100 juta bisa naik menjadi Rp110 juta sampai Rp120 juta per unit. “Itu juga belum pasti harganya, karena masing-masing harga materialnya berbeda-beda,” ujarnya.

Sebelumnya, lembaga konsultasi dan riset properti, Colliers International juga menilai bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak kepada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah dalam membeli rumah. Sebab, akan membuat kebutuhan dasar bahan bangunan naik, sehingga developer akan menaikkan harga dasar properti.

“Transaksi harga maupun upah yang diminta pekerja juga akan naik,” kata Associate Director Investment Services, Colliers International, Aldi Garibaldi, kepada VIVAnews, akhir pekan lalu.

Aldi mencontohkan, sebelum kenaikan harga BBM, dengan pendapatan masyarakat maksimal Rp5 juta, untuk membeli rumah masih bisa mencicil sebesar Rp1,5 juta. Sisanya, masih bisa membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Namun, dia melanjutkan, sesudah kenaikan harga BBM, harga kebutuhan pokok, bahan bangunan juga naik dan ikut mempengaruhi kenaikan cicilan. “Akhirnya, kelas menengah berpikir cicilan nanti dulu, karena harga kebutuhan pokok naik. Ya sudah, tidak usah beli rumah, lebih baik mengontrak saja. Meski harga kontrakan juga naik,” katanya. (art)

Sumber:

Previous articleOrang Kaya Cenderung Suka Berbohong !
Next articleAwas Hoax, Berita Kematian Bimbim di Twitter
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

2 COMMENTS

  1. msh Larang minyak sampai 10.000 , padahal yg make rata2 kada beisi kendaraan , make kompor gas rumah kada mendukung jua:)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.