Home Serba Serbi Fakta Petani Terbunuh Nuklir

Petani Terbunuh Nuklir

738
0

“Sapi terakhir kita sudah dijual!” Kabar dari Gilbert Hoggang atau akrab disapa Jil-San cukup mengagetkan saya.

Ternyata penyebabnya, sediaan pakan (rumput awetan) yang disiapkan tahun lalu sudah habis. Sedang rumput lapang dan jerami segar sudah tercemar radiasi nuklir. Meski tak dalam angka tinggi.

Isu keamanan pangan menjadi isu penting di Jepang, pasca kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima setelah diterjang gempa dan tsunami, 11 Maret silam. Sebuah komik strip di The Japan Times bulan Juli mengisahkan sepasang tokoh berbelanja di supermarket. Di panel terakhir, tokoh lelaki memutuskan untuk mengambil satu makanan kaleng. Katanya, biarpun bukan makanan sehat karena kandungan kalori terlalu tinggi, setidaknya kandungan Cesium (salah satu unsure radioaktif/cemaran nuklir) masih di bawah ambang batas.

gambar ini paling populer di jepang saat ini. tiap hari muncul di koran. :p~~~

Komik strip itu tak mengada-ngada. Sangat mewakili fakta. Juli ini, ditemukan kandungan bahan radioaktif di daging sapi dari peternakan di wilayah Fukushima sampai 6 kali lipat batas aman. Pemusnahan masal terhadap produk daging yang sudah tercemar pun dilakukan.

Contoh lain di Tochigi, tempat saya bermukim sementara. Meski berjarak lebih kurang 120 km dari reaktor nuklir yang bocor, pencemaran radioaktif pada bahan pangan tetap menjadi momok. Saban hari, 3 orang staff Sekolah Kampung Asia (Asian Rural Institute/ARI) mengorbankan keselamatannya untuk mengukur tingkat radiasi. Warga sini pula tak berani memakan hasil kebun mereka sendiri sebelum mendapat hasil uji kandungan radioaktif dari laboratorium. Meski biaya uji kandungan radioaktif pada bahan makanan tak bisa dibilang murah. Sebagai contoh;

BAHAN YANG DIUJIJUMLAH SAMPELBIAYA UJI
Daging300 gr15.000 Yen
Telur10 butir15.000 Yen
Sesayur daunLump sump7.000 Yen

* Kurs 1 yen kurang lebih Rp 106

Menjadi petani di bawah bayang-bayang radiasi nuklir membuat mereka belum tentu bisa mengonsumsi hasil kebun sendiri. Tak hanya tanaman, bahkan tanah pun sudah terpapar bahan radioaktif. Para petani di sini, setidaknya yang dilakukan di ARI melakukan beberapa cara untuk memproduksi bahan pangan yang aman dikonsumsi. Salah satunya adalah membuang bagian yang telah tercemar, dan mencegah cemaran berikutnya yang biasanya membonceng tetes hujan. Di ARI, mereka mengeruk dan membuang lapisan atas tanah yang telah tercemar, kemudian membangun rumah bayang (greenhouse) untuk tempat bercocok tanam. Hasil uji dari produk pangan dari rumah bayang menujukkan simpulan; tak terdeteksi (cemaran radioaktif).

Jika petani yang berada di radius yang terkategori aman macam Tochigi pun masih was-was macam ini, apa yang terjadi dengan petani di radius terdekat? Pemerintah Jepang menetapkan radius 20 km dari Fukushima sebagai kawasan terlarang bagi manusia. Ia sudah menjadi kota mati. Radius 30 km ditetapkan sebagai kawasan siap-dievakuasi. Semua hasil pertanian di kawasan berbahaya tersebut sudah terlarang untuk dikonsumsi, baik untuk sendiri apalagi dijual.

Rumus pertanian itu sederhana; 33 % kualitas bibit, 33 % kualitas tanah, 33% kesempurnaan pemeliharaan. Sisa 1 % lagi tapi memegang peran teramat penting adalah nasib. Misalnya, sesaat jelang panen tiba-tiba merapi meletus dan abu panas membakar tanaman di kebun sayur petani di Magelang. Sama halnya dengan di Fukushima. Saat petani riang menyambut musim semi yang berarti musim baik untuk bertani sudah datang, kebocoran reaktor nuklir di Fukushima terjadi mengakibatkan tanaman tercemar, lalu sontak pemerintah menyatakan produk pertanian mereka terlarang dikonsumsi.

Bagi mereka tak ada pilihan selain pergi. Tapi pergi bukan perkara gampang. Pertama, mereka berbeda dengan korban tsunami yang bisa memutuskan harus pergi karena tak punya apa-apa lagi. Pada petani korban nuklir? Rumah mereka masih berdiri, tanaman mereka masih menumbuhi kebun, sapi atau hewan ternak lain masih hiruk di kandang, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa di sana. Kedua, karena TEPCO (perusahaan yang reaktor nuklirnya bocor) hanya membayar kompensasi bagi penduduk di radius 20 km.

Sedikit orang yang bisa memutuskan cepat seperti yang dilakukan 2 petani pelaku pertanian alami (natural farming) macam Sato Kazuo dan Shinpei Murakami. Mereka tak terima sepeserpun ganti rugi, sebab lokasi lahan pertanian mereka di luar radius 20 km. Sato di radius 40 km, dan Shinpei di radius 45 km.

Bahkan ada petani yang memutuskan bunuh diri setelah penghidupannya dibunuh radiasi nuklir. Satu pelaku pertanian organis bunuh diri pada tengah April. Satu lagi, peternak sapi perah bunuh diri pula sebulan setelahnya.

Hingga kini, meski telah masuk 5 bulan pasca bencana, ujung penanganan kebocoran radiasi nuklir di Fukushima belum terbayang. Berapa banyak lagi petani yang bakal terbunuh? Sedang Sabtu malam lalu, Machiko Kaida teman di Waseda University sembari mengabarkan ada satu simposium aksi anti-nuklir, dia bilang, “Meski telah terjadi bencana nuklir di Fukushima, mimpi pemerintah dan pemilik modal Jepang untuk mengekspor dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir tetap berjalan.”

Tambah Machiko, “Bahkan ke Indonesia!”

Uphs! Kabar buruk bagi sapi, eh, bagi petani.###

[SyamAR; Nasushiobara, 2 Agustus 2011]

Sumber:

Previous articleTips Menaikkan Berat Badan Untuk Anda yang Kurus
Next articleMotor Tercepat Tahun 1920 Dilelang Rp 3 Miliar
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.