Home Berita Terkini Mitos dan Fakta Seputar Subwoofer

Mitos dan Fakta Seputar Subwoofer

1331
0

Makin besar diameter subwoofer, makin rendah pula low frequency. Anggapan inilah yang kerap ditemui dalam dunia audio, benarkah hal itu demikian?

Perlu diketahui bahwa faktor penting penunjang kualitas suara dari sistem audio amat bersinggungan dengan kolaborasi yang tepat dari tiap komponen.

Makanya supaya bisa mencerna suara dengan tepat kenali dengan seksama peranan masing–masing drivernya.

Apalagi jenis speaker yang berfungsi mengubah energi listrik menjadi getaran mekanis.

Vibrasi ini membentuk gelombang yang kemudian sampai ke indra pendengaran manusia. Peruntukkannya sendiri dikenal dalam beberapa varian, seperti tweeter, midrange, midbass dan subwoofer.

Dengan adanya beberapa kategori itu, alhasil akan menghasilkan frekuensi suara yang lengkap alias tak ‘buntung’, mulai dari frekuensi high, middle sampai low dapat menyatu dan tereproduksi dengan baik. Salah

satu contohnya subwoofer yang mengolah suara dari rentan frekuensi 20 Hz sampai 200 Hz.

Tak ayal, banyak pabrik car audio terus melakukan pengembangan fitur dan teknologi pada subwoofer. Apalagi buat para penggemar yang kerap main SPL, subwoofer menjadi salah satu ‘senjata’ meraih dB tinggi.

Namun yang saat ini menjadi dilema bagaimana memilih subwoofer yang tepat, baik itu untuk system SPL, SQ dan beberapa konsep lain. Apakah makin besar diameter sebuah subwoofer akan menentukan kerendahan frekuensi low-nya?

“Pada dasarnya hampir semua merek subwoofer yang beredar di Indonesia sudah bagus, yang terpenting adalah buatlah box yang benar dulu dan placement untuk instalasi subwoofer agar suara bass yang dihasilkan menjadi maksimal,” ujar Hendrik, instalatur dari workshop Zoom Car Audio, Bekasi.

Sementara menilai pemaparan yang disebutkan, Ia mengakui bahwa diameter sebuah subwoofer sudah pasti menentukan makin rendahnya low frekuensi yang dihasilkan.

Hal itu dapat langsung dilihat dari catalog spesifikasi pabrikan subnya. Instalatur yang kini tak cuma menerima praktek audio, tapi juga bongkar pasang pelek dan ban inipun mencontohkan subwoofer Rockford Fosgate seri P3.

“Kalau yang 10 inci, tuning frequency di 40Hz, lain dengan yang 12 inci, tuning frequency malah lebih rendah, tepatnya di 37Hz,” tuturnya.

Terpenting mesti perhatikan desain box karena akan mempengaruhi kualitas dan karakter suara bass dari subwoofer.

“Beda loh, karakter antara 10 inci dan 12 inci. 10 inci lebih sanggup menghantar suara bass bulat ketimbang 12 inci. Juga 10 inci lebih dominan mengetengahkan suara bass beat – beat cepat,” tambahnya.

Tapi tentunya box sebagai sandarannya mesti tepat, mau model sealed maupun ported.

Minimal harus rigid, kokoh serta ketebalan kayu MDF yang digunakan pun harus cukup.

“Untuk sealed, tak terlalu mengalami factor canceled suara. Beda bila pakai ported, yang riskan terjadi miss frekuensi low-nya,” ucap instalatur di wilayah sekitar jalan K.H Noer Ali, No. 1C dan 1D, Kalimalang – Bekasi.

Dan yang tak boleh dikesampingkan ialah pilih subwoofer yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi serta sesuaikanlah subwoofer dengan kemampuan power amplifier yang digunakan agar suara bass menjadi maksimal dan pastikan konsultasikan dulu keinginan kepada instalaturnya.

sumber: detikoto

Previous articlePetualangan Backpacker !
Next articleBiji Asam Bisa Pulihkan Syaraf yang Rusak
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.