Home Berita Terkini Mata Hari, Intel Cantik Keturunan Indonesia

Mata Hari, Intel Cantik Keturunan Indonesia

1430
1

Sosok Mata Hari, dapat dipastikan sangat jarang orang mengenalnya. Namanya tenggelam bahkan tak diperhitungkan. Padahal, sudah banyak buku dan film yang dibuat untuk menceritakan kisah hidup Indo peranakan Belanda dan Jawa, tepatnya beribu Magelang ini.

Mata Hari adalah nama panggung dari Margaretha Geertruida ‘Grietje’ MacLeod Zelle. Mata Hari lahir di Netherland Leeuwarden 1876.

Tak berbeda dengan sosok Irfan Bachdim atau Daniel Sahuleka, masa hidup Mata Hari sangat penuh warna. Mengawali karier sebagai penari di gedung Societet Harmonie Batavia, sosoknya kemudian mendunia. Namanya menjadi ‘buah bibir’ khalayak. Fotonya dicetak dalam kartu pos dan diedarkan ke berbagai penjuru Eropa. Dia terkenal selaku penari erotis, pelacur, dan mata-mata bagi bala tentara Prancis dan Jerman yang pada saat itu terlibat gejolak amuk Perang Dunia I.

 


Mata Hari
Tanggal lahir: 7 Agustus  1876
Tempat lahir: Leeuwarden, Netherlands Leeuwarden, Belanda
Tanggal wafat: 15 Oktober 1917
Tempat kematian:  Vincennes, France Vincennes, Prancis

Masa kecil dan remaja tidak banyak bisa diketahui. Yang ada, Mata Hari sempat menjadi anak juragan pertambangan minyak. Sebagai anak orang berpunya, sampai umur tiga tahun Mata Hari bersekolah secara eksklusif. Selain anak juragan tambang minyak, ayahnya juga mempunyai  toko topi. Gaya hidup mewah itulah yang kemudian menyebabkan dia terus mencari kehidupan mapan bergelimang harta meski harus sampai ‘menjual kehormatan’ diri sekalipun.

Tapi, kehidupan masa kecil yang mewah Mata Hari berakhir pada tahun 1889 saat sang ayah mengalami kebangkrutan dan kemudian bercerai dengan ibunya. Setelah sang bunda meninggal pada 1891, ayahnya kemudian menikah lagi dengan Susan Catharina Hoove pada  9 Februari 1893 di Amsterdam. Namun, Mata Hari merasa tak betah. Dia memilih tinggal bersama walinya Heer Visser di Leiden untuk belajar sebagai guru taman kanak-kanak. Namun, di sana dia juga tak betah. Mata Hari memutuskan pindah rumah lagi untuk tinggal di salah satu kediaman pamannya di Den Haag.

Di tengah kerisauan atas kondisi dirinya karena terpisah dari orang tuanya, saat usia 18 tahun, Mata Hari nekat menjawab tantangan sebuah iklan mencari jodoh yang dimuat di sebuah surat kabar Belanda. Pemasang iklannya adalah seorang perwira artileri tentara, Rudolph Macleod. Mereka kemudian menikah pada 11 Juli 1895 di Amsterdam.

Setelah menikah, mereka pindah ke Jawa di Hindia Belanda. Pernikahan itu menghasilkan dua anak, Norman-John dan Jeanne-Louise. Namun, rumah tangga mereka tak bisa langgeng. Beberapa tahun kemudian, mereka pun bercerai.

Anak lelakinya, John, kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, sedangkan anak perempuannya Louise dibawa bapaknya balik ke Skotlandia. Setelah periode inilah, Mata Hari kemudian mempelajari tari dengan mencontoh gaya penari yang ditatah pada relief candi Borobudur. Dia tinggal di sekitar wilayah candi itu untuk beberapa lamanya.

Di sinilah Mata Hari menemukan format tarinya dengan menggabungkan eksotisme timur ketika dia melekukkan badannya yang hanya ditutupi lembaran benang yang minim. Selama periode ini, yakni tahun 1897 sampai 1902, Mata Hari sempat tinggal di Ambarawa, Tumpang, Banyu Biru, dan Sidanglaya. Di kalangan elite Hindia Belanda, nama Mata Hari mulai dikenal sebagai penari erotis yang mampu memadukan tarian ronggeng Jawa dengan dipadu tarian balet klasik Eropa. Salah satu penggemarnya termasuk raja Sri Pakualam dari Yogyakarta.

Salah satu daya tarik Mata Hari di dalam menari adalah cara mengenakan pakaian yang sangat transparan. Lekuk tubuhnya menjadi bahan incaran para lelaki pejabat tanah kolonial Hindia Belanda. Kain panjang batik dengan motif parang rusak adalah ciri khas pakaiannya. Ia juga mengenakan aksesori yang dipasang di bagian telinga. Secara sengaja, ia pun memilih ornamen gaya tari pertunjukan wayang orang.

Setelah malang-melintang menggelar pertunjukan di berbagai kota di Jawa, seperti di Surabaya dan Jakarta bersamaan dengan kandasnya rumah tangganya, Mata Hari kemudian memutuskan pindah ke Belanda pada tahun 1902. Namun, sebelum kabur ke Belanda, di Hindia Belanda sebenarnya saat itu sudah mulai timbul desas-desus bahwa Mata Hari adalah bagian dari mata-mata sebuah kelompok perlawanan pribumi. Untuk itu, ia pun mantap pergi ke Belanda agar bisa menghindari ‘fitnah’ dirinya sebagai agen spionase itu.

Namun, karier menari Mata Hari mulai mengilat ketika dia tinggal di Paris. Dia menari pada dua buah kelompok tari Folies Bergere dan Madame Kirevsky’s Salon. Nama dia mencorong ke publik karena menawarkan ide baru dalam tarian telanjangnya. Selain itu, ia pun terlibat dalam perselingkuhan dengan jutawan setempat, Monsieur Guimet. Di sini petualangan Mata Hari semakin hebat karena dia menjalangi perselingkuhan dengan banyak pria. Pendek kata, Mata Hari menjadi wanita simpanan banyak lelaki berduit dan berpengaruh.

Pada tahun 1905, karier menari Mata Hari pun mencapai puncaknya ketika dia mengadakan tur ke Skandinavia. Saat itu, liputan media Eropa sangat besar tertuju kepadanya. Sosok dan foto Mata Hari bahkan dijual dalam berbagai bentuk kartu pos di seantero Eropa. Dengan kata lain, waktu itu Mata Hari mengenyam dua sukses sekaligus: sukses sebagai penari dan pelacur. Mata Hari pun merasa bangga akan hal tersebut.

Bahkan, saking terkenalnya, nama Mata Hari kemudian menjadi merek berbagai komoditi, seperti teh, kopi, dan rokok. Sosok Mata Hari menjadi nama berbagai macam produk yang laku di pasaran. Mata Hari menjadi sang superstar!

Kesuksesan Mata Hari ini bertahan sampai tahun 1913. Salah satu hasil tari kreasinya yang dikenang hingga sekarang adalah sebuah tarian yang dia beri nama “The Legend of The Rose”. Tarian ini pertama kali dia pentaskan di Monte Carlo. Banyak kartu pos saat itu merekam gambarnya ketika dia membawakan tarian ini.
                                                              ****
Namun, galibnya ‘hukum besi’ dunia bahwa tak ada yang abadi bila masih ada di bawah matahari. Nasib dia mulai kempis seiring berkecamuknya Perang Dunia I. Pada tahun 1914, karena faktor keamanan, banyak pertunjukan tariannya terpaksa dibatalkan. Mata Hari pun kemudian memutuskan kembali dari Prancis untuk tinggal di negara asalnya, Belanda.

Tapi, ini pun tak berlangsung lama. Karena patah hati akibat menjalin cinta dengan seorang pria, dia nekat kembali lagi ke Paris. Di kota inilah dia kemudian direkrut menjadi agen mata-mata Jerman oleh Clara Benedix. Ia dianggap mampu sebagai penyuplai data penting rahasia militer Prancis karena punya banyak hubungan ‘khusus’ dengan perwira tentara negara itu.
Dalam profesi tambahan ini, Mata Hari mendapat gaji sangat besar hingga 20.000 guilders. Dia kemudian memperoleh kode nama rahasia sebagai agen intelijen Jerman dengan sandi: H-21.

Prestasi Mata Hari sebagai agen juga seimbang dengan gaji yang didapatkannya. Berbagai rahasia pergerakan pasukan Prancis selalu bisa dia dapatkan dan dikirimkan ke pihak Jerman. Caranya adalah dengan mencuri pendengaran dari pembicaraan melalui para perwira tentara Prancis yang dirayu dan diajak tidur bersamanya. Akibatnya, bala tentara Prancis selalu mengalami kerugian besar sebab pergerakan pasukannya selalu diketahui pihak bala tentara Jerman.

Tapi, aksi Mata Hari itu kemudian terbongkar. Melalui salah satu kekasih Mata Hari yang lain, yakni Kepala Dinas Rahasia Prancis, Ladoux, keberadaan ‘profesi sampingan’ Mata Hari terlacak.

Dia kemudian disergap dalam perjalanan pulang menggunakan kereta api dari Madrid menuju Prancis. Dia kemudian diadili dan dinyatakan bersalah sebagai mata-mata yang pantas dijatuhi hukuman mati. Akhirnya, di suatu pagi pada tanggal 15 Oktober 1917, Mata Hari menjalani hukuman tembak di sebuah wilayah terpencil yang berada di pinggiran Kota Paris, Vincennes.

Meski begitu, Mata Hari tetap berkeras bahwa bukan mata-mata. Dia selalu menyatakan: “Pelacur, ya, tapi pengkhianat, tidak pernah!”

Di situlah akhir kisah hidup legenda agen spionase peranakan Indo-Jawa: Mata Hari.

sumber: Adipedia 

Previous articleSepuluh Manusia Paling Aneh Di Dunia
Next articleGallinagos, Burung yang Mampu Terbang 6.500 Km Nonstop
Anak bungsu yang manja dari 3 bersaudara. Bekerja lepas di berbagai warnet sebagai teknisi komputer & jaringan. Sedang berusaha meraih gelar Sarjana Komputer di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

1 COMMENT

  1. wow, kisah yang sangat spektakuler bagi perjalanan hidup seseorang. Lika-liku kehidupan tersebut sangat dramatis, dimana tergambar kesenangan dan kesedihan yg luar biasa(bukan biasa-biasa saja). Akan tetapi itu semua mungkin merupakan cara Mata Hari untuk kembali kepadaNya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.