Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana

Oleh: Muhammad Sufyan

Jika terkait tren mutakhir kedai kopi lokal, kita tentu tak ingin deja vu seperti Kafe Tenda Semanggi tahun 1998 yang kala itu cepat naik pamor dan jadi pilihan publik namun seketika pula memudar tak jelas rimbanya. 

Di banyak kota besar di Indonesia kekinian, terutama menggunakan pendekatan tempat nongkrong yang cozy (baik dengan sentuhan interior modern, vintage, alami, hingga industrial), kedai kopi lokal mulai menemukan marwahnya.

Tanpa membonceng identitas kedai kopi global, kedai kopi tersebut menawarkan identitas sendiri yang khas, yang menariknya selain satu sama lain tak serupa, juga menyajikan kepercayaan diri yang tinggi.

Ambil contoh di Kota Bandung. Ketika cuatan kedai kopi lokal alami banyak dimunculkan Kopi Armor di kawasan Taman Hutan Raya Juanda (kini sudah ditutup dan pindah di lokasi tak jauh beda), maka yang lain pantang mencontek.

Energi kreativitas barudak Bandung membuat bentuk rupa kedai kopi penerusnya bermacam ragam dan menarik.

Semisal Mimiti/Missbee dengan konsep coffee garden, Stream Coffee/Common Ground/Boyle’s (modern minimalis) hingga Kozi Lab (industrial, bahkan gunakan sebuah bekas gudang di kawasan Gudang Utara, Kosambi).       

Di lain pihak, apa biji kopi yang ditawarkan, juga beragam. Ada yang setia dengan kopi Jawa Baratnya seperti Morning Glory dan Yellow Truck, kopi Sumatera (Old Ben Coffee), kopi gayo (upnormal), hingga kopi Indonesia Timur yakni Sulawesi dan Flores (Cultivar).  

Dan, seluruhnya itu hidup. Tempat kopi, sekaligus hang out, ini punya massa yang loyal dan segmensial. Tidak saling memakan, karena sajian lokasi dan tentu kopinya masing-masing memiliki citra unik dan nyata terlepas dari tren kedai kopi global.

Dalam derap kemajuan semacam ini, sebagai penikmat kopi lokal sekaligus akademisi ilmu komunikasi, izinkan penulis menceritakan apa yang belum banyak dipraktekkan kedai kopi lokal sehingga keberlangsungan mereka terjaga ke depannya.

Ini agar jangan jadi sekedar tren kuliner urban yang tak sustain dan berefek luas, kedai kopi lokal semestinya kian hari kian mengkilap dan jadi pilihan prioritas; Tak kalah keren mereka yang datang ke tempat ini dibandingkan ke Starbuck, misalnya.

Barista Bercerita

Jika sempat ingat film Ada Apa Dengan Cinta (AADC?) II, ada fragmen menarik ketika Cinta dan Rangga bertemu Pepeng. Barista dan pemilik Klinik Kopi di Gang Madukoro, Jalan Kaliurang KM 7,5, Sleman, Yogyakarta ini bukan sekedar pembuat kopi, akan tetapi seorang story teller yang baik.

Dalam adegan tersebut, dan nyatanya juga demikian, Pepeng fasih bercerita runtutan sebuah biji kopi. Dari petani mana, bagaimana para petani mengolahnya, dan akhirnya dinikmati para enthusiast coffee. Selain biji, diceritakan pula proses pengolahan kopi menggunakan sejumlah perangkat manual brew –masing-masing mengeluarkan potensi yang berbeda.

Ini taktik menarik dan relevan. Menarik karena saat merecap kopi, ada sensasi soal bagaimana akhirnya bisa kita nikmati. Relevan karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan budaya lisan kuat, senang berbagi kisah satu sama lainnya.

Teknik story telling ini akan menjadi ujung tombak dari kemasan banyak kedai kopi di tanah air. Para barista akan menceritakan cerita panjang di balik aneka biji kopi lokal, sehingga saat minum, ada sensasi tersendiri.

Barista bisa bercerita filsofi di balik sebuah cangkir, mengapa kopi Jawa Barat lebih cocok gunakan teknik V60 dari metode lainnya, sekaligus sampaikan bahwa kopi ini lahir dari paguyuban petani yang peduli alam Gunung Puntang.

Ada proses memilih simbol, kata, kalimat per kalimat yang tepat, sehingga akan muncul pesan komunikasi yang kuat, yang sangat memungkinkan pengunjung kedai kopi lokal kembali datang lain waktu (repeat buyer).

Ada usaha selain meramu dan sajikan kopi enak, juga memberikan kontruksi kisah yang ditafsirkan, dimodifikasi, dan terus disebarkan, sehingga budaya meminum kopi tak lagi semata lifestyle namun sudah menjadi way of life –seperti ditemukan di Sumatera.

Barista yang berkisah, menukil Asfandiyar (2007:2) adalah implementasi teknik komunikasi interpersonal yang dapat digunakan sebagai sarana menanamkan sebuah value pemasaran tanpa perlu menggurui para penikmat kopi.

Jika value sudah tertanam dan diyakini, dalam bidang apapun, sudah pasti publik tak sungkan mengeluarkan effort guna meraih nilai yang diyakininya tadi. Dengan sendirinya, citra kedai kopi lokal bukan sekedar bisa lama bertahan, tapi juga naik dari status semenjana menjadi kedai utama pilihan masyarakat urban. Para barista, berceritalah!


Sumber: Travel.Kompas.com

Leave A Response