Repeater Ilegal Bikin Gerah Operator

Repeater Ilegal Bikin Gerah Operator

0 196

Operator mengeluhkan penggunaan perangkat penguat sinyal (repeater) ilegal yang menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas jaringan telekomunikasi. Bahkan tak jarang jika repeater yang dipasang tidak sesuai persyaratan dan tanpa melakukan sinkronisasi teknis dengan operator seluler bersangkutan, menimbulkan interfensi pada jaringan telekomunikasi secara umum.

Karena itu, para operator telekomunikasi melalui Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), mengimbau pelaku usaha dan masyarakat untuk tidak menggunakan repeater ilegal. Hal ini agar konsumen bisa mendapatkan layanan telekomunikasi seluler secara optimal.

Diungkapkan Ketua Umum ATSI, Alexander Rusli, koneksi jaringan telekomunikasi, termasuk data, saat ini adalah salah satu kebutuhan utama dalam gaya hidup digital masyarakat.

“Kalau jaringan telekomunikasi terganggu, kehidupan digital menjadi tidak nyaman,” tutur Alex dalam diskusi panel ‘Penyalahgunaan Penguat Sinyal Seluler: Dapatkah Ditertibkan’, di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Alex yang juga Chief Executive Officer (CEO) Indosat mengungkapkan bahwa repeater ilegal yang mengganggu jaringan Indosat berdasarkan data terakhir mencapai sekitar 200-an. Namun diprediksi jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.

“Repeater ilegal yang jangkauannya kecil seperti di dalam ruangan, kita tidak tahu berapa jumlahnya. 200-an repeater ilegal yang terdeteksi itu jangkauannya luas,” jelas Alex.

Sementara itu, Vice President ICT Network Management Area Jabodetabek – Jawa Barat Telkomsel, Mustaqhfirin mengungkapkan bahwa hingga akhir tahun 2013 jumlah repeater ilegal yang mengganggu jaringan Telkomsel mencapai 121.

Dari total itu, paling banyak berada di area Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) yaitu sejumlah 66 repeater ilegal yang mempengaruhi 275 BTS.

“Repeater ilegal banyak ditemukan di permukiman padat penduduk, seperti di kos-kosan. Hal ini berdampak pada layanan kami yaitu voice, SMS, dan Data,” jelas Mustaqhfirin.

Selain Repeater, Jammer Ilegal Juga Bikin Pusing Operator

Foto Repeater Ilegal Bikin Gerah Operator Repeater  Repeater Ilegal Bikin Gerah Operator

Penggunaan repeater atau alat penguat sinyal jaringan seluler ilegal dilaporkan semakin jamak di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Harganya yang terbilang murah dan semakin mudah ditemukan ditengarai jadi alasan utama kenapa perangkat tersebut banyak digunakan tanpa izin yang sah.

Belakangan pihak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kominfo, giat melakukan penertiban repeater ilegal. Dalam Pasal 38 UU Telekomunikasi No. 36/1999 disebutkan: setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan gangguan fisik dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi.

Bagi yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 55 UU Telekomunikasi berupa pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak 600 juta rupiah.

Namun menurut Division Head Network Architecture Indosat, Yune Marketatmo dalam diskusi dengan beberapa media, repeater ilegal bukan satu-satunya masalah yang dihadapi operator saat ini. Terdapat satu jenis perangkat ‘pengganggu’ lain yang kini juga mulai marak digunakan. Perangkat tersebut biasa disebut ‘jammer’, atau alat pengacak/blokir sinyal ponsel.

Yune memaparkan, penggunaan jammer kini mulai tren di tempat-tempat ibadah. Padahal biasanya jenis perangkat ini hanya umum digunakan di penjara, untuk memblokir jalur komunikasi para narapidana.

“Niatnya sih bagus, agar para pengunjung tempat ibadah bisa khusyu beribadah, tidak terganggu dengan nada dering ponsel. Namun jammer juga memiliki efek seperti repeater, bisa mengacaukan jaringan sinyal yang disediakan operator,” kata Yune.

Menurut Yune, jammer juga berposisi seperti repeater, penggunaannya perlu disosialisasikan dan ditertibkan. Namun sayang, harganya yang murah dan dijual secara bebas membuat masyarakat merasa ‘tak berdosa’ untuk menggunakannya tanpa mengetahui adanya beban hukum yang harus ditanggung.

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini