Cerita Lucu di Balik Pemilihan Nama Android KitKat

Cerita Lucu di Balik Pemilihan Nama Android KitKat

0 119

Tak seperti sebelumnya, Google memberi nama versi terbaru dari sistem operasi Android dengan nama sebuah merek coklat. Lalu dari mana asal muasal tercetusnya ide untuk mengadopsi nama KitKat?

Seperti santer diberitakan bahwa Google akan menggunakan Key Lime Pie sebagai nama untuk versi paling anyar dari sistem operasi Android Indikasi ini semakin kuat karena Google gemar menamai sistem operasinya dengan nama hidangan penutup dan sesuai abjad.

“Kami menyadari bahwa sangat sedikit orang benar-benar tahu seperti rasa key lime pie,” jelas John Lagerling, Director of Android Global Partnership, seperti dikutip dari BBC, Rabu (4/9/2013).

Nama Key Lie Pie sendiri memang telah diputuskan akhir tahun lalu sebagai kelanjutan versi terbaru dari Android. Keragu-raguan itu semakin jelas setelah popularitas key lime pie mungkin tak setenar nama dessert lainnya.

Sampai di suatu malam, beberapa pengembang Google mendapatkan inspirasi yang terduga. Coklat dari Nestle KitKat terlintas begitu saja di benak para pengembang Google.

“Salah satu makanan ringan yang kami simpan di dapur untuk menemani saat-saat coding adalah KitKat, dan seseorang berkata; ‘hei, kenapa tidak kita sebut KitKat saja untuk rilis selanjutnya’,” tukasnya lagi.

Setelah nama itu disetujui, tak lama pejabat Google langsung terbang ke Swiss, di mana basis perusahaan Nestle berpusat. Intinya jelas, untuk meminta izin penggunaan nama KitKat.

Sambutan dengan tangan terbuka pun langsung didapatkan oleh Google dari Nestle. Karena tak lama dari meeting itu, keduanya setuju untuk menggunaan nama KitKat untuk Android terbaru.

“Terus terang tak sampai satu jam sampai kami bilang, ‘ayo, mari kita lakukan’,” kata Patrice Bula, kepala pemasaran Nestle.

Bula mengakui ada risiko dari perjanjian ini, misalnya, jika OS baru ini terbukti menjadi rentan terhadap malware itu bisa menyebabkan kerusakan merek KitKat itu sendiri.

“Mungkin aku akan dipecat,” candanya.

“Ketika Anda mencoba untuk memimpin cara baru dalam berkomunikasi untuk mengenalkan profil merek Anda selalu memiliki risiko lebih tinggi daripada melakukan sesuatu yang jauh lebih tradisional. Tapi hey, kenapa kita tidak mencobanya,” tandas Bula. (detikinet)

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini