Home Serba Serbi Mitos Mitos Bulan Safar dan Arba Mustamir

Mitos Bulan Safar dan Arba Mustamir

1 29

Ada anggapan bahwa Bulan Safar adalah Bulan Sial. Bahkan sebagian masyarakat berpantang untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar, misalnya perkawinan, membangun rumah, merantau, memulai usaha, dan sebagainya.

Ada satu hari di Bulan Shafar yang sangat ditakuti akan terjadi sial (bala), yaitu hari Rabu terakhir yang biasa disebut Arba Mustamir atau dalam istilah masyarakat jawa disebut Rebo Wekasan. Pada hari tersebut dikatakan akan turun 320.000 macam bencana (kesialan) di muka bumi, maka untuk menghindari terjadinya sial (turun bala) pada hari tersebut, masyarakat kita melakukan ritual keagamaan dengan bentuk yang berbeda-beda; ada yang shalat Dhuha dengan cara tertentu, ada yang membaca amalan-amalan dengan jumlah tertentu, ada yang mandi, dan lain sebagainya tergantung kebudayaan masing-masing.

Safar adalah nama bulan kedua dalam kalender Islam atau kalender Hijriyah yang berdasarkan tahun Qomariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Safar berada diurutan kedua sesudah bulan Muharram. Asal kata Safar dari Shafar. Yang menurut bahasa (linguistik) berarti kosong, ada pula yang mengartikannya kuning. Sebab dinamakan Safar, karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu sering meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka sehingga kosong untuk berperang menuntut pembalasan atas musuh-musuh mereka. Ada pula yang menyatakan, nama Safar diambil nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit Safar yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Kita kenal penyakit itu sekarang dengan nama penyakit Kusta. Ada pula yang menyatakan, Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkenanya menjadi sakit.

Istilah Rebo Wekasan atau Arba Mustamir mulai dipopulerkan di Indonesia pada sekitar tahun 1987 Masehi. Kemungkinan besar istilah ini mulai disebarkan oleh para murid dan anak angkat dari Syeikh Shoghir/Ni’mat yang pada waktu itu beliau satu-satunya Hakim Mahkamah Syar’i di Mekah yang berasal dari kalangan melayu, selain itu beliau juga terkenal sebagai syeikh haji yang sangat masyhur pada zamannya. Pada tahun 1987 ini, kitab besar karya Syeikh Ni’mat yang berjudul al Bahjatu al Marďiyyaħ fī Fawāidi al Ukhrawiyyaħ, tertanggal 20 Sya’ban 1296 H/1878 M di Makkaħ al Musyarrafaħ mulai banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya adalah bahasa sunda. Namun tidak tahu persis siapa sebenarnya yang pertama kali menerjemahkannya kedalam bahasa Sunda.

Menurut masyarakat Sunda

Safar adalah bulan yang dianggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak. Mereka sangat mempercayai tentang mala petaka yang akan turun pada Rabu Wekasan. Setidaknya menurut mereka ada dua musibah yang akan terjadi pada bulan ini, yaitu:

1. Paceklik Order

Berbeda dengan bulan Raya Agung (hari raya Idul Adha) yang ramai dengan acara hajatan terutama di akhir pekan, di bulan Safar janur kuning tidak lagi terlihat menghiasi gang dan gedung-gedung serbaguna. Masyarakat Sunda enggan untuk melangsungkan pesta perayaan pada bulan  ini. Menurut Ahmad Gibson Al-Busthomi, seorang seniman Sunda, dalam sebuah diskusinya yang menyatakan bahwa dalam masyarakat Sunda tidak dikenal system perhitungan hari baik (astrologi) seperti dalam masyarakat Jawa. Namun, larangan melangsungkan pesta pernikahan atau sunatan ternyata sangat kuat tertancap dalam benak masyrakat. Mereka meyakini ikatan pernikahan yang dilakukan di bulan Safar tidak akan abadi, dan kedepannya akan sulit untuk mendapatkan keturunan (Zuriat).

Hal ini kemudian diperkuat dengan pandangan bahwa bulan Safar adalah bulan kawin anjing. Di beberapa wewengkon tatar Sunda, terutama daerah yang dekat dengan hutan dan masih terdapat anjing liar, pada bulan ini sering terdengar gonggongan dan lolongan anjing. Anjing-anjing tersebut sedang naik birahi dan melakukan perkawinan. Oleh karena itu orang Sunda cadu menikah di bulan ini, karena mereka tidak mau disamakan dengan binatang yang dianggap najis itu.

Kondisi tersebut tentu saja membawa pengaruh ekonomis kepada orang-orang yang bergelut di bisnis pesta hajatan. Para pengusaha perencana pernikahan, seniman, termasuk mubaligh mengalami paceklik order, tidak ada yang mengundang. Mereka akhirnya”berpuasa” untu manggung, bahkan beberapa diantaranya wayahna harus banting setir pindah pekerjaan di bidang lain untuk sementara waktu. Keadaan paceklik order ini baru berakhir tatkala bulan mulud tiba. Dalam sebuah peribahasa Sunda disebutkan “kokoro manggih mulud” orang yang sedang sengsara kemudian mendapat rezeki yang besar seperti bulan mulud. Para pekerja bisnis hajatan yang di bulan Safar dalam kondisi tiseun (sepi order), memasuki bulan mulud mereka kembali merema (banyak order).

2. Bulan Balae

Bulan Safar juga diyakini sebagai bulan balae (bulan bencana). Keyakinan ini sudah terpatri kuat dalam benak masyarakat Sunda. Di bulan ini turun 70.000 penyakit untuk satu tahun ke depan. Berbagai musibah dan bencana juga banyak muncul dibulan ini. Lihat saja berbagai bencana yang saat ini terus melanda beberapa daerah Indonesia, menurut beberapa kalangan Sunda tradisional itu merupakan pertanda akan mitos tersebut. Mitos bulan bencana ini juga diperkuat dengan cerita sejarah kehancuran masyarakat zaman dahulu. Sejak zaman dahulu bencana senantiasa diturunkan di bulan Safar. Allah telah menghukum kaum yang tidak beriman seperti kaum ‘Aad dan Tsamud pada bulan ini.

Masyarakat Sunda pun meyakini bala bencana akan menjauh dan terbebas darinya, apabila menjalani ritual tolak bala dan bersedekah. Ritual tolak bala dilangsungkan dengan cara memanjatkan do’a dan mandi di pantai, sungai atau tempat-tempat keramat tertentu untuk membuang sial. Di masyarakat Cirebon ritual mandi Safar dikenal dengan ngirab.

Menurut masyarakat Banjar

Bagi orang Banjar, bulan Safar dianggap sebagai “bulan sial, bulan panas, bulan diturunkannya bala, dan bulan yang harus diwaspadai keberadaannya”. Karena pada bulan ini, segala penyakit, racun, dan hal-hal yang berbau magis memiliki kekuatan yang lebih dibanding pada bulan lainnya. Dalam anggapan masyarakat kesialan bulan Safar akan semakin meningkat jika ketemu dengan Arba’ Musta’mir.

Karenanya menjadi semacam kebiasaan bagi orang Banjar untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu, misalnya; 1) Sholat sunnah mutlak disertai doa tolak bala, 2) Selamatan kampung, biasanya disertai dengan menulis wafak di atas piring kemudian dibilas dengan air, seterusnya dicampurkan dengan air di dalam drum supaya bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum, 3) Mandi Safar untuk membuang sial, penyakit, dan hal-hal yang tidak baik. Mandi Safar ini menjadi atraksi wisata menarik di Kal-Teng yang dipromosikan. Mandi Safar ini merupakan tradisi masyarakat yang mendiami tepian sungai Mentaya, 4) Tidak melakukan atau bepergian jauh, 5) Tidak melakukan hal-hal yang menjadi pantangan, dan sebagainya. Bagi orang Jawa, untuk menyambut Arba’ Musta’mir (Rebo Wekasan) biasanya dilakukan dengan membuat kue apem dari beras, kue tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga.

Hal lain yang juga menarik untuk diamati adalah, adanya anggapan orang Banjar bahwa anak-anak yang dilahirkan pada hari Arba’ Musta’mir jika sudah agak besar akan menjadi anak yang nakal dan hiperaktif. Sehingga untuk mencegah anak tersebut agar tidak nakal, disyaratkan agar sesudah ia lahir ditimbang (batimbang).

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan peredaran waktu, kepercayaan masyarakat Sunda maupun masyarakat Banjar sebagaimana dijelaskan diatas, memang  sudah mulai berkurang dan mengalami perubahan, tidak seperti dulu lagi dalam memandang bulan Safar. Dan tentu saja, masih ada beberapa orang yang menganggap Safar sebagai bulan kesialan, penuh bencana, penyakit, panas, dilarang melangsungkan pesta pernikahan atau sunatan, dan nahas.

Dalam  kalangan masyarakat Sunda kepercayaan atau keyakinan tersebut dipandang memiliki benang merah dengan kearifan lokal (local wisdom). Larangan untuk melakukan aktivitas hajatan di bulan Safar memang tepat, karena di bulan ini kondisi cuaca seringkali tidak bersahabat. Larangan ini juga bisa diposisikan sebagai penumbuh kesadaran tentang keseimbangan hidup. Masyarakat diajarkan ada waktunya untuk bersuka cita, bergembira dan berpesta, serta adakalanya pula harus beristirahat dan bersiap-siap mengahadapi cobaan, derita dan duka cita. Dengan begitu akan tumbuh kesadaran hidup yang lebih hakiki.

Tolak bala dengan banyak memberi sedekah mengandung makna solidaritas sosial, “paheuyeuk-heuyeuk leungeun” atau saling membantu dan saling menolong. Tatkala di bulan ini tidak ada pesta hajatan, orang-orang miskin yang biasa membantu menjadi kehilangan sumber rezeki. Dengan sedekah mereka kembali mendapatkan topangan hidup.

Sedangkan, di kalangan masyarakat Banjar kepercayaan atau keyakinan tentang mitos bulan Safar ini, menurut penulis, boleh jadi karena memang banyak kasus atau kejadian yang menimpa orang Banjar dan kebetulan pas di bulan Safar. Sehingga karena seringnya terjadi apa yang ditakuti oleh orang Banjar di  atas pada bulan Safar, lalu mereka menjustifikasi bulan Safar sebagai bulan penuh kesialan, marabahaya, dan seterusnya. Akibatnya, dalam perspektif orang Banjar, bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai dan ditakuti. Pantang bagi mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar, misalnya perkawinan, membangun batajak (rumah), menurunkan kapal, bepergian jauh (madam), memulai usaha (dagang, bercocok tanam), mendulang emas atau intan, dan sebagainya. Sebab, ujung dari semua kegiatan tersebut dalam pemahaman mereka adalah kegagalan dan kesusahan, dan khusus bagi mereka yang mendulang sangat rentan terkena racun atau wisa.

Nah, untuk itulah menjadi hal yang signifikan merekonstruksi kepercayaan dan keyakinan (pemahaman) masyarakat terhadap bulan Safar, agar tidak menjadi sebuah mitos dan trauma yang menakutkan. Karena, dalam catatan sejarah Islam sendiri banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dibulan Safar, antara lain:

1) Berlangsungnya perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah binti Khuwalid,

2) Peperangan pertama yang diikuti Rasulullah Saw, yakni perang ‘Wudan’ atau ‘Abwa’ untuk menentang kekufuran,

3) Peperangan Zi-Amin dan Bi’ru Ma’unah yang terjadi pada tahun ke-3 dan ke-4 Hijriyah, dibawah pimpinan Al-Munzir bin ‘Amr As Sa’idiy,

4) Perang Khaibar terhadap orang-orang Yahudi, terjadi pada tahun ke-7 Hijriyah,

5) Peperangan Maraj Rahit pada tahun ke-13 Hijriyah di pinggiran kota Damaskus (Syiria) di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid,

6) Pelantikan ‘Abd. Rahman Al Ghafiqiy sebagai Gubernur Andalusia (Spanyol) pada thun 113 H,

7) Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (ulama besar Kalimantan) dilahirkan pada tanggal 15 Safar 1122 H, dan lain-lain. Dengan demikian bulan Safar tidak selalu identik dengan bulan kejelekan atau bulan kesialan.

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan kerana burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

“Beranggapan sial termasuk kesyirikan (beliau menyebutnya tiga kali).” Lalu beliau bersabda, “Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakal.” (HR. Abu Dawud)

Leave a Reply