Grafologi: Tulisanmu = Watakmu

Grafologi: Tulisanmu = Watakmu

0 103

Manusia sulit berpura-pura soal “jerohannya”. Ada beragam jejak yang bisa dibaca orang tentang kepribadiannya, salah satu tanda untuk menguak hal itu adalah tulisan tangan.

Ya, tulisan tangan yang sudah jarang kita lakukan seiring maraknya layanan pesan singkat dan surat elektronik itu bisa menjadi pintu gerbang buat mengorek kepribadian dan karakter kita. “Tak bisa disangkal lagi bahwa tulisan tangan seseorang itu khas. Karakteristik bentuknya tidak bisa benar-benar ditiru oleh orang lain,” tulis Camillo Baldi dalam bukunya A Method to Recognize the Nature and Quality of a Writer. Buku ini diterbitkan tahun 1622 dan diyakini menjadi buku pertama yang menganalisis tulisan tangan. Camillo sendiri adalah dokter dan filsuf dari Italia serta guru besar di Universitas Bologna.

Tulisan tangan memang bukan hasil karya tangan semata. Ada yang menyatakan bahwa tulisan tangan seharusnya disebut dengan tulisan otak sebab perintah gerak yang membuat tulisan berasal dari otak, bukan dari tangan. “Makanya tidak aneh jika ada orang yang bisa menulis menggunakan kaki,” kata Achsinfina H.S.,CHA, grafolog yang berpraktik di kawasan Bintaro.

Menurut Sinta, begitu Achsinfina H.S.,CHA dipanggil, karakter seseorang merupakan rangsangan dari lingkungan sejak kecil hingga besar. Bentuk atau ukuran huruf seseorang bisa saja berubah, tapi gerakan spontan saat anak-anak membuat “tulisan cakar ayamnya” akan tetap terlihat.

90% lebih akurat

Untuk bisa dianalisis tentu saja kita harus menyerahkan hasil tulisan tangan kita. Sinta mensyaratkan minimal kita membuat 15 baris tulisan. “Tiga baris sih sebenarnya oke-oke saja,” kata wanita yang memperoleh Certificate Handwriting Analysis dari negeri Paman Sam ini. Tulisan tadi harus digoreskan di atas kertas HVS berbobot sekitar 80 g tanpa garis. Mengapa polos? Baseline atau kerataan tulisan ternyata termasuk faktor yang dinilai.

Tidak ada ketentuan harus menulis apa. Bukan cerita yang dinilai. Juga tidak perlu mengerahkan ingatan bagaimana membuat tulisan halus. Grafologi tidak melihat apakah tulisan Anda cantik atau berantakan. Cuma, untuk alat tulisnya harus menggunakan bolpoin standar. Lebih bagus warna hitam. Alat tulis seperti boxy atau pulpen, menurut Sinta, dapat membuat analisis bias sebab kuat lemah tekanan tulisan tidak terbaca.

Cukup itu saja dan tunggu “ocehan” Sinta soal watak Anda. Jangan marah atau tersinggung ketika Anda baru menyadari ada sifat negatif yang ngendon di tubuh Anda. Mungkin Anda bingung. Kok hampir semuanya cocok ya? Intisari sendiri hanya mengiya-iyakan saja sambil tersipu-sipu ketika coretan-coretan hasil wawancara “dibaca” Sinta.

Ada beberapa karakter dan goresan yang bisa digunakan untuk mengintip karakter seseorang. “Misalnya huruf o, i, atau t,” kata Sinta. Perhatikan huruf “o” yang Anda buat. Jika tidak menutup sempurna pertanda Anda cenderung berbohong. Huruf “o” juga menguak seseorang apakah ia teliti atau tidak. Dari penulisan huruf “i” bisa ketahuan apakah seseorang peduli pada detail atau tidak. Sementara huruf “t” akan memberikan pembacaan soal kepercayaan diri. Tentu saja analisis tidak hanya melihat satu huruf saja. Aspek lain pun akan mempengaruhi penilaian karakter seseorang.

Besar kecil huruf (yang diukur menggunakan penggaris), fluktuasi tulisan (makanya, Sinta menyuruh kita menulis di kertas tanpa garis), kecondongan tulisan (apakah miring ke kanan, tegak, atau miring ke kiri), serta lebar tulisan merupakan beberapa aspek yang turut berperan dalam penilaian. Dari kecondongan tulisan, bisa diteropong kehidupan sosialnya. “Jika tulisannya miring ke kanan maka penulisnya memiliki kehidupan sosial yang bagus. Miring ke kiri, cenderung melihat diri sendiri sebagaicenter,” kata Sinta yang mendalami grafologi karena keisengannya ini.

Sebenarnya, semua orang bisa mempelajari grafologi ini. Tidak ada kualifikasi khusus untuk menjadi grafolog. Hanya kemampuan untuk disiplin saja modalnya. Soal keakuratan penilaian, Sinta menyatakan bahwa di atas 90% analisisnya sesuai dengan karakter ternilai.

Tak jadi cerai

Hasil analisis tulisan tangan bisa digunakan di segala aktivitas manusia dan bermacam interaksi. Mulai dari mencari karyawan yang tepat sampai menemukan pelaku kejahatan. Bahkan bisa digunakan sebagai terapi yang dikenal dengan graphotherapy. Pada anak, terapi grafologi ini bisa digunakan untuk meminimalkan sifat negatif, dan memaksimalkan sisi positifnya.

Berkaitan dengan kriminalitas, Sinta pernah menangani kasus pencurian ponsel di sebuah sekolah. Ya bermodalkan dari tulisan tangan orang-orang yang dicurigai. “Polri juga memiliki grafolog kok!” kata Sinta yang baru tahu hal itu ketika ia didatangi polisi yang juga grafolog. Dalam dunia kriminalitas, tulisan tangan bisa menjadi kunci menguak kejahatan selain DNA dan sidik jari.

Dulu sewaktu masih bekerja dan ia melihat surat lamaran di meja temannya, Sinta pasti berkomentar soal kepribadian pelamar. Temannya tak percaya. Akhirnya pelamar tersebut dipanggil dan apa yang disampaikan Sinta sesuai dengan gambaran pelamar. “Saya sampai dibilang dukun,” kata Sinta yang pernah bekerja di sebuah maskapai penerbangan dan perusahaan perminyakan ini.

Betapa cairnya fungsi grafologi ini bisa dilihat dari klien-klien yang sudah ditangani Sinta. Mulai dari anak-anak sampai lanjut usia. “Ada bapak-bapak berusia 75 tahun yang datang ke saya. Ia anggota FAO PBB. Bertanya apa saja yang bisa diperbaiki dari dirinya.” Sinta pun pernah diminta untuk membantu kliennya mencari pengasuh anak yang cocok. Bahkan lulusan Komunikasi Massa UI ini pernah diminta membantu dalam kasus gugat cerai.

Lewat tulisan tangan pula Sinta pernah mendamaikan sepasang suami istri yang hampir bercerai. Padahal pasangan itu termasuk keluarga berpendidikan. Dua-duanya bergelar doktor. Namun karena karakter keduanya bertentangan, maka bahtera keluarga pasangan itu terombang-ambing. Akhirnya, melalui analisis tulisan tangan pasangan itu bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Sinta mengakui bahwa banyak klien yang datang kepadanya untuk tujuan menganalisis diri sendiri. “Untuk menggali potensi diri dan kemampuan,” kata Sinta. Dengan mengetahui potensi dan kemampuan, orang tersebut dapat mengetahui karakter diri yang sesungguhnya. Menurut Sinta, di beberapa perusahaan asing di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, grafologi sudah dilibatkan dalam menyeleksi dan promosi karyawan. “Di Indonesia sudah ada, tapi tidak banyak.”

Sinta juga kedatangan banyak anak yang autis. “Kemampuan verbal anak autis memang kurang. Nah, melalui grafologi ini karakter si anak bisa diungkap sejelas-jelasnya. Orang tua bisa mengetahui karakter-karakter yang tidak diketahui,” kata Sinta. Dengan begitu, orangtua jadi tahu bagaimana cara memperlakukan si anak.

Permasalahan anak-anak memang paling banyak dikonsultasikan ke Sinta. Bahkan ada yang berasal dari luar kota. Ada juga orangtua yang sudah tahu karakter anaknya, namun minta bantuan Sinta untuk memastikannya. Ketika Intisari mau pamit, Sinta bahkan bercerita bahwa ada kliennya yang sudah mau masuk SMA tapi memakai kaus kaki saja masih dibantu. Asal tahu saja, untuk menemui Sinta di ruangan berukuran 2,5 x 4 meter per segi itu tamu harus mencopot alas kaki.

Meningkatkan konsentrasi

Jika diperlukan, Sinta tak jarang menyarankan kliennya, terutama anak-anak, untuk melakukan terapi. Banyak anak masa sekarang, terutama yang hidup di kota-kota besar, mengalami masalah seperti tidak mau belajar, cenderung cuek dengan lingkungan, pemarah, pemalu, atau hiperaktif. Dengan menjalani terapi yang terdiri atas empat sesi, anak-anak mulai “dibentuk” ke arah yang positif.

Pengalaman dua ibu berikut – Indah dan Lina – bisa memberi gambaran betapa terapi grafologi membantu mengatasi masalah anak mereka. Indah, ibu dari Jihad Alvaro Sukmaputra, merasa heran ketika ia sering menerima komplain dari guru anaknya. “Saya merasa Avo – panggilan sang anak – itu pintar. Tapi kenapa kok nilai pelajarannya jeblok?” kata Indah.

Indah lalu membawa siswa kelas 3 SD An-Nisaa Bintaro ini ke ruang praktik Sinta pada Oktober 2007. Indah mengetahui keberadaan Sinta melalui media massa. Setelah dianalisis, ternyata Avo memiliki motivasi yang rendah. Sebelumnya, Indah sudah melihat bahwa daya konsentrasi Avo kurang. “Ia juga cuek. Kalau ada PR sering tidak dikerjakan. Sepertinya ia menganggap bahwa itu bukan tanggung jawabnya,” kata Indah.

Meski memiliki motivasi rendah, dari analisis tulisan tangan Avo punya kelebihan di bidang imajinasi. “Kreativitasnya tinggi,” ujar Indah. Setelah hasil tulisan Avo dianalisis, Sinta menawarkan Avo untuk diterapi. Terapi yang terdiri atas empat sesi itu pun dijalani Avo untuk meningkatkan daya konsentrasinya. Tulisan tangan bisa dibentuk untuk mengubah hal-hal yang kurang pada seseorang. “Memang, untuk itu Avo harus menulis tiap hari. Karena saya bekerja, saya hanya mengecek lewat telepon saja.”

Hasilnya? “Sudah tampak perubahannya. Motivasi sudah meningkat. Nilai pelajaran sudah membaik. Begitu juga konsentrasinya sudah meningkat. Lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.”

Pengalaman Lina mirip dengan Indah. M. Rizky Febriansyah, sang anak yang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, juga memiliki konsentrasi yang kurang. “Tulisannya enggak bagus. Berantakan,” kata Lina. Ia lalu membawa Kiki, begitu Rizky dipanggil, ke Sinta untuk dianalisis. “Saya tahu Ibu Sinta dari sebuah tayangan di televisi.”

Setelah dianalisis, akhirnya Kiki mengikuti terapi grafologi. Perubahan mulai terjadi pada bulan kedua dan ketiga. “Meski terkadang masih harus diingatkan soal tulisannya,” tutup Lina. Yah, namanya juga masih anak-anak. Yang jelas sudah ada perubahan. (Intisari)

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini