6 Penyebab Banjir Besar Jakarta

6 Penyebab Banjir Besar Jakarta

5 276

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengumumkan, hujan lebat dan sangat lebat berpotensi berlanjut hari ini, Jumat 18 Januari 2013 hingga lusa. Sama seperti yang sudah terjadi sejak awal bulan ini, hujan merata se Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang.

Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto pernah menjelaskan kalau level tanah di Jakarta sebenarnya sudah jenuh oleh hujan lebat 2-3 jam yang rajin datang sejak awal bulan. “Kalau tanah sudah jenuh, hujan berapa jam pun akan menimbulkan genangan,” katanya Selasa lalu.

Tanah yang sudah jenuh itu masih harus ‘menanggung’ air dari luapan sungai di banyak tempat. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kemampuan Kali Ciliwung hilir, Angke, Pesanggrahan dan Krukut bahkan hanya mampu mengalirkan kurang dari 30% banjir yang ada. »Tidak heran jika selalu banjir,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Fungsi sungai mandul karena penyempitan dan pendangkalan itu diperparah dengan kondisi di hulu yang juga sudah rusak. Air hujan yang jatuh di sana tak banyak lagi yang bisa terserap ke dalam tanah. Mereka banyak tergelontor ke dalam sungai-sungai yang bermuara ke ibu kota.

Profil aktual dari kawasan Puncak, Bogor, ini diungkap Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor yang menyebutkan bahwa laju pembangunan yang tak terkendali menyebabkan hilangnya fungsi resapan air di kawasan Puncak. »Kehilangan fungsi resapan hingga 50 persen dibandingkan kondisi 15 tahun lalu,” kata Kepala Pusat Studi Bencana IPB, Profesor Euis Sunarti.

Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung, Een Irawan, juga menyatakan kalau kondisi Daerah Aliran Sungai Ciliwung semakin parah dari tahun ke tahun. Gejalanya, menurut dia, dapat dilihat secara kasat mata yakni ketika debit meninggi dan sungai meluap: airnya coklat gelap.

Itu, kata Een, pertanda material tanah ikut terbawa aliran. “Ketika turun hujan di Puncak, debit Ciliwung pasti naik sehingga menyebabkan banjir di Jakarta.”

Di luar tiga faktor penyebab itu, banjir di sebagian wilayah di Jakarta juga dituding disebabkan oleh penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ery Basworo menyatakan ini ketika menjelaskan mengapa ruas Jalan Daan Mogot dan sebagian titik di Jakarta Barat bisa ikut terendam.

Penurunan tanah yang mencapai 10 sentimeter per tahun jelas mampu menciptakan cekungan. »Ini banyak di Jakarta Barat dan Jakarta Utara,” katanya.

Faktor penyebab banjir besar di Jakarta ini bisa bertambah jika memperhitungkan laut yang juga mulai pasang pertengahan bulan ini. Atau, ruang terbuka hijau di Jakarta yang selama ini mendapat kritik karena tak sampai memenuhi syarat minimal, yakni 30 persen dari luas wilayah. Taman-taman dan daerah resapan air di Jakarta sejauh ini hanya menghimpun tak sampai 10 persen luas ibu kota.

BNPB: Banjir Ancam Jakarta Hingga Februari

Foto 6 Penyebab Banjir Besar Jakarta Penyebab Jakarta banjir  20130118122648 banjirbundaranhi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, banjir masih akan mengancam wilayah Jakarta dan sekitarnya hingga Februari karena curah hujan diperkirakan masih tinggi hingga bulan tersebut.

“Data rata-rata bulanan banjir menunjukkan puncak curah hujan di Jakarta terjadi pada bulan Januari hingga Februari dengan intensitas maksimal mencapai lebih dari 400mm. Oleh karena itu ancaman banjir masih terjadi hingga bulan Februari,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk memantau awan dan prediksi curah hujan di Ibu Kota.

Menurut Sutopo, banjir yang terjadi di Jakarta pada Kamis (17/1) disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah Ibu Kota dan bukan disebabkan karena banjir kiriman dari daerah hulu.

Pada Kamis, curah hujan di sejumlah wilayah Jakarta seperti Kedoya mencapai 125mm, Tanjung Priok mencapai 95mm, Cengkareng mencapai 103mm sementara daerah lain kurang dari 100mm.

Sementara itu, hujan lokal pada Kamis membuat ketinggian air di Manggarai mencapai 920cm. Sedangkan tinggi muka air Sungai Ciliwung di Depok hanya mencapai sekitar dua meter (siaga III) sementara di Katulampa sekitar 97cm (Siaga III).

BNPB memperkirakan hujan lebat masih akan mengguyur Jakarta hingga Sabtu (19/1) namun mereda pada Minggu dan Senin.

Akan tetapi, hujan lebat kembali diprediksi akan mengguyur Jakarta mulai dari Selasa pekan depan.

Banjir pada Kamis menggenangi wilayah sekitar 41km persegi atau delapan persen dari luas Jakarta.

Sejumlah 97,608 Kepala Keluarga atau 248.846 jiwa di 910 RT dan 337 RW dari 74 Kelurahan dan 31 Kecamatan di Jakarta terkena dampak banjir.

Sementara 11 orang dinyatakan meninggal karena banjir pada Kamis.

BNPB belum bisa memperkirakan jumlah kerugian karena banjir tersebut, “Saat ini fokus kami adalah jangan sampai korban bertambah,” kata Sutopo.

Sebagai perbandingan, banjir di Jakarta pada 2007 menyebabkan 231,8km persegi wilayah jakarta terendam, 80 orang meninggal, dan 320,000 warga mengungsi. Total kerugian pada banjir 2007 tersebut mencapai Rp4,3 triliun.(tp)

5 COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini