6 Maskapai Penerbangan Indonesia yang Bangkrut

    0 173

    Persaingan industri penerbangan dalam negeri semakin ketat seiring semakin kuatnya kondisi perekonomian nasional. Maskapai penerbangan berlomba-lomba memperkuat dan menambah armadanya untuk melayani kebutuhan masyarakat akan layanan transportasi udara.

    Beberapa maskapai penerbangan berhasil melebarkan sayap bisnisnya dan terbang semakin tinggi. Namun, ada pula maskapai penerbangan yang justru ‘jatuh’ karena tidak sanggup bersaing.

    Dalam sejarah dunia penerbangan komersil di Indonesia, beberapa maskapai penerbangan nasional terpaksa berhenti terbang dan tidak beroperasi karena berbagai masalah. Umumnya karena terbelit masalah utang.

    Yang terbaru dan masih hangat adalah putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang mempailitkan PT Metro Batavia selaku operator maskapai penerbangan Batavia Air. Sebelum Batavia Air, ada beberapa maskapai yang memiliki sejarah kelam karena terpaksa berhenti beroperasi.

    Berikut enam maskapai penerbangan yang bangkrut:

    1. Batavia Air

    Bermula dari usaha jasa agen travel, Yudiawan Tansari, pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat ini nekat mendirikan maskapai dengan basis pasar domestik.

    Dengan nama usaha PT Metro Batavia, Yudiawan mendirikan Batavia Air tahun 2001 lalu. Maskapai ini mulai resmi beroperasi pada 5 Januari tahun 2002 lampai dengan satu buah pesawat jenis Fokker F28 dan dua unit Boeing 737-200. Sebelum beroperasi secara komersil, Batavia merupakan penyedia penyewaan pesawat.

    Pada awal usahanya, Batavia Air tidak melakukan promosi besar-besaran. Batavia merupakan salah satu maskapai terbaik di Indonesia. Maskapai ini memilih pasar dengan kelas menengah yaitu layanan standar, tidak murah dan tidak eksekutif.

    Batavia terus melaju menembus langit Nusantara. Pada Agustus 2003, maskapai ini membuka rute internasional, yaitu Jakarta-Guangzhou, Jakarta-Pontianak-Kutching dan Jakarta-Denpasar-Perth.

    Kini, Batavia yang mempunyai 33 armada pesawat ini berhasil menembus rute internasional China, Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Arab Saudi.

    Dengan jaminan keselamatan yang tinggi, maskapai ini telah mengantongi izin penerbangan di Uni Eropa. Izin tersebut tergolong eksklusif mengingat hanya empat maskapai saja yang mendapat izin tersebut di Indonesia. Yaitu termasuk Garuda dan Lion Air.

    Sejak didirikan 10 tahun yang lalu, Batavia hanya mengalami 8 kali kecelakaan kecil dan tidak merenggut satu nyawa pun. Sayangnya, berbagai prestasi tersebut hanya dihargai Rp 762 miliar oleh maskapai asal Malaysia tersebut.

    2. Bouraq Airlines

    Maskapai ini didirikan pada bulan April 1970 oleh Jarry Albert Sumendap. Perusahaan keluarga ini juga memiliki Bali Air yang saat ini juga sudah tidak beroperasi.

    Awalnya maskapai dioperasikan Douglas DC-3. Dari tahun 1973 turboprop Hawker Siddeley HS 748 diperkenalkan pada layanan Bouraq.

    Kedua maskapai penerbangan ditutup pada tahun 2005 setelah masalah keuangan yang berkepanjangan. Penerbangan Bouraq terakhir dijadwalkan berlangsung pada bulan Juli 2005. Lisensi penerbangan telah dicabut pada 2007.

    3. Jatayu Airlines

    Jatayu Airlines atau Jatayu Gelang Sejahtera awalnya sebuah maskapai penerbangan charter yang didirikan pada 2000 dan pernah mengoperasikan penerbangan domestik dan internasional.?

    Maskapai ini sempat berhenti beroperasi pada tahun 2007. Setelah kembali mendapat lisensi pemerintah, maskapai ini beroperasi sebagai maskapai charter, terutama untuk mengisi rute yang ditinggalkan Adam Air, yang telah dicabut lisensinya saat itu.?

    Pada April 2008, Departemen Perhubungan Republik Indonesia membekukan izin penerbangan Jatayu Airlines karena tidak memenuhi kelaikan jumlah armada minimal lima buah pesawat.

    4. Indonesian Airlines

    Rudy Setyopurnomo adalah pendiri maskapai penerbangan Indonesian Airlines pada 1999. Maskapai ini mulai beroperasi Maret 2001 setelah pada September 1999 memperoleh izin dari pemerintah Indonesia untuk melakukan penerbangan berjadwal di 46 rute.

    Perusahaan ini dimiliki oleh investor perorangan (75 persen) dan Rudy Setyopurnomo (25 persen), Presiden Direktur maskapai ini. Indonesian Airlines menghentikan operasinya pada tahun 2003.

    5. Sempati Air

    Sempati Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia milik sahabat dan keluarga Soeharto (mantan Presiden Indonesia).

    Didirikan pada Desember 1968 dengan nama PT Sempati Air Transport, Sempati memulai penerbangan perdananya pada Maret 1969 menggunakan pesawat DC-3. Sempati awalnya hanya menawarkan jasa transportasi bagi karyawan perusahaan minyak. Namun setelah DC-3 tambahan serta Fokker F27 dibeli, Sempati memulai penerbangan berjadwal ke Singapura, Kuala Lumpur dan Manila.

    Pada pertengahan dan akhir 1980-an, armada Sempati berkembang dengan masuknya Fokker 100, Fokker 70 dan Boeing 737-200. Kemudian Airbus A300B4 juga masuk jajaran armada Sempati sehingga penerbangan ke tempat lain di Asia Tenggara dan Australia dapat dilakukan.

    Nama perusahaan berubah menjadi Sempati Air pada tahun 1996. Ketika krisis moneter 1998 menghantam Indonesia, Sempati Air terpaksa menjual atau mengembalikan pesawatnya, namun tetap saja pada Juni 1998 Sempati harus menghentikan operasi perusahaannya.

    Maskapai ini terpaksa berhenti beroperasi sejak 5 Juni 1998. Kode IATA yang dulu digunakan oleh Sempati Air, kini digunakan oleh maskapai penerbangan dari India “SpiceJet”.

    NO COMMENTS

    Tinggalkan Komentar Anda di Sini