Serba-serbi Proses Sedot Lemak

Serba-serbi Proses Sedot Lemak

0 140

Memiliki tubuh ramping dengan berat badan ideal tentu menjadi dambaan setiap orang. Meski secara alami bobot tubuh dapat dihilangkan melalui diet, olahraga, dan pola hidup yang sehat, kini telah hadir teknologi sedot lemak (liposuction) untuk Anda yang ingin mendapatkan bentuk tubuh ideal secara instan.

Menurut dokter spesialis bedah plastik di RS Pondok Indah Jakarta dr. Teuku Adiftirian atau yang akrab disapa dr. Tompi, sedot lemak merupakan salah satu proses pembedahan yang dilakukan dengan cara menyedot lemak pada bagian tubuh tertentu. Sedot lemak biasanya dilakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diidamkan dan sebenarnya bukan cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Namun dengan sedot lemak, pasien akan mendapatkan lekuk tubuh yang lebih indah.

Saat ingin melakukan prosedur sedot lemak, pasien diharuskan memiliki kondisi kesehatan yang baik dan optimal. Pasien diharuskan menghindari konsumsi rokok, alkohol, dan obat pengencer darah. Pasien dengan penyakit seperti diabetes, jantung, gagal ginjal juga dapat melakukan sedot lemak selama hasil pemeriksaan medis pasien berada dalam keadaan yang baik dan terkontrol.

Proses bedah sedot lemak diawali dengan memberikan tanda pada bagian tubuh yang akan mengalami penyedotan lemak (marking). Biasanya leher, lengan, perut, dada, punggung, pinggang atau paha adalah area tubuh yang paling sering menjadi langganan sedot lemak.

Proses marking dilanjutkan dengan membuat sayatan kecil pada bagian penandaan dan memasukkan cairan tumescent (larutan campuran lidocain, adrenalin, bicnat dan NaCl) untuk memudahkan proses penyedotan dan mengurangi pendarahan pada pasien.

Lemak yang telah diangkat dari tubuh pasien selanjutnya akan dihancurkan dengan menggunakan peralatan seperti laser (vaser), mekanik  (microaire) ataupun secara manual. Selepas penghancuran lemak, tubuh pasien yang telah mengalami proses sedot lemak akan dibungkus dengan menggunakan korset khusus (compress garment). Korset tersebut harus digunakan secara rutin oleh pasien selama kurang lebih 3-6 bulan pasca operasi. Dokter Tompi menambahkan, penggunaan korset tersebut penting untuk dilakukan secara teratur guna mengurangi bengkak dan nyeri saat pasien bergerak.

Biasanya jumlah lemak yang disedot dari dalam tubuh pasien akan bergantung pada jumlah cairan tumescent yang diberikan pada tubuh pasien. Pasien sedot lemak dengan proses pembiusan lokal, lebih aman bila mendapatkan kurang dari 5000 cc cairan. Dalam hal ini pasien diperbolehkan pulang tanpa harus melalui rawat inap. Sedangkan bila diperlukan lebih banyak cairan tumescent (lebih dari lima liter), pasien disarankan untuk melakukan rawat inap selama 1-2 hari untuk observasi keadaan umum pasien pascaoperasi. Prosedur ini bisa dilakukan jika menggunakan pembiusan lokal atau umum.

Meski tergolong instan, sedot lemak ternyata juga tidak memberikan hasil langsung kepada para pasiennya. Pasien sedot lemak tidak akan mengalami perubahan bentuk tubuh yang drastis pasca pembedahan, justru pasien akan mengalami pembengkakan dan memar tubuh di area penyedotan lemak. Hal ini akan terjadi pada 2-3 minggu setelah operasi berlangsung dan membuat tubuh pasien seolah membesar. Namun pembengkakan tersebut tidak akan berlangsung lama. Pasien akan dapat merasakan hasilnya pada satu bulan setelah operasi dan hasil maksimal pada 3-6 bulan pasca sedot lemak.

dr. Teuku Adifitrian, SpBP Melakukan sedot lemak memang akan memuaskan pasien, tapi tak sedikit pula komplikasi yang hadir setelah proses pembedahan ini. Infeksi, pendarahan, asimetri, seroma, nekrosis kulit, bahkan kematian mungkin saja muncul jika terjadi keteledoran saat proses pembedahan. Namun proses pengerjaan yang teliti oleh tenaga ahli di bidangnya akan menjauhkan pasien dari hal mengerikan tersebut.

Pasien sedot lemak dianjurkan melakukan diet dan olahraga teratur jika ingin mendapatkan hasil lebih maksimal. Pola makan yang teratur serta gaya hidup yang baik tetap harus dilakukan guna mencegah kembalinya lemak tak diinginkan pada bagian tubuh yang telah menjalani proses sedot lemak.

Bahaya di Balik Sedot Lemak

LIPOSUCTION adalah salah satu jenis operasi kosmetik yang digunakan untuk mengambil sel-sel lemak dalam tubuh. Jika Anda berniat untuk melakukan sedot lemak ini, perhatikan efek sampingnya bagi kesehatan Anda.

Sedot lemak atau dalam istilah kedokteran disebut dengan liposuction ini umum dilakukan oleh mereka yang ingin menghilangkan lemak secara instan. Disadari atau tidak, sedot lemak ini ternyata memiliki efek samping yang bisa membahayakan kesehatan tubuh Anda. Berikut ini efek buruk atau komplikasi yang dapat terjadi jika Anda melakukan sedot lemak, seperti yang dilansir Magforwoman.
 
Kerusakan organ internal

Meskipun hal ini jarang terjadi, kemungkinan komplikasi setelah operasi sedot lemak bisa berakibat fatal. Sedot lemak dilakukan dengan menghilangkan sel-sel lemak tubuh dengan menggunakan tabung bernama cannula. Jika dimasukkan lebih dalam dari yang dibutuhkan, cannula ini dapat merusak organ internal, terutama saat mengeluarkan lemak dari perut.
 
Luka bakar

Jika sedot lemak dilakukan dengan menggunakan perangkat ultrasound, kulit dan jaringan termal bisa terkena luka bakar.
 
Gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh

Lemak mengandung banyak cairan yang akan dihilangkan saat kita melakukan sedot lemak. Bisa Anda bayangkan, saat dokter melakukan sedot lemak, dokter juga akan menyuntikkan cairan ke dalam tubuh. Ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan cairan yang cukup parah, walaupun hanya sementara. Kelebihan cairan juga akan mempengaruhi organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru.
 
Jaringan parut

Salah satu bahaya dari sedot lemak adalah, dapat menyebabkan jaringan parut permanen atau memberikan kulit lapisan kasar, bergelombang, dan diperlukan penghapusan rutin oleh ahli bedah plastik. Jika terjadi komplikasi dapat meninggalkan bercak pada kulit yang memerlukan perawatan lebih lanjut.

Alergi dan Infeksi

Sedot lemak datang bersama dengan risikonya. Alergi dan infeksi adalah dua hal yang melekat dari sedot lemak. Dokter akan menusuk kulit dan jaringan yang lebih dalam dengan cannula. Prosedur ini biasanya memerlukan beberapa kali tusukan dan obat yang menjaga tubuh tetap stabil dan bebas nyeri. Risiko alergi dan infeksi hadir dari alat-alat bedah yang digunakan selama proses sedot lemak berlangsung.

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini