The Hobbit: An Unexpected Journey

    0 6

    Sembilan tahun setelah diluncurkannya seri terakhir dari trilogi “Lord of the Rings”, sutradara pemenang Academy Award, Peter Jackson, kembali dengan prekuel dari penulis J.R.R. Tolkien, “The Hobbit: An Unexpected Journey.”

    Karena mewakili masa yang lebih lugu, novel prekuel terbitan 1937 memiliki nuansa yang lebih ringan dibandingkan trilogi yang dikeluarkan pada 1954. “Lord of the Rings” dipengaruhi oleh pembantaian pada Perang Dunia II.

    Film pertama Jackson untuk trilogi tersebut, yang mengisahkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, dirilis tiga bulan setelah serangan 11 September 2011 di New York. Para penonton merasa teridentifikasi dengan dunia penuh kehancuran yang dipersembahkan pembuat film tersebut.

    “The Hobbit” merupakan film pertama bagi trilogi baru Jackson, yang membuka jalan bagi “Lord of the Rings.” Para penggemar menyambut baik proyek digital tersebut, namun pertanyaannya adalah apakah “The Hobbit” bisa menyamai pendahulunya.

    Tolkien menulis novel tersebut untuk anak-anaknya pada 1937. Visualisasinya indah dan cemerlang dibandingkan dengan pendahulunya, berkat teknologi digital canggih karya Jackson yang menghidupkan ribuan karakter dan dunia tiga dimensi.

    “Teknologi ini memberikan gambar yang begitu nyata, seperti menghilangkan layar dan melihat dunia nyata lewat jendela,” ujar Jackson.

    Sebuah adegan saat seorang Hobbit hilang di gua dan bertemu Gollum untuk pertama kalinya memperlihatkan kecanggihan teknologi film tersebut.

    “Saya ingin tokoh Gollum memiliki gerakan otot di mata dan mulut yang lebih realistis dan kompleks, seperti manusia,” ujar Jackson.

    “Ketika Andy Serkis memerankan Gollum, setiap detail nuansa penampilannya sekarang ditangkap secara akurat dalam boneka digital.”

    Andy Serkis bermain sebagai Gollum sekali lagi, dengan penampilan yang lebih bagus dari sebelumnya. Aktor-aktor favorit lain juga kembali bermain: Ian McKellan sebagai penyihir Gandalf dan Cate Blanchett sebagai Puteri Galadriel serta Elijah Wood dalam peran kecil sebagai Frodo.

    Namun pendatang baru Martin Freeman-lah yang menjadi bintangnya sebagai Hobbit yang kaku namun berani, Bilbo Baggins, yang direkrut untuk membantu 13 kurcaci merebut kembali kerajaan mereka.

    Bagi para penggemar di seluruh dunia, “The Hobbit” adalah prekuel yang canggih dan memmbangun kembali ketertarikan bagi trilogi karya Jackson. Namun seandainya film ini lebih pendek, mungkin akan lebih tajam dan mendebarkan.

    Kelucuan dalam film ini melemahkan bobot trilogi yang asli. Kita memang belum melihat dua film berikutnya, namun sejauh ini, meski mengesankan, “The Hobbit,” tidak dapat menyamai pendahulunya.

     

     

    Leave a Reply