Teknologi Quick Count Pilkada DKI Jakarta

Teknologi Quick Count Pilkada DKI Jakarta

0 184
Hasil Pilkada DKI

Beberapa tahun belakangan kita semakin cepat mendapat informasi hasil perhitungan suara saat perhelatan Pemilihan Umum, baik lingkup nasional atau lokal. Pagi masuk bilik suara, siang hingga sore sudah terlihat hasilnya. Seperti contohnya Hasil Pilkada DKI Jakarta. Mengapa begitu cepat, bagaimana proses pengumpulan hasil suara dari banyak tempat?

Kita harus pahami dulu, bahwa Quick Count tidak sama dengan total hasil suara. Quick Count adalah metode verifikasi hasil pemilihan umum, yang datanya diperoleh dari sampel di lapangan. Berbeda dengan teknologi pooling, sampel tidak diperoleh dari para responden yang ditanyai satu per satu, melainkan diperoleh dari hasil rekap resmi di lapangan.

Jadi, sebenarnya Quick Count bukan berarti hasil total suara. Namun, metode Quick Count selalu mendekati, atau tidak jauh menyimpang dari hasil rekap resmi. Karenanya, Quick Count tetap menjadi pertanda kesuksesan calon memenangkan suara.

Lantas, bagaimana proses Quick Count dan teknologi macam apa yang dipakai dalam metode ini? Jawabnya tergantung masing-masing lembaga. Namun, teknologi Short Message Service (SMS) cukup populer digunakan oleh lembaga-lembaga penghitung Quick Count.

Sekadar tambahan, dahulu teknologi ini bukanlah bernama Quick Count, tetapi Paralel Vote Tabulation atau tabulasi suara pemilih secara paralel.

Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana cara memanfaatkan teknologi Quick Count ini untuk diaplikasikan di lapangan seperti pada Hasil Pilkada DKI Jakarta? Berikut ini adalah kutipan cara kerja Quick Count yang dilansir dari inilah.com, dan secara umum dilakukan oleh para lembaga survei:

1. Mempersiapkan perangkat serta sistem pendukung untuk bisa memberikan data secara cepat ke pusat pengolah data lembaga survei yang melakukan metode Quick Count ini. Perangkat ini mulai dari komputer untuk meng-input-kan data hingga ponsel untuk mengirim SMS hasil pemilu ke server tempat menerima data.

2. Pemilihan TPS sebagai tempat pengambilan data. TPS yang di ambil secara acak berdasarkan pertimbangan jumlah penduduk, jumlah pemilih terbaru, penyebarannya pemilih seperti tersebar dalam berapa kelurahan, dan sebagainya. Singkatnya, proporsional kalau pemilih banyak lokasi sampel (TPS) yang diambil pun banyak serta mewakili karakteristik populasi.

3. Mempersiapkan relawan untuk mengambil sampel dan meng-input-kannya ke sistem data. Jumlah relawan ini cukup banyak untuk mengambil data dari TPS yang telah dipilih.

4. Data yang telah didapat akan diolah di pusat data dengan menerapan ilmu stasistik, dari olahan data inilah lembaga survei bisa menghitung secara cepat siapa pemenang pemilu.

Jika kita lihat dari cara kerja Quick Count, kita dapat mengartikan bahwa hasil perhitungan Quick Count bukanlah hasil perhitungan dari seluruh TPS yang melakukan pemungutan suara, melainkan dengan menggunakan prinsip ilmu statistika.

Jadi, lembaga survei yang menyelenggarakan Quick Count ini hanya mengambil sampel dari sekian banyak TPS yang ada dan diambil dari TPS yang memiliki jumlah populasi yang banyak dan berbagi pertimbangan lainnya.

Walaupun hasil Quick Count ini tidak pernah tepat dan pasti, tetapi hasil dari Quick Count (yang diselenggarakan oleh lembaga survei yang capable dan jujur) tidak pernah meleset dari siapa yang memenangkan hasil pemilihan umum tersebut. Bagaimana dengan Hasil Pilkada DKI ?

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini