Koteka, Ditabukan Tapi Dijual Ke Luar Negeri

Koteka, Ditabukan Tapi Dijual Ke Luar Negeri

0 261

Foto Koteka, Ditabukan Tapi Dijual Ke Luar Negeri Tradisi primitif pariwisata Papua pakaian Koteka budaya  c ad57344515f6cff7e75bfff647984c591Penutup bagian khusus alat kelamin pria yang dipakai beberapa suku bangsa di Papua disebut Koteka. Bagi pria berwibawa dan terkenal dalam masyarakat, koteka yang digunakan harus berukuran besar dan panjang. Batang kotekanya pun diukir berwarna-warni.

Koteka terbuat dari buah labu. Labu tua dipetik, dikeluarkan isi dan bijinya kemudian dijemur. Setelah kering, labu tersebut disumbat pada batang penis dengan posisi berdiri tegak menjulur arah pusat.

Kata koteka sendiri berasal dari salah satu suku di Paniai, artinya pakaian. Di Wamena koteka disebut holim. Ada berbagai jenis ukuran koteka, tergantung besar kecilnya kondisi fisik pemakai. Tetapi, besarnya koteka juga sering hanya aksesoris bagi si pemakai.

Tubuh yang kekar bagi seorang pria berkoteka adalah idaman seorang wanita suku Pegunungan Tengah seperti suku Dani. Agar penampilan seorang pria lebih perkasa dan berwibawa, seluruh bagian kulit luar termasuk rambut dilumuri minyak babi agar kelihatan hitam mengkilat dan licin bila terpanggang matahari. Lemak babi itu dioleskan di wajah, pinggang, kaki, dan tangan. Biasanya dipakai pada saat pergelaran pesta adat seperti bakar batu.

Tidak ada literatur yang menyebutkan, sejak kapan suku- suku asli Papua mengenakan koteka. Sejak petualangan bangsa Eropa datang ke daerah itu, kaum pria dari suku–suku di Pegunungan Tengah (Jayawijaya, Puncak Jaya, Paniai, Nabire, Tolikara, Yahokimo, dan Pegunungan Bintang) sudah mengenakan koteka.

Keterampilan membuat koteka diperoleh secara turun temurun bagi kaum pria. Seorang laki-laki ketika menginjak usia 5-13 tahun harus sudah mengenakan koteka sebagai busana pria. Pria yang menutup bagian penis dengan kulit labu ini sering disebut “manusia koteka”, atau sering pula disebut masyarakat koteka.

Bagi orang luar, Koteka dinilai sebagai salah satu bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan. Koteka bukan pakaian. Pria yang mengenakan koteka dilihat sebagai pria telanjang dan “tidak beradab”. Tetapi, dari sisi orang Papua, koteka adalah pakaian resmi orang Papua.

Dan koteka pun mulai dirampas haknya ketika secara bertahap, sosialisasi mengenai gerakan pemberantasan koteka pun mulai digalakkan. Gubernur Frans Kaisepo (1964-1973) mulai menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai pakaian yang sehat, sopan, dan bermartabat. Kemudian dilanjutkan dengan kampanye antikoteka oleh Gubernur Soetran. Sosialiasi dilanjutkan Gubernur Acub Zainal, Gubernur Busiri Suryowironoto, Gubernur Isac Hindom, sampai pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu (1988-1993) dan Yacob Pattipi (1993-1998) tetap dilakukan kampanye antikoteka di Pegunungan Tengah.

Foto Koteka, Ditabukan Tapi Dijual Ke Luar Negeri Tradisi primitif pariwisata Papua pakaian Koteka budaya  koteka 389x2891

Apakah ada yang salah dengan tradisi sehingga harus ‘ditertibkan’? Padahal, jika disimak menghapus tradisi lebih primitif dan minim wacana, pelarangan dan penghapusan itu sama dengan melihat tradisi kehidupan masyarakat dengan kaca matanya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan koteka jika dipandang dengan perspektif budaya. Tapi, karena pemerintah memakai sudut padang modern maka semua yang tradisional dihancurkan. Bahkan, ada kesan akan diseragamkan seluruh Indonesia. Biarkanlah tradisi hidup dengan sendirinya, tidak diintervensi dan tidak sekedar dijadikan alat jual pariwisata.

Koteka dilarang diharamkan, ditabukan, tetapi, manusia koteka tetap dikirim ke luar pulau, ke luar negeri untuk dijadikan obyek semata dan pemerintah pun menikmati keuntungan dari proyek promosi wisata tersebut.

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini