Kisah-kisah Unik Kota Jakarta

Kisah-kisah Unik Kota Jakarta

0 382

Tepat pada tanggal 22 Juni 2012, Jakarta ber-ulang tahun yang ke 485. Meskipun sebagian warga ibukota sering mengeluh mengenai betapa carut-marutnya Jakarta, tetap saja kota yang dulu bernama Batavia ini memiliki eksotisme tersendiri yang menarik perhatian orang untuk mencoba peruntungan di kota ini.

Jakarta memiliki banyak sekali kebudayaan yang menarik, sebut saja Roti Buaya, Monas, Ondel-Ondel, atau Kerak Telor. Namun sayangnya sebagian besar orang belum mengetahui kisah dibalik hal-hal tersebut. Kami merangkum hal-hal unik tentang Jakarta yang tentunya ingin anda ketahui, berikut lima hal menarik tentang Jakarta:

1. Roti Buaya

Foto Kisah kisah Unik Kota Jakarta Sejarah Roti Buaya Ondel Ondel Lenong Betawi Kota Jakarta Kisah Kebaya Gambang Kromong Abang None  betawi 2a web 335x2564

Wanita sering berkata “Buaya darat” pada pria yang mereka cap sebagai hidung belang. Tapi tahukah Anda bahwa sesungguhnya buaya adalah hewan yang setia? Karena itulah, dalam sebuah pesta pernikahan yang menggunakan Adat Betawi, pengantin pria membawakan Roti Buaya sebagai simbol dari kesetiaan terhadap pasangannya. Biasanya Roti Buaya terdiri dari dua buah, buaya yang besar menunjukkan si pria dan buaya dengan ukuran yang lebih kecil dan dipunggungnya terdapat buaya kecil melambangkan pengantin wanita.

2. Kebaya None

Foto Kisah kisah Unik Kota Jakarta Sejarah Roti Buaya Ondel Ondel Lenong Betawi Kota Jakarta Kisah Kebaya Gambang Kromong Abang None  abnon 1 335x4464

Jika Anda sering menyaksikan pemilihan Abang None Jakarta yang rutin diadakan setiap tahunnya, maka Anda akan melihat sekumpulan gadis yang memakai kebaya yang berwarna warni. Sesungguhnya, kebaya dengan warna yang ‘norak’ tersebut merupakan filosofi dari kepribadian seorang none yang ceria. Kebaya None memiliki 6 kancing ditangannya yang menunjukkan jumlah rukun iman dalam islam.

3.Ondel-Ondel

Ondel-ondel konon telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Dulu fungsinya sebagai penolak bala atau semacam jimat. Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia. Oleh karena itu tidak heran kalau wujud ondel-ondel dahulu, menyeramkan. Pada jaman Gubernur Ali Sadikin, barulah Ondel-Ondel berubah menjadi sebuah hiburan rakyat dan bentuknya dimodifikasi agar tidak terlalu menyeramkan.

4. Gambang Kromong

Foto Kisah kisah Unik Kota Jakarta Sejarah Roti Buaya Ondel Ondel Lenong Betawi Kota Jakarta Kisah Kebaya Gambang Kromong Abang None  degung1 335x2584

Gambang kromong adalah alat musik rakyat Betawi yang dapat pengaruh dari budaya cina. Istilah gambang kromong diambil dari alat musik yang digunakan dalam musik ini yaitu gambang dan kromong bilahan gambang biasanya terbuat dari kayu yang berjumlah delapan belas, sedangkan kromong terbuat dari perunggu yang berjumlah sepuluh perunggu. Pengaruh kebudayaan cina dapat dilihat dari alat musik yang di gunakan ,yaitu the yan, rebab ukuran kecil kong dan shu kong yang merupakan rebab ukuran besar.

5.Lenong Betawi

Foto Kisah kisah Unik Kota Jakarta Sejarah Roti Buaya Ondel Ondel Lenong Betawi Kota Jakarta Kisah Kebaya Gambang Kromong Abang None  LENONG1 335x2544

Lenong adalah teater tradisional Betawi. Ini seni tradisional musik Gambang Kromong disertai dengan alat musik seperti gambang, kromong, gong, drum, kempor, seruling, dan kecrekan, serta unsur alat musik Cina seperti tehyan, kongah yang, dan sukong. Memutar atau skenario Lenong umumnya mengandung pesan moral, yang membantu keserakahan, lemah dibenci dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau sekarang bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Ada dua jenis yaitu Lenong Denes dan Lenong Lenong preman. Dalam Lenong Denes (dari Denes dalam dialek Betawi yang berarti, Dinas atau Resmi), aktor dan aktris biasanya memakai pakaian formal dan kisahnya sedang menyiapkan kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam pakaian sipil dikenakan Lenong tidak ditentukan oleh sutradara dan cerita umum kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis tersebut dibedakan juga Lenong dari bahasa yang digunakan, Denes Lenong umumnya menggunakan bahasa halus (tinggi Melayu), sementara Lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dan biasanya berkisah tentang rakyat dan tuan tanah.

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini