Gunung Berapi Kirim Sinyal Setahun Sebelum Meletus

Gunung Berapi Kirim Sinyal Setahun Sebelum Meletus

0 322

Foto Gunung Berapi Kirim Sinyal Setahun Sebelum Meletus sinyal Sebelum Meletus gunung berapi Data seismik aktivitas vulkanik  Gunung Berapi1

Letusan gunung berapi kini dapat diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Penelitian terbaru di bidang vulkanologi menunjukkan, sebuah gunung berapi bawah laut memberi sinyal yang sangat jelas setahun sebelum meletus. Temuan ini bisa membantu meramalkan letusan gunung berapi di masa depan.

Para peneliti mengatakan, jumlah letusan gunung berapi bawah laut mencapai 75 persen dari semua letusan gunung berapi di Bumi. Namun, pergerakan gunung berapi bawah laut ini sangat sulit dipantau lantaran letaknya di dasar laut dan persebarannya mencakup seluruh samudra.

Para peneliti harus menggunakan robot bawah laut dan sejumlah instrumen ilmiah lainnya untuk mempelajari lebih detail tentang gunung berapi bawah laut. Penelitian dipusatkan pada Axial Seamount, gunung berapi bawah laut yang terletak sekitar 400 kilometer dari lepas pantai Oregon. Gunung berapi ini terletak pada kedalaman lebih dari 1.500 meter dan pernah meletus pada 6 April 2011.

“Axial Seamount adalah unik karena salah satu dari sedikit tempat di dunia dengan rekor jangka panjang pemantauan gunung berapi bawah laut. Kami sekarang dapat memahami polanya,” kata Bill Chadwick, seorang ahli geologi di Oregon State University di Newport, Amerika Serikat.

Para peneliti menggunakan sensor tekanan pada dasar laut untuk memantau gerakan vertikal gunung berapi. “Pengangkatan lantai dasar laut telah dimulai secara bertahap dan mulai stabil sekitar dua tahun setelah terakhir meletus,” kata Chadwick.

Namun tingkat inflasi magma berubah dari bertahap menjadi cepat sekitar 4-5 bulan sebelum letusan. “Peningkatannya menjadi tiga kali lipat, sehingga memberikan petunjuk bahwa letusan berikutnya akan datang,” imbuh Chadwick.

Kurang dari satu jam sebelum letusan, dasar laut terangkat mendadak setinggi 7 sentimeter. Setelah letusan, dasar laut menyusut lebih dari 2 meter akibat aliran magma ke samudra dan meletus sebagai lava.

“Gerakan semacam ini juga telah terdeteksi sebelumnya di daerah sekitar gunung berapi di darat. Tapi tidak seefektif yang ada di lautan,” kata ahli geologi laut Neil Mitchell dari University of Manchester di Inggris, yang tidak mengambil bagian dalam penelitian ini.

Data seismik dari mikrofon bawah air (hidrofon) juga memberikan petunjuk tentang perilaku gunung berapi. Data dari hidrofon menunjukkan penumpukan bertahap jumlah gempa bumi kecil (rata-rata sebesar 2 skala Richter) dalam empat tahun sebelum letusan tahun 2011. Para peneliti kemudian mendeteksi lonjakan energi seismik yang mendadak sekitar 2,6 jam sebelum letusan.

“Hidrofon mengambil sinyal dari ribuan gempa bumi kecil selama beberapa menit. Setelah kami telusuri gempa-gempa ini disebabkan naiknya magma dari dalam gunung berapi yang menerobos ke kerak Bumi,” kata Bob Dziak, ahli geologi laut dari Oregon State University. Magma naik ke permukaan melalui celah-celah dan menciptakan ledakan aktivitas gempa yang kekuatannya semakin besar.

Ia mengatakan, analisis seismik dapat digunakan untuk melihat naiknya magma dari dalam gunung berapi sekitar dua jam sebelum letusan. “Apakah sinyal energi seismik sebelum letusan ini hanya unik untuk Axial atau mungkin direplikasi di gunung berapi lainnya, masih belum jelas. Namun temuan ini menjadi dasar untuk memulai penelitian lain yang sejenis,” ujar dia.

Mitchell menambahkan, jika gejala vulkanik ini terpisah dari gempa bumi tektonik biasa, “Kita memiliki satu cara untuk memantau aktivitas vulkanik di lautan,” kata dia kepada OurAmazingPlanet.

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini