Paradox of Plenty: Kutukan Sumber Daya Minyak

Paradox of Plenty: Kutukan Sumber Daya Minyak

0 258

Dalam pertemuan tahunan OPEC di Vienna, Austria pada 2001, Menteri Perminyakan Venezuela Jose Luis Rodriguez berujar, minyak sejatinya tidak akan membawa suatu negeri menjadi makmur, namun justru menjadi sumber kutukan dan penyebab konflik.

Adapun argumentasi yang disampaikan Jose Luis Rodriguez cukup konfirmatif untuk melihat proses demonstrasi yang terjadi secara meluas terjadi di negara kaya minyak.

Revolusi Musim Semi yang terjadi di jazirah Arab terjadi juga karena konflik minyak. Para emir yang berkuasa di tanah Arab hanya membagikan rezeki minyak kepada kaum Sunni yang menjadi mayoritas. Tentunya hal tersebut menimbulkan kecemburuan bagi minoritas kalangan Syiah untuk melakukan percobaan penggulingan monarki.

Dalam kasus yang terjadi di Bahrain dan Arab Saudi, ketimpangan sosial ekonomi antarmasyarakat yang diakibatkan rezeki minyak pun terjadi. Minoritas Syiah yang umumnya hidup miskin berada di kawasan selatan Arab Saudi maupun pinggiran Kota Manama terlihat mencolok dibandingkan dengan kaum Sunni yang bergelimpangan rezeki minyak.

Dalam kasus Nigeria, minyak juga menjadi sumber konflik antara Nigeria Utara dan Selatan. kawasan utara yang pada umumnya kaya dengan minyak berusaha untuk melepaskan diri dari Nigeria dengan membentuk negara tersendiri.

Pemberontakan demi pemberontakan kerap terjadi di sana yang mengatasnamakan minyak. Hal sama juga berlaku dalam kasus Sudan dengan Sudan Selatan dalam memperebutkan sumber minyak di perbatasan kedua negara.

Adapun peristiwa mutakhir sekarang dengan munculnya krisis selat Hormuz dan sengketa kepulauan Spratly dan Paracel yang kaya minyak berpotensi untuk merusak perdamaian dunia dan menggiring pada perang dunia ketiga.

Stabilitas harga minyak dijadikan sebagai sumber alasan untuk memerangi negara lain untuk menguasai sumber-sumber minyak di luar negeri. Minyak pula yang menjadi doktrin politik Amerika Serikat untuk senantiasa mengawasi gejolak yang terjadi di Timur Tengah karena dengan menguasai minyak di Timur Tengah sama saja dengan menguasai dunia.

Paradox of plenty

Paradox of plenty merupakan istilah yang dikemukakan Terry Lynch (2006) untuk menjelaskan fenomena negara kaya sumber daya yang harusnya kaya malah menjadi miskin. Fenomena tersebut jamak terjadi di negara kaya sumber daya misalnya Indonesia, Nigeria, Iran, Sudan, maupun Angola.

Penyebab yang relevan untuk menjelaskan hal tersebut adalah perang. Pertama asimetri ekonomi, negara maju umumnya memiliki teknologi untuk melakukan pengolahan sumber daya maupun informasi yang memadai mengenai harga minyak, konsumsi minyak, maupun pemetaan minyak di seluruh dunia dibandingkan dengan negara berkembang.

Oleh karena itulah, dengan asimetri ekonomi tersebut, negara maju bisa melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya yang lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang. Akibatnya hasil esktrasi sumber daya tersebut tidak lari ke negara berkembang melainkan ke luar negeri.

Kedua melemahnya kekuatan tawar ekonomi, negara kaya SDA pada umumnya tidak memiliki kekuatan tawar yang lebih tinggi bila berhadapan dengan negara maju. Hal ini dikarenakan ketidakseimbangan nilai antara barang mentah dengan barang jadi sehingga selisih nilai dari barang mentah menjadi milik negara maju.

Ketiga munculnya agen asing, Agen merupakan agen bukanlah perantara kepentingan ekonomi negara ketiga dan negara maju. Namun agen di sini yakni sebagai intelejen ekonomi yang tugasnya menjatuhkan ekonomi negara dunia ketiga secara perlahan. Agen akan membujuk untuk menjual SDA kepada negara maju dengan harga murah sehingga negara berkembang dirugikan.

Inti utama terjadinya paradox of plenty di negara kaya sumber daya alam seperti halnya di Indonesia adalah kepemimpinan nasional. Faktor tersebut sangatlah krusial dalam menentukan kebijakan energi utamanya dalam kasus pengelolaan dan pendayagunaan sektor energi vital utamanya minyak.

Dalam kasus di Indonesia, kepemimpinan untuk mengatur sektor energi minyak diatur asing. Proporsi produksi minyak mentah Indonesia yang mencapai 950 ribu kiloliter setiap harinya, 70 persen milik asing dan 30 persen sisanya milik Pertamina.

Adanya dominasi asing tersebut dikarenakan kerakusan pemerintah untuk menjual besar-besaran sektor energi terutama minyak ke swasta asing untuk terus menambah pendapatan nasional dalam APBN.

Hugo Chávez, President since 1999. (Photo credit: Wikipedia)

Pertamina tidak mempunyai kapabilitas untuk melakukan ekspansi eksplorasi minyak ke luar negeri karena sektor pendapatan Pertamina menjadi sapi perah bagi elit politik nasional. Oleh karena itulah ketergantungan produksi minyak Indonesia terhadap asing sangatlah besar sehingga mengakibatkan pola salah urus energi.

Venezuela semasa pemerintahan Hugo Chavez berhasil mendayagunakan minyak sebagai sumber kemakmuran rakyatnya dengan dibangunnya sektor infrastruktur pelayanan publik yang baik. Hal utama yang dilakukan oleh Chavez adalah melakukan nasionalisasi terhadap swasta asing yang mengeksploitasi minyak domestik.

Chavez memandang minyak merupakan sektor vital yang tidak boleh dikuasai asing dan menjual BBM murah dengan harga Rp 1.000-2.000 kepada rakyatnya.

Oleh karena itulah, sebaiknya Indonesia meniru langkah Venezuela dengan melakukan nasionalisasi minyak nasional yang dikuasai asing karena hal tersebut menyangkut martabat ekonomi nasional. Kepemimpinan menjadi faktor penting dalam nasionalisasi tersebut, apakah pro rakyat atau swasta asing.

Sumber:

  • http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/04/01/kutukan-sumber-daya-minyak

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini