Kisah Ayam Pengukur Badai Matahari

Kisah Ayam Pengukur Badai Matahari

0 193

Atas nama ilmu pengetahuan, pelajar SMA Bishop Union, California, Amerika Serikat menerbangkan ayam karet ke stratosfir. Maskot Observatori Dinamika Matahari NASA ini terbang setinggi 120 ribu kaki ke luar angkasa. Misi ayam bernama Camilla ini untuk mempelajari efek radiasi matahari pada kehidupan dan melihat cuaca luar angkasa.

Camilla mengenakan lencana pengukur radiasi yang dijahit pada pakaian luar angkasanya. Ayam betina ini dimuat ke dalam balon helium. Muatan yang dibawa Camilla yakni empat kamera, temometer cryogenic, dan dua pelacak GPS. Dalam kotak makan Camilla, ada tujuh serangga dan 24 biji bunga matahari yang siap terbang bersama.

Selama penerbangan yang berlangsung 2,5 jam, Camilla berada di stratosfir selama 90 menit. Temperatur di sana -40 hingga -60 derajat. Tekanan udara 1 persen level permukaan laut. Kondisi ini serupa planet Mars.

Balon diterbangkan pada ketinggian sekitar 40 km. Tenang saja, ayam betina ini selamat kembali ke bumi menggunakan parasut. Seluruh muatan pun utuh dari lokasi pendaratan di Pegunungan Inyo.

Camilla belum dapat beristirahat. Satu minggu kemudian, pada 10 Maret, badai sedang berlangsung. Para siswa mengulangi percobaan ini. Lencana pada pakaian Camilla yang terkena efek radiasi kini telah dikirim ke laboratorium untuk dianalisa.

Biji bunga matahari yang dibawa Camilla ditanam untuk melihat perbedaan wujud bunga. Sayang, serangga tidak kuat menahan kondisi di luar angkasa. Semuanya mati. Para pelajar memakamkan mereka pada “Papan Gabus Kematian” untuk menghormati para serangga sebagai pahlawan astroentomologi.

Fokus untuk Sains dan Teknologi
Eksperimen unik ini dijalankan oleh para pelajar muda. Bahkan, siswa kelas 5 turut membantu siswa SMA Bishop dalam proyek terbarunya. Mereka menanam benih bunga matahari untuk melihat dampak radiasi pada benih dapat menghasilkan bunga berbeda dengan yang belum terkena paparan.

Edukasi sains dan matematika di Amerika Serikat meningkatkan perhatiannya kepada pembelajaran sains, teknologi, mesin, dan matematika untuk remaja (Science, Technology, Engineering, and Math atau STEM). Hasil pengujian internasional menunjukkan siswa Amerika tertinggal dibanding negara lain dalam matematika dan ilmu pengetahuan.

Studi pada 2009 menunjukkan siswa AS berada pada peringkat 25 di antara 34 negara di bidang pelajaran tersebut. AS dikalahkan negara-negara seperti China, Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, dan Finlandia.

Presiden Barack Obama telah menyerukan untuk meningkatkan pendidikan STEM selama dekade berikutnya melalui beberapa inisiatif kemitraan, seperti dikutip dari laman Huffingtonpost.com. Bahkan, Angkatan Laut AS mengumumkan rencana pada Juni lalu untuk berinvestasi lebih dari US$100 juta bagi pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi pada 2015.

Tenaga kerja yang menua membutuhkan generasi yang tangguh. Generasi muda disiapkan untuk menggantikan posisi 50 persen pekerja sains dan teknisi yang akan pensiun pada 2020.

Sebuah laporan oleh Pusat Penelitian Statistik di Institut Fisika Amerika pada Juli lalu, memberi peringkat penerapan sistem pendidikan dini dengan tujuan mempersiapkan siswa untuk karir di bidang sains dan teknik. Massachusetts, Minnesota dan New Jersey menduduki puncak daftar itu.

Penggemar angkasa luar banyak yang telah akrab dengan sosok Camilla. Ayam ini menjadi maskot Observatori Dinamika Surya NASA. Dengan bantuan sang penjaga dari Universitas Stanford, Romeo Durscher, Camilla memiliki lebih dari 20.000 follower Twitter, Facebook, dan Google +. Isi statusnya seputar misi terbaru NASA. Ternyata, ayam ini populer pula di jagat dunia maya. (umi)

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini