Biru vs Pink: Bahasa Marketing Belaka !

Biru vs Pink: Bahasa Marketing Belaka !

0 110

Kenapa Erik bermain dengan traktor-traktoran kayu? Ya karena itulah mainan yang diberikan oleh orangtuanya.

Demikian kalimat pembuka sebuah artikel di harian Belanda, NRC Weekend (Sabtu, 07/04).

“Oei, ik groei
Anak perempuan lebih suka warna pink. Itu yang tertulis di hampir semua buku pedoman mengasuh anak. Buku Oei, ik groei! (“Saya bertambah besar”, buku pedoman mengasuh anak terkenal di Belanda, Red.), menulis ini, karena di zaman dahulu kala, para wanita mempunyai tugas memetik buah-buahan seperti stroberi.

Karenanya mereka harus lihai membedakan berbagai nuansa warna merah dari beberapa jenis tanaman beri di antara hijaunya dedaunan. Masuk akal kan?

Lebih jauh  buku itu menulis bahwa selera anak laki-laki dan perempuan itu adalah bawaan lahir dan sejak zaman batu. Sebuah alasan yang cukup, menurut Oei, ik groei!, untuk membelikan anak perempuan kita tas tangan yang pandai berbicara yang cantik, edukatif dan berwarna pink. Sekalian dengan kartu kredit, telepon genggam, kaca dan gantungan kunci mainan yang semuanya berwarna pink.

Dengan begitu, nature bukan hanya menjadi dasar dari sudut pandang ilmu pengetahuan, namun sekaligus menjadi cara untuk mencari penghasilan. Ini ide brilian, dalam bahasa marketingnya. Anak kecil saja sudah jadi satu kategori target pemasaran yang cukup “basah”, apalagi kalau ada dua kategori.

Dan pengklasifikasian “cewek-cowok” tentunya tidak berhenti pada urusan warna tas tangan saja.

Klasifikasi hewan
Hewan pun tidak ketinggalan dipilah-pilah sesuai jenis kelamin. Bahkan sebelum anak laki-laki bisa merangkak, mereka biasanya sudah dijejelkan dengan gambar-gambar hewan-hewan buas terkenal; monyet, dinosaurus, buaya, singa.

Di baju-baju anak perempuan paling-paling ada gambar kucing piaraan atau kelinci.

Seberapa kuatnya hipotesis bahwa anak perempuan pada dasarnya adalah pemetik buah beri atau pencinta kelinci?

Sampai abad 19, anak laki-laki dan perempuan sama-sama masih mengenakan baju berwarna putih. Atribut warna baru hadir ketika anak perempuan mendapatkan lebih banyak kebebasan. Setelah itu psikolog anak mulai memperingatkan, pembedaan jenis kelamin adalah sesuatu yang diajarkan.

Gender dikatakan sebagai sesuatu yang sedikit sekali sangkut pautnya dengan bawaan.

Venus dan Mars
Anak-anak mengenal dirinya sendiri melalui belajar dan bermain. Dengan begitu mereka  bisa menemukan bakat dan seleranya. Jika dari sejak mereka lahir kita sudah mengatakan yang laki-laki berasal dari Mars dan yang perempuan dan Venus, maka berarti kita membatasi peluang mereka.

Apa alasannya? Bukan, bukan karena kita ingin berlaku adil terhadap kemungkinan panggilan hidup mereka sebagai pemburu atau pemetik tanaman stroberi. Juga bukan karena sel-sel otak anak laki-laki beradaptasi lebih baik dalam situasi lalu lintas.

Jawabannya terletak di tas berbicara tadi. Di mainan lego yang dilengkapi dengan anjing, rumah dan kompor untuk anak perempuan. Di mainan lego dengan rudal dan truk untuk anak laki-laki. Di kaleng-kaleng cat berwarna biru dan pink yang harganya tidak murah. Di dunia Barbie dan di sirkuit balap mini.

Dan terutama: di miliaran Euro hasil penjualan barang-barang tersebut.

Sumber:

  • http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/biru-vs-pink-bahasa-marketing-belaka-1

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini