Awal Lahirnya Perkebunan Kopi, Kina dan Teh di Jawa

Awal Lahirnya Perkebunan Kopi, Kina dan Teh di Jawa

1 136

Foto Awal Lahirnya Perkebunan Kopi, Kina dan Teh di Jawa teh perkebunan kopi Kina  clip image002 00061Berawal dari hobi orang-orang Belanda berkebun dan bereksperimen menanam tanaman eksotik dari berbagai negara, lahirlah perkebunan kopi, kina, dan teh di Jawa, termasuk di Bumi Priangan. Tanaman yang didatangkan dari negeri jauh itu ternyata cocok dengan tanah Jawa dan mengubah jalan ekonomi, sosial, serta budaya masyarakat.

”Sekitar tahun 1700 ada pejabat-pejabat tinggi di Hindia yang punya hobi bertanam di rumah. Kelompok kecil di Batavia ini salah satunya Johan van Hoorn. Di tanahnya yang luas di pedesaan dekat Batavia, dia bereksperimen menanam banyak tanaman non-Indonesia. Di antara tanaman-tanaman itu terdapat beberapa pohon kopi kecil yang dikirimkan kepada Van Hoorn dari pantai barat daya India,” tulis Bernard HM Vlekke dalam bukunya Nusantara: Sejarah Indonesia (2008).

Tahun 1707, tanaman kopi mulai dibagikan kepada warga di sekitar Batavia dan Cirebon. Kebun kopi mulai menuai hasil dan tersebar luas. Sembilan tahun kemudian, panen tahunan kopi meningkat menjadi 45 ton, dan setelah 12 tahun menjadi 5.500 ton.

Menurut Vlekke, keberhasilan awal kebun kopi yang tak terduga itu menyulitkan kontrol ekspor, termasuk ke Eropa. Penguasa di Jawa mendapatkan keuntungan dengan memaksa rakyatnya menanam kopi. Penguasa itu membeli kopi rakyat dengan rendah, dan mendapatkan keuntungan tinggi dengan menjualnya kepada kompeni.

Ini mengkhawatirkan kompeni yang lalu dengan sewenang-wenang menurunkan harga produk mentah. Akibatnya, petani mulai mengabaikan kebun kopi. Begitu para petani di Batavia dan Cirebon enggan mengurus kopi, kompeni beralih ke Priangan yang sudah mereka kuasai sejak tahun 1677 tapi belum dieksploitasi.

Tahun 1725, kompeni menerapkan sistem baru yang dikenal dengan kuota dan penyerahan paksa. Sekitar tahun 1760, kopi wajib dibudidayakan dan para bupati diberi kewenangan mengatur produksi sesuai permintaan.

Thomas Stamford Raffles yang menjabat Letnan Gubernur Hindia Timur tahun 1811-1816 menuliskan dalam bukunya History of Java, (1817), banyak daerah di Jawa, terutama di Kabupaten Priangan, yang tanahnya telah beradaptasi dengan kopi. Kualitas kopi di Jawa bahkan dianggap lebih berkualitas dibandingkan dengan produksi kopi India barat dan mampu bersaing di pasar Eropa.

Sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Reiza D Dienaputra, mengatakan, Priangan begitu dekat dengan kopi. Sampai orang-orang Sunda saat itu akrab dengan istilah ngopi. ”Saat menjamu tamu disertai ucapan, mangga ngopi…padahal yang disajikan bukan kopi. Itu saking kentalnya wilayah Priangan dengan kopi,” ujarnya.

Vlekke menuliskan, tak kalah penting ialah eksperimen yang memperkenalkan teh. Pada tahun 1826, benih teh diimpor ke Jawa dari Jepang dan ditanam di Taman Botani Buitenzorg.
”Perkembangan teh terutama ketika J Jacobson, ahli teh dari perusahaan dagang Belanda, mengimpor teh dari China, tempat dia belajar budidaya selama enam tahun,” tulis Vlekke. Tahun 1832, Jacobson kembali ke Jawa ditemani beberapa pekerja China yang ahli. Eksperimen produksi teh dilakukan di tiga kecamatan di Jawa. Permulaan kultur baru itu tidak sepenuhnya berhasil dan kebun teh sempat dipindahtangankan ke swasta. Sampai kemudian diperkenalkan varietas dari Assam tahun 1873. Varietas ini tumbuh baik di iklim Indonesia.

Tanaman kina pun diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Vlekke menyebutkan, pada tahun 1852 pohon kina pertama dibawa ke Jawa dari Paris melalui Taman Botani Leiden. Perlu waktu 13 tahun sebelum akhirnya benih subur diperoleh. Pemerintah kolonial Belanda mengirim salah satu pejabat Institut Botani Buitenzorg ke Amerika Selatan, tempat tanaman kina banyak tumbuh. Utusan itu, JK Hasskarl, kembali ke Jawa dengan 75 pohon kina untuk mengisi perkebunan pertama. Beberapa tahun kemudian, Hasskarl menyerahkan pengaturan perkebunan itu kepada rekannya, naturalis kelahiran Jerman, FW Junghuhn.

Junghuhn berpandangan perkebunan awal di Cipanas, Cibodas, dan Cibeureum tidak cocok untuk kina. Junghuhn lalu memilih deretan pegunungan Priangan seperti di Lembang dan Pengalengan sebagai tanah terbaik untuk tumbuhnya kina.
Sumber:

  • http://regional.kompas.com/read/2012/03/26/07183212/Bermula.dari.Hobi.Orang.Belanda.Berkebun

1 COMMENT

Tinggalkan Komentar Anda di Sini