Kurus Belum Tentu Kurang Makan, Bisa Juga Kelebihan Kromosom

Kurus Belum Tentu Kurang Makan, Bisa Juga Kelebihan Kromosom

0 288

Punya tubuh kurus sering memberi kesan kurang gizi, padahal sebenarnya sudah makan dengan pola yang benar. Menurut penelitian, beberapa orang memang dilahirkan untuk kurus selamanya karena memiliki kelebihan gen yang disebut gen-16.

Normalnya, seseorang mewarisi komposisi gen yang sama dari kedua orangtuanya. Namun pada beberapa orang gen-gen tertentu bisa mengalami duplikasi sehingga jumlahnya menjadi 2 kali lebih banyak, maupun penghilangan sehingga komposisinya berkurang.

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Imperial College London di Inggris dan University of Lausanne di Swiss mengungkap, komposisi gen bernomor 16 atau disebut gen-16 dapat mempengaruhi berat badan. Seseorang yang mengalami duplikasi gen tersebut akan tetap kurus meski banyak makan.

Sebaliknya pada orang yang kehilangan sebagian dari gen tersebut, berat badannya diyakini akan lebih mudah mengalami peningkatan meski pola makannya sama dengan yang lain. Akibatnya meski sudah berusaha diet, tubuhnya cenderung tetap kelihatan gemuk.

Penelitian yang melibatkan 95.000 orang tersebut mengungkap, duplikasi atau penggandaan gen-16 dialami oleh 1 dari 2.000 orang di seluruh dunia. Pada laki-laki, kondisi ini meningkatkan risiko underweight sebesar 23 kali lipat dan pada perempuan 5 kali lipat.

Underweight atau sangat kurus didefinisikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah 18,5 kg/m2. Kebalikan dari underweight adalah overweight yakni jika IMT berada pada rentang 25-29 kg/m2 atau obesitas jika IMT telah melebihi angka 30 kg/m2.

Selain meningkatkan risiko underweight, duplikasi yang membuat komposisi gen-16 terlalu banyak juga berisiko memicu microcephalus atau bentuk kepala terlalu kecil. Karena kepalanya kecil, volume otak terbatas sehingga rentan mengalami kerusakan saraf dan harapan hidupnya rata-rata lebih pendek.

“Sekitar 25 persen orang kurus yang mengalami duplikasi gen-16 juga mengalami microcephalus,” ungkap Philippe Froguel dari Imperial College London seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/9/2011).

Sumber:

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini