free web page hit counter
Aidan Dwyer, ABG 13 Tahun yang Temukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Paling Mutakhir

Aidan Dwyer, ABG 13 Tahun yang Temukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Paling Mutakhir

Gambar Aidan Dwyer, ABG 13 Tahun yang Temukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Paling Mutakhir sinar matahari pembangkit listrik tenaga matahari pembangkit listrik tenaga panel solar museum of natural history model panel matematikawan hemachandra gizmodo gaptek update gaptek energi listrik eksperimen deret bilangan dahan Bocah american museum of natural history  Aidan Dwyer memulai penelitiannya saat jalan jalan di dalam hutan dok.American Museum of Natural History2

APA yang Anda lakukan saat usia Anda 13 tahun? Apakah Anda telah melakukan hal yang sama dengan bocah yang satu ini?

Aidan Dwyer, pelajar kelas 7 asal New York menemukan sebuah alat yang dapat mengumpulkan energi listrik melalui tenaga surya.

Pembangkit listrik tenaga matahari memang bukan hal yang aneh, namun alat temuan Dwyer mampu menjaring energi listrik hingga 50% lebih besar dari pembangkit tenaga surya lainnya.

Seperti diberitakan Gizmodo, temuannya ini bermula saat dirinya tengah berjalan menyusuri hutan di musim dingin. Dwyer memperhatikan bentuk dahan di pohon-pohon yang dilaluinya. Dwyer yakin, dahan-dahan itu tidak tumbuh sembarangan, melainkan disusun mengikuti komposisi tertentu.

Gambar Aidan Dwyer, ABG 13 Tahun yang Temukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Paling Mutakhir sinar matahari pembangkit listrik tenaga matahari pembangkit listrik tenaga panel solar museum of natural history model panel matematikawan hemachandra gizmodo gaptek update gaptek energi listrik eksperimen deret bilangan dahan Bocah american museum of natural history  Pembangkit tenaga surya ciptaan Aidan mengikuti bentuk ranting pohon agar mengumpulkan sinar matahari lebih banyak dok.American Museum of Natural History1Dia kemudian mengukur sudut tumbuhnya dahan dan menemukan teori yang mengejutkan. Dahan-dahan pohon rupanya tumbuh mengikuti bilangan Fibonacci.

Bilangan Fibonacci merupakan baris angka yang diperoleh dari penambahan dua angka sebelumnya, seperti 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, dan seterusnya.

Deret bilangan ini pertama kali digunakan Gopala dan Hemachandra, matematikawan asal India di tahun 1150.

Terkejut dengan temuannya sendiri, Dwyer lalu mencari tahu apa pengaruhnya. Rupanya dengan susunan semacam itu, pohon mampu meresap sinar matahari lebih banyak bagi pertumbuhan dahannya.

Dwyer melanjutkan temuannya dengan membuat sebuah eksperimen. Dwyer membuat dua model panel solar, yang pertama dengan konsep tradisional dengan panel yang ditempatkan dalam susunan sejajar, dan yang lainnya mengikuti deret Fibonacci.

“Panel dengan desain seperti pohon mengumpulkan listrik 20% lebih banyak dan lebih lama 2,5 jam di siang hari,” ungkap Dwyer kepada American Museum of Natural History.

Hasil yang lebih mengejutkan didapat di bulan Desember, saat matahari berada di titik terendah di langit. Panel surya dengan bentuk pohon menghasilkan listrik 50% lebih banyak dan pengumpulan sinar 50 persen lebih lama.

“Hal terbaik yang saya dapat dari hal ini ialah walau di hari tergelap di musim dingin sekalipun, alam tetap menunjukkan rahasianya,” tandas Dwyer.

source: http://pangkalan-unik.blogspot.com/2011/08/aidan-dwyer-abg-13-tahun-yang-temukan.html
 
american museum of natural history Bocah dahan deret bilangan eksperimen energi listrik gaptek gaptek update gizmodo hemachandra matematikawan model panel museum of natural history panel solar pembangkit listrik tenaga pembangkit listrik tenaga matahari sinar matahari

Tinggalkan Komentar Anda di Sini

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Scroll To Top