Perpustakaan Tradisional vs Perpustakaan Elektronik

Perpustakaan Tradisional vs Perpustakaan Elektronik

0 139

Gaptek Update – Ada yang unik dari Perpustakaan Universitas Drexel di Philadelphia, Amerika Serikat. Dengan menggunakan konsep Teras Belajar, perpustakaan di kampus ini minim rak-rak berisi buku.
Sebaliknya, perpustakaan ini berisi deretan komputer dan tempat duduk, dengan akses ke 170 juta koleksi perpustakaan yang disimpan secara elektronik.

Scott Erdy, desainer perpustakaan baru ini, mengatakan konsep ruang perpustakaan yang terbuka dan fleksibel memungkinkan pengunjung untuk transfer ilmu pengetahuan. Perabot yang ada di dalam perpustakaan adalah yang mudah untuk dipindahkan. Dindingnya pun berfungsi sebagai sebuah papan tulis (whiteboard) raksasa.

Konsep ini mengambil ide dari Dekan Perpustakaan Universitas Drexel, Danuta Nitecki. “Kami tak hanya memelihara buku, kami memelihara ilmu pengetahuan,” kata Danuta.

Tren perpustakaan elektronik sebenarnya telah dimulai saat Kansas State University mencoba konsep ini pada tahun 2000. Kemudian, tahun lalu pun Universitas Stanford hanya menyisakan sekitar 10.000 koleksi cetaknya, untuk menciptakan ruang lebih lapang bagi tempat belajar yang lebih terbuka dengan koleksi elektronik.

Tapi dengan tidak adanya buku di perpustakaan, apakah itu menghilangkan esensi dari fungsi perpustakaan?

“Perpustakaan adalah tiang dari tenda penampung aktivitas sosial,” kata penulis Michael Connelly. “Banyak ide yang ditampung di dalamnya. Rubuhkan tiangnya, maka tenda itu akan hancur,” lanjutnya.  

Menurut Connelly, inspirasi bisa muncul dengan menelusuri rak-rak buku. Ini juga yang membantu Connelly mendapatkan ide untuk menulis. “Apa ini bisa dilakukan di perpustakaan tanpa buku? Saya rasa tidak,” ucap penulis buku The Fifth Witness ini.

Namun, Steven Holl, arsitek salah satu perpustakaan di Queens, New York, berpendapat, buku memang memiliki karakter. Ini pun bisa berpadu dengan baik dengan teknologi.

“Menempatkan digital dan mengaitannya dengan sejarah dan kehadiran buku menjadikan perpustakaan jadi tempat menarik,” kata Holl. “Buku mewakili pengetahuan dan menciptakan keseimbangan (dengan memadukan dengan teknologi) di perpustakaan adalah hal yang baik.”

Menanggapi ini, Perpustakaan Publik New York pun sudah mengantisipasi integrasi buku secara tercetak, dengan sistem elektronik digital. Arsitek Norman Foster mengatakan, keduanya akan ditempatkan di ruang fleksibel yang terbuka terhadap perubahan.

Perpustakaan Tradisional Bakal Punah?
Sumber:

NO COMMENTS

Tinggalkan Komentar Anda di Sini